Denpasar –
SMP 1 Muhammadiyah Denpasar tampil sebagai oase hijau di tengah hiruk pikuk Kota Denpasar. Meski memiliki keterbatasan lahan, warga sekolah mampu memaksimalkan sumber daya yang tersedia demi menciptakan lingkungan yang sehat.
Tak adanya petugas kebersihan khusus. Setiap siswa dan guru bertanggung jawab atas sampah sisa konsumsi masing-masing. Sampah organik dimasukkan ke teba modern, sementara anorganik dimasukkan ke kotak pemilihan yang terdiri dari 7 kategori, yakni PET, LDPE, HDPE, PP, PS, B3, dan OTHER.
Kebiasaan tersebut merupakan penerapan dari kurikulum perubahan iklim yang mana diselipkan dalam mata pelajaran maupun ekstrakurikuler seperti agro school dan changemaker yang saling terintegrasi.
Kepala SMP 1 Muhammadiyah Denpasar, Mely Noor Rohmah, menyampaikan bahwa dirinya merasa tertantang untuk melakukan perubahan sejak mengemban posisi sebagai kepala sekolah pada 2021 silam. Untuk itu, ia menganalisis kekuatan dan kelemahan yang dimiliki sekolah yang mengedepankan keimanan dan taqwa itu.
“Cita-cita untuk menjadikan sekolah kami hijau, sekolah adiwiyata. Kami mendapat semangat dari pimpinan pusat untuk menjadi sekolah pembaharu. 2022 diawali ikut pelatihan 5R bersama Ashoka Indonesia dan diminta membuat rencana aksi. Kami terpilih menjadi salah satu rencana aksi terbaik se-Indonesia. Dari situ membuat gerakan-gerakan lain,” cerita Mely ditemui Rabu (28/1/2026).
Mely mengatakan bahwa perjalanan yang ditempuh tidak mudah. Siswa tingkat menengah itu disadari Mely belum tertib membuang sampah meski sudah disediakan tong sampahnya. Bahkan sampah berujung tercampur dan berbau tidak sedap. Walhasil, transformasi radikal dilakukan dengan menghilangkan bak sampah dan siswa dituntut memilahnya.
Tak seperti membalikkan telapak tangan, Mely mulai dengan cara yang paling sederhana. Tong bekas oli digunakan sebagai wadah tiap jenis sampah. Kemudian, sampah organik diolah menjadi pupuk untuk aktivitas berkebun dari agro school. Sementara, sampah anorganik dikelola kembali menjadi karya seni dalam mata pelajaran kesenian.
Seiring waktu, SMP 1 Muhammadiyah Denpasar terus mengembangkan diri dalam upaya ramah lingkungan ini hingga membentuk kurikulum perubahan iklim pada 2024 akhir. Baru pada September 2025, SMPN 1 Muhammadiyah Denpasar memiliki teba modern.
Tong komposter tergantikan karena mudah korosi. Berbeda dengan teba modern yang punya ketahanan yang lama dan berukuran lebih besar. Sebanyak 392 siswa yang dimiliki SMPN 1 Muhammadiyah Denpasar rutin menaruh sisa makanan ke dalam teba modern serta melakukan pengadukan dan penyiraman sesekali untuk mempercepat pembusukan.
Setiap siswa diedukasi pula untuk bergaya hidup berkelanjutan dengan membawa tumblr dan wadah makan ke sekolah. Guru juga rutin mengadakan wicara pagi dan siang untuk memastikan siswa mengelola sampah mereka dengan baik.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Sekolah kami meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai. Makanan di kantin bisa titipan dari guru, staf, hingga orang tua siswa. Namun, kami syaratkan tidak pakai plastik,” imbuh Mely.
Mely mengarahkan supaya makan dikemas menggunakan daun dan kertas. Air minum pun diakses dari dispenser yang diletakkan di depan kantin. Dalam sehari, warga SMPN 1 Muhammadiyah bisa menghabiskan 5-6 galon air minum.
SMPN 1 Muhammadiyah Denpasar masih terus berproses. Mely mengungkapkan tantangan yang dihadapi kini adalah supaya siswa terus bergaya hidup berkelanjutan pada tahap pendidikan selanjutnya maupun ketika berada di lingkungan rumah dan masyarakatnya.
“Walaupun kebiasaan ini baru di SMP 1 Muhammadiyah Denpasar, tapi bersyukurnya mereka yang lanjut ke SMA 1 Muhammadiyah Denpasar, kami lihat alumninya lanjut bawa tumbler dan kotak makan. Tapi, masih jadi PR bagi kami supaya kebiasaan ini diimbaskan,” tutur Mely.
Mely sedang dalam pembicaraan supaya SMA 1 Muhammadiyah Denpasar dan SMK 1 Muhammadiyah Denpasar bisa bergandeng tangan untuk menjalankan program memilah sampah dan bergaya hidup berkelanjutan. Sebab, mereka berada dalam satu lingkungan sekolah yang sama dengan SMP 1 Muhammadiyah Denpasar.
Siswa SMP 1 Muhammadiyah Denpasar juga membawa pulang kebiasaan baik ini ke rumahnya. Mely berkata bahwa para orang tua rajin menyetor sampah plastik ke bank sampah yang berada di banjar-banjar. Guru dan staf diketahui Mely membuat biopori berukuran kecil di rumahnya masing-masing.
Selain itu, karena berlokasi di Lingkungan Dauh Puri Klod, Kecamatan Denpasar Barat, SMP 1 Muhammadiyah Denpasar juga terlibat aktif kegiatan banjar. Sebulan sekali, warga sekolah ikut kerja bakti banjar. Bahkan pada saat upacara besar, sekolah akan diliburkan guna memberikan ruang umat Hindu beribadat di pura desa yang berdampingan dengan sekolah.
