Lombok Utara –
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) RI Provinsi Nusa Tenggara Barat melaporkan hasil pemantauan rukyat hilal dari Gedung Pusat Observasi Bulan (POB) Desa Teniga, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, Selasa (17/2/2026).
Pemantauan dilakukan bersamaan dengan sidang terbuka penentuan awal 1 Ramadan yang dipimpin Pengadilan Agama Giri Menang.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Kepala Kanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan menggunakan teleskop, posisi hilal berada pada minus 1,268 derajat.
“Ini pertama kali kami laksanakan pemantauan hilal di Lombok Utara. Dan tentu hasilnya sudah disampaikan dan sudah disidang secara terbuka,” kata Zamroni seusai melaksanakan pemantauan hilal di POB Lombok Utara, Selasa (17/2/2026).
Dalam sidang terbuka tersebut, perkara isbat menghadirkan tiga saksi pemantau rukyat hilal. Ketiganya berasal dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), tim observer Fakultas Ilmu Falak UIN Mataram, dan BMKG Mataram.
“Dari kesaksian tersebut ditemukan berdasarkan kesaksian oleh para saksi yang sudah disumpah sebelumnya menyatakan bahwa hilal tidak terlihat,” katanya.
Zamroni menjelaskan, berdasarkan perhitungan, posisi bulan berada pada minus 1 derajat. Sementara itu, hilal dapat terlihat apabila berada pada ketinggian minimal 3 derajat.
“Apapun hasil yang kami hasilkan hari ini, kami laporkan ke Kementerian Agama Pusat sebagai bahan untuk sidang isbat secara nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, penentuan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah tetap menunggu keputusan Kemenag RI melalui sidang isbat tingkat nasional.
“Tentu tadi sudah digambarkan, sudah disampaikan oleh dari pengadilan agama. Kami, tentu nanti kita tunggu keputusan pemerintah. Yang jelas apapun yang kami hasilkan tadi, kami sudah kirim ke Kementerian Agama sebagai rujukan sidang isbat di tingkat nasional,” tandas Zamroni.
Kepala BMKG Kelas I Mataram Sumawan menyampaikan, hasil pemantauan di Gedung POB Desa Teniga menunjukkan selisih waktu tenggelam bulan dan matahari berbeda empat menit.
“Bulan lebih dulu tenggelam 4 menit baru diikuti matahari,” katanya.
Ia menambahkan, tingkat iluminasi bulan berada pada angka 0,02 persen. Dengan kondisi tersebut, hilal dinilai sangat tidak mungkin terlihat pada Selasa, 17 Februari 2026.
“Walaupun cuaca berawan. Pasti akan terlihat kalau memang tinggiannya memenuhi syarat 3 derajat,” katanya.
Selain itu, posisi azimuth bulan berada lebih ke kiri dari matahari sebesar 256 derajat. Kondisi tersebut menyebabkan teleskop tidak mampu memantau bulan secara optimal.
“Ya, agak terhalang di sini oleh pohon karena sebelah kiri kan bukit, jadi kebetulan posisi bulan agak ke kiri. Jadi memang sulit untuk bisa melihat,” katanya.
Sumawan memastikan, BMKG Mataram akan kembali melakukan pemantauan hilal di Pantai Loang Baloq, Mataram, untuk memastikan data ketinggian hilal pada Rabu, 18 Februari.
“Kami tetap harus mendapatkan data posisi bulan,” tandas Sumawan.
