Kawasan Pecinan Bali, Jejak Etnis Tionghoa di Denpasar dan Singaraja

Posted on
Daftar Isi

Denpasar

Penduduk di Pulau Bali mayoritas beragama Hindu. Namun, warga yang tinggal di Pulau Dewata juga yang berasal dari etnis lain, salah satunya adalah etnis Tionghoa.

Terdapat dua kawasan yang dikenal sebagai pecinan atau pemukiman keturunan Tionghoa, yakni kawasan Gajah Mada di Denpasar dan Kota Singaraja di Buleleng.

Berikut ulasannya lengkapnya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Kawasan Pecinan Gajah Mada

Pengguna jalan melintas di bawah lampion Imlek yang dipasang sepanjang jalan di Denpasar, Bali, Kamis (16/1/2025). Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali memasang ratusan lampion di kawasan cagar budaya tersebut untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo Foto: ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO

Kawasan Gajah Mada bukan hanya pemukiman tetapi juga tempat perdagangan terbesar di Denpasar. Sepanjang kawasan ini berdiri pertokoan yang menjajakan banyak dagangan, mulai dari pakaian, obat-obatan, hingga kedai kopi.

Arsitektur kawasan pecinan ini tidak begitu kentara dibanding pecinan di daerah lainnya. Namun, nuansa lawas tetap terjaga dari bentuk bangunannya. Papan nama toko yang terpampang juga mendukung suasana vintage karena elemen visual yang ditampilkan.

Area untuk pedestrian atau pejalan kaki di sini sebetulnya cocok untuk kawasan tropis karena diatapi oleh bangunan toko. Kini banyak halangan untuk berjalan di trotoar kawasan Gajah Mada.

Pejalan kaki yang lewat seringkali harus melipir dan akhirnya bersinggungan dengan kendaraan pribadi. Jalan di kawasan ini pada jam-jam tertentu terkadang ramai hingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Klenteng Sing Bie juga bertempat di kawasan ini. Umat dari kalangan manapun dapat dengan leluasa mengunjungi tempat ibadah yang memiliki Dewa Kwan Kong sebagai tuan rumah utama.

Pura Taman Sari di Kawasan Gajah Mada memiliki pelinggih yang dicat merah dan memiliki persembahan tertentu. Hal ini didasari karena saat masa Orde Baru, keturunan Tionghoa dibatasi dalam beribadah dan masyarakat memperkenankan mereka untuk ibadah di pura tersebut.

Kawasan Pecinan Singaraja

Rumah Besar Kapitan Lie Ing Tjie di Jalan Pulau Bali, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, Bali, Rabu (29/1/2025). (Made Wijaya Kusuma) Foto: Rumah Besar Kapitan Lie Ing Tjie di Jalan Pulau Bali, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, Bali, Rabu (29/1/2025). (Made Wijaya Kusuma)

Kawasan pecinan yang satu ini mungkin tidak seterkenal Kawasan Gajah Mada Denpasar, tetapi memiliki sisi historis dan ekonomis yang kuat. Kawasan Pecinan Singaraja berada di Jalan Erlangga, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng. Lokasinya berdekatan dengan Pelabuhan Buleleng.

Keberadaan pelabuhan mendorong pertumbuhan penduduk, sebab tempat ini menjadi gerbang bagi etnis lain seperti Tionghoa, Arab, dan Eropa datang ke Bali.

Sama seperti di Kawasan Gajah Mada, Pecinan Singaraja merupakan pemukiman dengan deretan rumah toko (ruko). Sebagian ruko merupakan bangunan berlantai dua dan sebagian lagi hanya berlantai satu. Area depan yang menghadap jalan digunakan sebagai toko jualan sementara area lain untuk hunian.

Ada yang menarik dari arsitektur yang ada kawasan ini. Gedung-gedung di sini memiliki corak pahatan yang berada di bagian fasad dan terletak di atas. Perpaduan tersebut merupakan bentuk penyatuan arsitektur lokal dengan Tionghoa.

Selain kawasan berdagang dan hunian, terdapat sarana peribadatan bagi masyarakat pecinan. Klenteng Ling Gwan Kiong menjadi tempat ibadah yang dibangun sejak 1873 dan dominan berwarna merah serta emas.

Area klenteng dibagi menjadi tiga halaman yang masing-masing dipisahkan oleh gapura. Bangunan utama terletak di halaman dalam dan diapit oleh tempat untuk membakar dupa.

Jejak lain adalah adanya rumah Kapitan Lie Ing Tjie. Rumah ini bergaya arsitektur China yang merupakan seorang pejabat jaman kolonial Belanda pada saat itu.

Awal kedatangannya, Lie hanya seorang tukang cukur. Setelah tinggal di Buleleng, Lie memiliki langganan orang kaya yang tinggal di dekat kawasan yang dikenal saat ini sebagai Eks Pelabuhan Buleleng.

Lie pun jatuh hati dengan anak orang kaya tersebut yang dikenal sebagai Mak Gunung. Dia merupakan seorang janda anak satu. Dengan mahar emas seberat satu buah kelapa, Lie menikahi wanita tersebut.

Dengan keuletan dan ketekunan dalam bekerja, menghantarkan Lie pada kesuksesan. Kabar kesuksesannya pun didengar oleh Pemerintah Belanda saat itu. Pemerintah Belanda kemudian mengangkat Lie sebagai Kapitan.