Manggarai Barat –
Kantor baru Desa Batu Cermin di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhirnya diresmikan, Sabtu (14/2/2026). Pembangunan kantor desa yang tergolong megah ini menggunakan uang pribadi dalam bentuk hibah dari keluarga Kepala Desa Batu Cermin, Marianus Yono Jehanu, sebanyak Rp 1,1 miliar lebih.
Pembangunan kantor baru Desa Batu Cermin ini sebelumnya viral di media sosial lantaran menggunakan uang pribadi Yono. Kantor baru Desa Batu Cermin itu diresmikan Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi.
“Pembangunan gedung ini didanai oleh hibah pribadi dari orang tua saya,” kata Yono dalam sambutannya.
Kantor Desa Batu Cermin itu berukuran 17×20 meter. Kantor desa itu berwarna putih dengan sedikit kelir kuning. Konsep bangunan itu menyerupai Istana Negara Republik Indonesia dengan lima pilar (tiang) di bagian depannya.
Yono mengatakan pembangunan kantor baru Desa Baru Cermin itu mewujudkan janji politiknya saat mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Batu Cermin. Yono memimpin Desa Baru Cermin sejak 2023.
“Sebagai komitmen pribadi saya saat mencalonkan diri Kepala Desa Batu Cermin,” ujar dia.
Proses pembangunan dilaksanakan dalam waktu delapan bulan, dengan proses penyelesaiannya berjalan hampir satu tahun. Yono mengatakan pembangunan kantor baru Desa Batu Cermin untuk efisiensi dan efektivitas pelayanan kepada masyarakat, memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan di Desa Batu Cermin, dan meningkatkan motivasi dan kinerja perangkat desa.
“Harapannya, kami bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat desa Batu Cermin dan Desa Batu Cermin dapat menjadi cermin bagi desa-desa lain di Manggarai Barat demi terwujudnya ‘Mabar Bangkit menuju Mabar Semakin Mantap’,” tandas Yono.
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengakui kantor Desa Batu Cermin itu yang terbaik di Manggarai Barat. Ia berharap bukan hanya kantornya yang mentereng tapi juga pelayanan kepada masyarakat. “Jangan hanya gedungnya yang mentereng tapi pelayanannya harus lebih mentereng,” ujar Edi Endi.
Sebelumnya, Yono mengaku merogoh kocek sendiri membangun kantor desa itu karena dana desa tak tersedia untuk membangun kantor desa. Keterbatasan dana desa, dia berujar, terjadi di seluruh desa.
“Ini didasari anggaran dana desa terbatas, bukan hanya saya, seluruh kepala desa di seluruh Indonesia. Anggaran dari 2023 sejak saya menjabat sampai tahun 2025 ini terbatas,” kata Yono saat menginformasi pembangunan kantor desa itu menggunakan uang pribadinya, Selasa (27/12/2025).
Pria yang berlatar belakang pengusaha hotel di Labuan Bajo ini menjelaskan dan desa sudah diatur penggunaannya sesuai ketentuan yang berlaku. Sebanyak 60 persen alokasi anggaran dana desa sudah diatur oleh pemerintah pusat yang tak bisa diutak-atik oleh kades. Adapun, 40 persen sisanya untuk pembangunan infrastruktur.
