Gianyar –
Silih berganti umat Tri Dharma berdatangan untuk merayakan Tahun Baru Imlek di Vihara Amurva Bhumi, Blahbatuh, Gianyar, Bali. Salah satu prosesi yang dilakukan dalam persembahyangan itu adalah membakar uang.
Tumpukan uang yang dibakar bukanlah uang pecahan rupiah. Melainkan lembaran kertas berwarna emas yang digunakan sebagai sarana ritual di kongco. Dewa Bumi menjadi sosok yang dimuliakan di Vihaaara Amurva Bhumi.
“Itu uang kertas emas. Setiap kelenteng pasti ada. Tapi, di Vihara Amurva Bhumi ini memang dewa tunggal, Dewa Bumi,” kata Pengurus Vihara Amurva Bhumi, Hari Wijaya, saat ditemui, Selasa (17/2/2026).
Umat yang masuk ke area wihara memulai persembahyangan di ruangan kongco yang terletak di sisi selatan, tepat di depan pintu masuk utama. Setelah selesai di kongco, umat melanjutkan sembahyang di dua tempat persembahyangan wihara yang terletak di sisi utara.
Setelah itu, mereka menyiapakan lembaran uang kertas emas untuk dihaturkan dengan cara dibakar. Prosesi bakar uang kertas emas itu dilakukan di tungku khusus mirip bangunan pagoda atau disebut Kim Luo, dalam dialek Hokkien.
“Kertas emasnya disebut Kimcua. Kim itu artinya emas,” kata Hari.
Tidak ada batasan lembar uang kertas emas yang dipersembahkan kepada Dewa Bumi. Lembaran uang kertas emas itu dihaturkan sesuai kemampuan masing-masing umat.
“Tidak mengikat. Karena itu simbol dari hati yang dipercayai semakin banyak memberi, semakin banyak dia menerima. Konsepnya seperti itu,” imbuh Hari.
Hari mengatakan warga keturunan Tionghoa biasanya memiliki stok uang kertas emas untuk sembahyang. Mereka selalu membawa uang kertas emas dari rumah masing-masing saat pergi ke kelenteng atau kongco. Meski begitu, setiap wihara atau kongco juga sudah menyediakan uang kertas emas bagi umat yang tidak membawa.
Selain uang kertas emas, ada juga uang kertas perak yang dihaturkan untuk leluhur atau para orang tua yang sudah meninggal. Berbeda dengan uang kertas emas, uang kertas perak tidak dibakar di kongco atau kelenteng.
Salah satu umat asal Denpasar, Amanda Yuniari, berharap diberikan kelancaran rezeki dan keselamatan pada Tahun Baru Imlek 2026. Dia percaya bahwa menghaturkan uang kertas emas kepada Dewa Bumi akan menjadi bekal amal di kehidupan yang akan datang.
“Selain untuk menghormati (Dewa Bumi) juga sebagai bekal di sana (setelah meninggal) nanti,” kata Amanda.
