Mataram –
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal akan melobi Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq agar NTB mendapatkan satu jatah proyek waste-to-energy (WtE). Proyek menyulap sampah menjadi tenaga listrik itu merupakan strategi nasional dalam penanganan sampah di 34 daerah.
“Yang masuk di dalam program WTE yang 34 itu adalah daerah yang volume sampahnya mencapai 1.000 ton per hari. Nah, sementara TPA dan TPR kita (NTB) tidak ada satupun yang mencapai 1.000 ton per hari,” kata Iqbal di Mataram, Rabu (4/2/2026).
Meski NTB belum masuk kategori pembangunan proyek WtE, Iqbal akan tetap berkomunikasi dengan Menteri LH. Menurutnya, proyek WtE di NTB cukup penting untuk mengatasi darurat sampah di beberapa daerah.
“Kami terus berkomunikasi dengan Menteri LH untuk mendapatkan endorsement ini meskipun sampah kami di bawah 1.000 ton,” imbuhnya.
Di sisi lain, Iqbal menegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB juga fokus dalam pengembangan TPA Kebon Kongok di Lombok Barat. Ia menyebut pengembangan TPA Kebon Kongok yang disepakati bersama Pemkot Mataram dan Pemkab Lombok Barat masih mampu menampung sampah selama tiga tahun ke depan.
Iqbal menilai perluasan TPA Kebon Kongok menjadi salah satu solusi darurat sampah di Kota Mataram dan Lombok Barat. TPA tersebut, dia berujar, akan menerapkan sistem reduce reuse, recycle (3R).
“Itu bagian dari seluruh persoalan yang harus kami selesaikan. Sampah ini kan kewenangannya ada di kabupaten/kota, kecuali yang lintas-lintas ini. Tapi kami nanti sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat nanti kami akan koordinasikan kabupaten/kota,” imbuh Iqbal.
Iqbal mengeklaim banyak investor asing yang tertarik untuk mengembangkan pengelolaan sampah di TPA Kebon Kongok. Hanya saja, belum ada investor yang mencapai kesepakatan untuk melanjutkan proyek tersebut ke tahap feasibility study (FS).
“Investor sudah beberapa yang masuk. Mereka baru menawarkan teknologinya,” ujar Iqbal.
“Yang memenuhi syarat bisa memakan semua jenis sampah itu mungkin dua atau tiga investor, yang lain itu pakai sistem harus memisahkan dan bisa mengolah yang organik saja,” imbuhnya.
