Harga Cabai di Denpasar Tembus Rp 104 Ribu per Kg, Ini Penyebabnya - Giok4D

Posted on

Denpasar

Harga cabai rawit merah di Kota Denpasar sempat menembus Rp 104 ribu per kilogram pada awal bulan puasa, Jumat (20/2/2026). Kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan yang tidak diimbangi pasokan akibat cuaca ekstrem.

Pedagang di Pasar Badung mengaku kesulitan memprediksi pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan. Kondisi panen yang terganggu hujan membuat pasokan dari Jawa tersendat.

“Nggak ngerti kalau sekarang, besok bisa naik bisa turun. Karena hujan, panennya gagal. Petani nggak bisa metik. Kan dari Jawa, kalau dari Bali lebih mahal biasanya,” tutur Nyoman Wandri, salah satu pedagang di Pasar Badung, Denpasar, Senin (23/2/2026).

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Wandri menyebut, biasanya pemasok membawa hingga 10 kresek cabai. Namun, saat ini pasokan hanya dua hingga tiga kresek atau sekitar 30 kilogram. Kondisi itu membuat pembeli menyesuaikan jumlah belanja dengan kemampuan masing-masing.

Berdasarkan data Harga Rata-Rata Bahan Pokok (Bapok) dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar, harga cabai rawit merah mulai naik sejak 18 Februari 2026. Saat itu, harga tercatat Rp 91,6 ribu per kilogram, kemudian meningkat menjadi Rp 95,6 ribu pada 19 Februari.

Saat ini, harga cabai rawit merah tercatat mulai turun ke angka Rp 87 ribu per kilogram.

Selain cabai rawit merah, harga daging ayam juga mengalami kenaikan menjadi Rp 43 ribu-45 ribu per kilogram.

“Ayam kemarin sempat naik karena harga bibit ayam yang naik dan harga pakan yang juga naik, ditambah permintaan meningkat,” tutur Kontributor SP2KP Puspa Sari Dewi.

Menurut pantauan Unit Bina Usaha Sewakajaya Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Sewakadarma, kenaikan harga cabai tergolong tinggi meski diimbangi minat beli masyarakat yang tetap besar. Subsidi sebesar Rp 3 ribu per kilogram masih rutin diberikan.

“Mungkin ada beberapa pembeli yang mengurangi porsi pemakaian cabai dan ada juga yang beralih ke cabai kering atau bubuk cabai,” jelas Kepala Sub Unit Bina Usaha Sewakajaya Perumda Pasar Sewakadarma Ni Made Sartini.