Badung –
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mendorong kolaborasi strategis antara Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) dengan PT Food Station Tjipinang Jaya untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan beras serta optimalisasi sarana produksi di Rice Milling Unit (RMU) MGS.
“Sinergi ini adalah langkah konkret untuk memastikan ketersediaan pangan dan stabilitas harga di Badung. Dengan dukungan teknologi dan jaringan dari Food Station Jakarta, diharapkan RMU bisa beroperasi lebih maksimal untuk kesejahteraan petani lokal,” ujar Adi Arnawa di Kantor Unit Pengelolaan Pangan RMU Perumda MGS, Kamis (5/2/2026).
Direktur Utama Perumda MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, menjelaskan bahwa kemitraan ini bertujuan untuk mengisi pangsa pasar Food Station yang sudah ada di Bali dengan produk lokal. Pihaknya ingin menyerap gabah petani Badung secara maksimal guna memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan pasar modern dan jaringan ritel.
“Kami ingin menjadi mitra mereka untuk pemenuhan kebutuhan market di Bali yang transaksinya mencapai Rp 1 miliar per bulan. Targetnya kami bisa beroperasi bertahap mulai dari dua shift hingga nanti optimal 24 jam dengan kapasitas produksi 600 ton beras per bulan,” kata Kompiang Gede Pasek Wedha.
Guna memastikan pasokan bahan baku, Perumda MGS berencana melakukan rembug warga dengan para kelian subak dan pekaseh di wilayah Badung. Pola serap gabah akan dilakukan melalui kesepakatan harga yang mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) serta melibatkan delapan mitra RMU yang sudah ada.
“Kami akan rembuk dengan subak untuk memastikan kecukupan gabah, karena untuk memproduksi 500 ton beras dibutuhkan sekitar 1.000 ton gabah. Ke depan kami tidak bisa sendiri, harus kolaborasi juga dengan daerah tetangga seperti Tabanan dan Gianyar untuk membangun ketahanan pangan Bali,” imbuh Kompiang.
Selain komoditas beras, kolaborasi antar-BUMD ini diproyeksikan berkembang ke produk pangan lain seperti minyak goreng, gula, telur, hingga susu. Langkah ini diharapkan mampu memangkas rantai pasok yang panjang sehingga harga di tingkat konsumen tetap terkendali meskipun tantangan cuaca membayangi produksi pertanian.
“Meskipun Food Station di Jakarta tidak punya lahan luas, mereka menguasai pasar nasional dan kami harus banyak belajar mengenai standar yang mereka miliki. Selama cuaca mendukung, kami optimis stok pangan aman dan kolaborasi hilirisasi ini bisa berjalan dari hulu sampai ke konsumen,” tutup Kompiang.
Kebutuhan beras di Bali saat ini masih mengalami defisit yang cukup besar berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). PT Food Station Tjipinang Jaya melihat potensi besar di Badung, terutama untuk menyasar sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) yang menjadi tulang punggung pariwisata.
“Kebutuhan beras di Bali mencapai 550.000 ton per tahun dan masih ada minus sekitar 900 ton sebulan yang biasanya ditambal dari Jawa Timur atau NTB. Kami ingin meningkatkan volume penjualan hingga Rp 20-30 miliar per bulan sekaligus mengambil peluang dari kebutuhan program Makan Bergizi Gratis,” jelas Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo.
