Kinerja ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mengalami penurunan. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat nilai ekspor Januari hingga November 2025 terus menurun, hingga 56,19 persen, atau mencapai US$ 1.063.805.131, dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Pada periode sebelumnya, Januari-November 2024, ekspor NTB mencapai US$ 2.428.464.601. “Nilai ekspor NTB pada Januari-November mencapai US$ 1063,81 juta atau turun 56,19 persen,” kata Kepala BPS NTB Wahyudin, seusai rilis perkembangan ekspor impor di kantornya, Senin (5/1/2025).
“Adapun kelompok komoditas ekspor yang terbesar pada Januari-November 2025 adalah tembaga sebesar US$ 544 juta atau sekitar 51,16 persen, kemudian ada perhiasan/permata sebesar US$ 288 juta (27,07 persen). Kemudian disusul barang galian/tambang nonmigas US$ 194 juta (18,27 persen). Lalu ada ikan dan udang US$ 21 juta (2,04 persen), dan daging ikan olahan US$ 6,3 juta (0,59 persen),” tuturnya.
Di sisi lain, Wahyudin menjelaskan, nilai ekspor NTB pada November 2025 mencapai US$ 327,84 juta. Dari kelompok ekspor di bulan November, barang galian/tambang non migas jadi komoditas ekspor terbesar, yakni US$ 194 juta (59,28 persen), dengan tujuan Cina dan Jepang.
“Ekspor paling besar pada November 2025 ditujukkan ke Tiongkok (50,54 persen), Swiss (19,56 persen), Jepang (18,42 persen), Malaysia (4,94 persen), Korea Selatan (2,15 persen), Vietnam (1,32 persen), Taiwan (0,99 persen), Amerika (0,73 persen), Thailand (0,67 persen), dan negara lainnya (0,67 persen),” tuturnya.
Dari sisi impor, BPS NTB mencatat ada sejumlah komoditas yang masuk pada November 2025, antara lain, karet dan bawang dari karet sebesar US$ 5,6 juta atau sekitar 42,99 persen. Kemudian disusul mesin/peralatan listrik US$ 4,4 juta (33,93 persen), kendaraan dan bagiannya US$ 915 ribu (6,91 persen), produk kimia US$ 815 ribu (6,18 persen), mesin-mesin/pesawat mekanik US$ 707 ribu (5,34 persen).
“Impor November 2025 terbesar berasal dari Jepang (42,89 persen), Jerman (32,54 persen), Amerika Serikat (11,24 persen), Singapura (6,90 persen), Malaysia (3,41 persen), dan Australia (3,01 persen),” kata Wahyudin.
Berdasarkan data BPS, nilai impor pada Januari-November 2025 alami penurunan hingga 73,79 persen, atau mencapai US$ 220,18 juta, dibandingkan periode sebelumnya.
Ekspor Bali juga Merosot
Lesunya ekspor sepanjang tahun lalu juga dialami Bali. Penurunan ekspor terendah terjadi pada kinerja ekspor ke Australia sebesar -18,52%. Penurunan ini dipicu menurunnya ekspor produk logam mulia, perhiasan, dan permata.
“Untuk ke Australia, secara kumulatif, Januari sampai dengan November, nilai ekspor ke Australia secara kumulatif mencapai USD 42,92 juta,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan saat memaparkan laporan BPS terkini, Senin.
Realisasi ekspor ke Australia juga berbanding lurus dengan impor Bali dari Negeri Kanguru yang tercatat minus, yakni -14,86%. Produk yang menjadi sebab turunnya statistik impor Australia ke Bali adalah produk mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya.
“Dari Australia, tercatat turun, sampai dengan November mencapai USD 9,41 juta,” tambah Hermawan.
Meski begitu, terdapat Jerman yang mendominasi peningkatan ekspor-impor Bali. Tercatat, ekspor mengalami kenaikan hingga 15,72% dan impor sebanyak 17,84%. Barang atau produk yang menjadi komoditas ekspor Bali ke Jerman adalah pakaian.
