Doa Malam Nisfu Syaban yang Dianjurkan MUI, Ini Bacaan dan Waktunya

Posted on
Daftar Isi

Denpasar

Malam Nisfu Syaban menjadi momentum kita kembali kepada Allah SWT. Malam yang dipenuhi dengan momen refleksi dengan melantunkan doa-doa mustajab.

Namun kita tidak sendiri, Allah bersama mereka yang mengadu dan meminta pertolongan kepada-Nya. Maka, malam nisfu syaban sangat direkomendasikan untuk memanjatkan doa atas pengampunan diri dan permintaan yang kita inginkan.

Apa saja doanya dan kapan waktunya? Simak artikel berikut ini yang dilansir dari berbagai sumber.

Apa Doa yang Dibaca Saat Malam Nisfu Syaban?

Doa yang umum dibaca pada malam Nisfu Syabanad dilansir dari situs Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah doa yang diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Mas’ud ra. Menurut keterangan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, doa ini tercantum dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan kitab ad-Du’a karya Ibnu Abi ad-Dunya.
Dalam penjelasannya, Ibnu Mas’ud menyebutkan bahwa siapa pun yang mengamalkan doa ini, Allah akan melapangkan rezekinya dan mencukupi segala kebutuhannya.

Dalam praktik di Indonesia, redaksi doa yang dibaca memang sedikit berbeda dari versi yang tertulis dalam kitab-kitab klasik. Namun perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan, karena doa pada hakikatnya tidak dibatasi oleh satu redaksi tertentu, selama isinya berisi permohonan kebaikan dan penghambaan kepada Allah.

Masyarakat Indonesia umumnya merujuk pada redaksi doa yang terdapat dalam kitab Maslakul Akhyar karya Syekh Sayyid Utsman bin Yahya (Mufti Betawi). Doa ini berisi permohonan agar Allah menghapus catatan keburukan, kesempitan rezeki, dan kesialan dari Lauh Mahfuzh, lalu menggantinya dengan kebahagiaan, kelapangan rezeki, serta taufik untuk berbuat kebaikan.

Inti dari doa Nisfu Syaban adalah harapan akan perubahan nasib menuju kebaikan, ampunan, dan keberkahan hidup di dunia maupun akhirat. Inilah doanya:

اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ

Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in’ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su’adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.

Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, hal. 77-80)

Kapan doa Nisfu Syaban Dibaca?

Doa Nisfu Syaban dibaca pada malam 15 bulan Syaban, yaitu setelah Magrib hingga sebelum Subuh. Tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia, doa ini biasanya dibaca setelah membaca Surat Yasin.

Pada malam Nisfu Syaban, Surat Yasin umumnya dibaca sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda, yaitu:

1. Yasin pertama diniatkan agar diberi umur panjang dalam ketaatan kepada Allah.

2. Yasin kedua diniatkan agar diberikan rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan.

3. Yasin ketiga diniatkan agar dianugerahi husnul khatimah serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Panduan Doa Nisfu Sya’ban

Dilansir dari Baznaz, berikut langkah-langkah dan tata cara dalam melaksanakan panduan doa Nisfu Sya’ban agar ibadah Anda lebih terarah dan maksimal:

1. Melaksanakan Shalat Sunah Pada malam Nisfu Sya’ban, dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunah seperti shalat tahajud dan shalat hajat. Shalat ini dapat diikuti dengan doa khusus sesuai panduan doa Nisfu Sya’ban.

2. Membaca Surat Yasin Salah satu amalan yang dianjurkan pada malam Nisfu Sya’ban adalah membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali. Setiap kali selesai membaca, disertai dengan doa yang berbeda:

o Niat pertama untuk memohon panjang umur dalam ketaatan kepada Allah.
o Niat kedua untuk memohon rezeki yang halal dan berkah.
o Niat ketiga untuk memohon pengampunan dosa.

3. Memperbanyak Istighfar Istighfar adalah salah satu amalan yang dianjurkan dalam panduan doa Nisfu Sya’ban. Ucapkan “Astaghfirullah wa atubu ilaih” sebanyak mungkin untuk memohon ampun kepada Allah.

4. Berdoa dengan Khusyuk Doa adalah inti dari ibadah malam Nisfu Sya’ban. Dalam panduan doa Nisfu Sya’ban, doa-doa yang dipanjatkan hendaknya mencakup permohonan ampunan, keberkahan hidup, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.

5. Menjaga Kebersihan Hati Selain doa, penting untuk membersihkan hati dari dendam, iri, dan kebencian. Hal ini menjadi bagian penting dari panduan doa Nisfu Sya’ban karena amalan kita akan lebih mudah diterima jika hati dalam keadaan bersih.

Hikmah dan Manfaat Melaksanakan Doa Nisfu Sya’ban

Melaksanakan panduan doa Nisfu Sya’ban tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga membawa hikmah yang mendalam bagi kehidupan seorang Muslim:

1. Mendapatkan Ampunan Dosa Dengan berdoa dan bertaubat pada malam ini, seorang Muslim dapat menghapus dosa-dosanya dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

2. Meningkatkan Keimanan Malam Nisfu Sya’ban adalah momen untuk merenungkan kekuasaan Allah dan meningkatkan keimanan kepada-Nya.

3. Menguatkan Hubungan dengan Allah Doa adalah cara seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan mengikuti panduan doa Nisfu Sya’ban, hubungan spiritual kita dengan Allah akan semakin kuat.

4. Mendapatkan Keberkahan Hidup Berdoa pada malam Nisfu Sya’ban dapat mendatangkan keberkahan dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.

5. Persiapan Menyambut Ramadan Hikmah lainnya adalah menjadikan malam Nisfu Sya’ban sebagai persiapan spiritual untuk menyambut bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh semangat.