Sejumlah kepala desa (kades) bersama Camat Amfoang Utara Hendra Mooy mendatangi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara (Nusra) II, Rabu (14/1/2026). Mereka menuntut agar proyek irigasi di Desa Kolabe, Kecamatan Amfoang Utara, Kabupaten Kupang, NTT, segera diselesaikan.
Pertemuan itu dihadiri oleh Kepala Desa Kolabe Isak Obes, Kepala Desa Fatunaus Jhoni Adu, Kepala Desa Afoan Yan Kameo, dan Kepala Desa Bakuin Ferdy Henuk.
“Kami minta kalau bisa segera diselaikan agar petani saya bisa melakukan tanam,” ujar Hendra Mooy saat berdialog dengan Kabid Pelaksana Sumber Daya Air (SDA) BBWS NT II Frangky Welkis di kantornya, Rabu.
Hendra menjelaskan sawah itu merupakan lumbung pangan 400 lebih kepala keluarga (KK) yang tersebar di lima desa dan kelurahan, yakni Desa Kolabe, Afoan, Fatunaus, Lilmus, Bakuin, dan Kelurahan Naikliu, Kecamatan Amfoang Utara.
“Itu merupakan sentra pertanian dan lumbung pangannya masyarakat di Kecamatan Amfoang Utara. Memang lahannya terletak di Desa Kolabe, tapi pemiliknya tersebar di lima dan satu kelurahan,” jelas Hendra.
Saat ini, Hendra berujar, petani setempat masih membajak sawah dan melakukan persemaian, tetapi belum ada yang mulai menanam. Hendra tak ingin petani sampai gagal tanam hingga gagal panen terjadi. Ia mengaku kedatangan mereka sebagai langkah antisipasi agar hal tersebut tak terjadi.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Cukup sulit juga kalau keadaan di lapangan akibat cuaca saat ini, tapi bagaimana langkah-langkah antisipasi yang diambil agar hal itu tidak terjadi,” kata mantan Camat Fatuleu dan Takari, Kabupaten Kupang itu.
Hendra mengatakan irigasi tersebut baru dikerjakan sekitar 186 meter dari 1.500 meter. Sehingga kendala seperti apa pun, proyek tersebut harus diselesaikan agar masyarakat bisa merasakan manfaatnya.
“Proyek itu melalui tahapan perencanaan yang panjang sehingga kami tetap inginkan supaya bisa ada manfaatnya,” beber Hendra.
Frangky Welkis mengatakan ada potensi gagal tanam. Namun, hal itu sejak awal sudah dilakukan pemetaan karena proyek itu mulai dikerjakan pada triwulan ketiga.
“Nah itu memang terjadi sehingga apa yang kami lakukan, itu pertama adalah memastikan bahwa rencana tanam itu sampai pengairan harus terlayani dan terpenuhi,” kata Frangky.
Ia mengaku BBWS NT II memaksimalkan untuk tetap melayani kebutuhan pengairan ke persawahan tersebut agar apa yang disampaikan tetap ditindaklanjuti.
“Tentunya akan alami hambatan dalam pengerjaannya, tapi kebutuhan pengairan akan kami layani,” pungkas Hendra.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 300 lebih petani yang menggantungkan hidupnya di persawahan Oehani, Desa Kolabe, Kecamatan Amfoang Utara, terancam gagal tanam dan panen. Musababnya, proyek irigasi ke persawahan tersebut belum selesai dikerjakan.
“Nah proyek itu kan baru dikerjakan dengan musim hujan. Sedangkan itu musimnya untuk kami tanam di sawah,” ujar petani setempat, Victor Imanuel Manoh kepada infoBali, Sabtu (10/1/2026).
Victor menjelaskan proyek tersebut menggunakan APBN tahun anggaran 2025 senilai Rp 102 miliar lebih yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya selaku kontraktor pelaksana dan PT Agrinas Palma Nusantara selaku Konsultan Teknis. Kemudian, Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai NTT II Satuan Kerja NVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) NT.II/RR.1/515, bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Rawa I.
Menurut Victor, akibat pengerjaan proyek itu, irigasi ke persawahan yang seluas 64 hektare kering total. Padahal, setiap bulan Januari, petani setempat sudah mulai menanam.
“Kalau bulan Februari baru kami mulai tanam, maka kami semua gagal tanam dan gagal panen karena kerja sawah itu harus ada air,” jelas Victor.
