Mataram –
Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi tersebut pada September 2025 menurun sebanyak 17,39 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Persentase penduduk miskin tercatat sebesar 11,38 persen atau turun 0,40 persen poin.
“Jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 637,188 ribu orang,” kata Kepala BPS NTB Wahyudin, saat rilis data di kantornya, Kamis (5/2/2026).
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Rinciannya, berdasarkan daerah tempat tinggal pada periode September 2024-September 2025, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik 11,20 ribu orang. Sedangkan di pedesaan turun 32,62 ribu orang.
“Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 11,64 persen, menjadi 11,70 persen. Sementara itu, di pedesaan turun dari 12,21 persen, menjadi 11,02 persen,” ujar Wahyudin.
BPS juga mencatat ada beberapa komoditas makanan yang berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan di NTB. Antara lain beras sebesar 25,89 persen dan 29,85 persen di pedesaan. Kemudian rokok kretek filter 8,62 persen di perkotaan dan 4,88 persen di pedesaan.
Selanjutnya, telur ayam ras menyumbang kemiskinan 3,44 persen di perkotaan dan 3,76 persen di pedesaan. Daging ayam ras memberi andil 3,15 persen di perkotaan dan 3,42 persen di pedesaan. Roti memberi andil 2,45 persen di perkotaan dan 2,69 persen di pedesaan. Disusul kopi bubuk memberi andil 2,16 persen di perkotaan dan 2,56 persen di pedesaan.
“Kemudian ada tongkol/tuna yang memberi andil 2,55 persen di perkotaan, dan 1,66 persen di pedesaan, dan seterusnya,” jawabnya.
Selain itu, komoditas bukan makanan yang juga berpengaruh signifikan terhadap penurunan angka kemiskinan di NTB, antara lain perumahan dengan andil 8,62 persen di perkotaan dan 10,05 persen di pedesaan. Kemudian disusul pendidikan, dengan andil 2,40 persen di perkotaan dan 1,47 persen di pedesaan, serta bensin dengan andil 2,21 persen di perkotaan dan 1,67 persen di pedesaan.
Wahyudin membeberkan beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di NTB selama periode Maret 2025-September 2025. Faktor-faktor tersebut meliputi konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2025 yang meningkat 4,51 persen (y-on-y) mencerminkan daya beli masyarakat yang relatif terjaga. Kemudian ada pengeluaran kelompok 40 persen terbawah yang meningkat.
Selain itu, ada faktor penyaluran bantuan sosial yang menunjukkan kinerja yang cukup baik. Dimana program sembako terealisasi sebesar 93,31 persen dari kuota, PKH telah menjangkau 219.324 KPM dengan nilai bantuan mencapai Rp 156,94 miliar. Disusul penguatan intervensi sosial melalui cakupan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sekolah rakyat.
“Program bedah rumah tidak layak huni, yakni bantuan stimulus perumahan swadaya (BSPS) sebanyak 1.610 unit rumah pada periode September-Desember 2025 yang dilaksanakan Kementerian PKP Nusa Tenggara I untuk penduduk,” tuturnya.
“Operasi pasar murah yang digencarkan Pemda bersama Bulog turut membantu mengendalikan inflasi, sehingga daya beli masyarakat miskin tetap terjaga,” sambungnya.
Penduduk Miskin di NTT Capai 919,15 Ribu Jiwa
BPS Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat ketimpangan kemiskinan antara wilayah perdesaan dan perkotaan masih cukup lebar, meskipun secara umum angka kemiskinan di daerah tersebut menunjukkan tren penurunan.
Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, menyampaikan data tersebut dalam rilis resmi statistik yang digelar secara daring, Kamis (5/2/2026), berdasarkan kondisi per September 2025.
“Memang terjadi penurunan tingkat kemiskinan, tetapi disparitas antara perkotaan dan perdesaan masih tinggi,” kata Matamira berdasarkan analisis data per September 2025.
Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin di wilayah perdesaan tercatat mencapai 919,15 ribu orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk miskin di wilayah perkotaan yang tercatat sebanyak 112,54 ribu orang.
“Penurunan terjadi di kedua wilayah, tetapi kemiskinan perdesaan tetap jauh lebih tinggi,” kata Matamira.
Secara keseluruhan, tingkat kemiskinan di NTT berada pada angka 17,50 persen, turun 1,10 poin dibandingkan Maret 2025. Jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 57 ribu orang menjadi 1,03 juta jiwa.
“Jumlah penduduk miskin memang berkurang sekitar 57 ribu orang, menjadi 1,03 juta jiwa. Namun, jika dilihat per/wilayah, jurangnya masih lebar. Kemiskinan perkotaan sudah 6,96 persen, akan tetapi kemiskinan perdesaan mencapai 21,48 persen. Artinya, tingkat kemiskinan di desa hampir tiga kali lipat dibanding kota,” urai dia.
BPS juga mencatat rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin di NTT sebanyak 5,88 orang. Sementara itu, rata-rata garis kemiskinan per rumah tangga per bulan berada di angka Rp 3.310.746.
“Rata-rata besarnya garis kemiskinan per rumah tangga per bulan adalah sebesar Rp 3.310.746,” tambah dia.
Sementara ketimpangan pengeluaran penduduk justru meningkat berdasarkan perhitungan Gini Ratio NTT yaitu naik dari 0,315 menjadi 0,322. Fenomena ini juga menunjukkan pertumbuhan ekonomi belum dinikmati merata.
“Ketimpangan di pedesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan,” tambahnya.
Matamira menyebut, andil struktur kemiskinan di NTT masih didominasi oleh kebutuhan masyarakat akan pangan yaitu sebesar 75,54 persen.
“Komoditas yang paling berpengaruh pada garis kemiskinan antara lain. Beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, ikan tongkol/tuna, dan daging ayam dan babi,” tandasnya.
NTT, kata dia, masih berada dalam kelompok atas dalam daftar provinsi termiskin di Indonesia. “Data yang dirilis BPS itu menunjukkan NTT berada di posisi ke-6 provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi,” kata Matamira.
Namun demikian, Matamira menilai NTT juga termasuk provinsi dengan laju penurunan kemiskinan yang relatif cepat pada periode Maret-September 2025. Penurunan tersebut sejalan dengan membaiknya kondisi pasar kerja.
“Sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah pertanian, perdagangan, dan pendidikan. Ini sinyal positif, namun pekerjaan rumah terbesar tetap ada di wilayah pedesaan,” tukas Matamira.
