Badung –
Menghadapi tren temuan 50 kasus anjing positif rabies sepanjang 2025 dan tambahan empat kasus di awal Januari 2026, Dinas Pertanian dan Pangan (Diperpa) Kabupaten Badung memperketat pengawasan kesehatan hewan tahun ini. Dengan alokasi 121.000 dosis vaksin, pemerintah daerah menargetkan cakupan vaksinasi massal yang menyeluruh demi target utama menurunkan prevalensi kasus dan memastikan keamanan bagi masyarakat serta wisatawan di sepanjang tahun 2026.
“Mudah-mudahan tahun ini kita bisa turunkan kasusnya karena tahun lalu ada sekitar 50 ekor yang terindikasi rabies. Untuk Januari saja kita mencatat ada empat kasus, yakni tiga di Kuta Selatan dan satu di Kedonganan,” kata Plt Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Badung, I Gusti Ngurah Narendra Putra, Sabtu (7/2/2026).
Program vaksinasi massal ini akan dilakukan secara menyeluruh di setiap desa mulai dari wilayah Kuta Selatan hingga ke Kecamatan Petang. Upaya ini bertujuan menggugah kesadaran masyarakat sekaligus memastikan penyebaran virus rabies pada hewan kesayangan tetap terkendali dan tidak menular ke manusia.
“Kami akan lakukan vaksinasi massal di seluruh desa di Badung, rencananya kita mulai dari Kuta Selatan sampai nanti di Petang. Harapannya program ini menggugah hati masyarakat untuk memvaksin anjing dan kucingnya supaya penyebaran rabies terkendali,” ujar Narendra.
Stok vaksin saat ini diklaim sangat mencukupi untuk menjangkau estimasi populasi 95.000 ekor anjing yang ada di Kabupaten Badung hingga Desember mendatang. Pasokan tersebut berasal dari kuota Provinsi Bali sebanyak 46.000 dosis ditambah pengadaan mandiri dari Kabupaten Badung sebanyak 75.000 dosis.
“Kami punya stok vaksin sangat cukup sekali, totalnya sekitar 100 ribu lebih dosis untuk populasi anjing yang jumlahnya 95 ribu ekor. Jadi untuk ketersediaan hingga Desember nanti sangat mencukupi dan tidak perlu khawatir kekurangan,” jelasnya.
Terkait penanganan di lapangan, Pemerintah Kabupaten Badung tetap mengutamakan langkah preventif dan menghindari tindakan eliminasi hewan secara masif. Eliminasi hanya akan dilakukan secara sangat selektif dan tertarget bagi hewan yang sudah menunjukkan gejala klinis rabies demi keamanan warga.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Kami sangat mengurangi eliminasi kecuali yang sifatnya tertarget dan selektif pada anjing yang sudah menunjukkan gejala rabies supaya tidak menggigit orang. Kalau ada kasus gigitan, kita langsung uji lab dan koordinasi dengan Puskesmas agar warga yang digigit segera tertangani,” pungkas Narendra.
