Denpasar –
Masyarakat menganggap hampir semua orang timur memiliki suara merdu ketika bernyanyi. Daerah Indonesia bagian timur memang dikenal sebagai rumah yang juga melahirkan banyak talenta berbakat. Sebut saja mendiang Glenn Fredly hingga Andmesh Kamaleng.
Pesona dan suara yang khas dari sederet musisi dari timur menjadi bukti dari eksistensi dan pengaruh mereka dalam industri musik Tanah Air. Anggapan ini berlaku bukan hanya untuk kalangan musisi terkenal saja, melainkan juga masyarakat biasa dari timur.
Lantas, mengapa orang timur memiliki suara merdu ketika bernyanyi?
Anggapan setiap orang yang dari Indonesia bagian timur, seperti Ambon, Maluku, Papua, Nusa Tenggara Barat (NTT) hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) pasti bersuara emas sebenarnya datang dari berbagai faktor yang tumbuh dari kebiasaan kemudian berubah menjadi bakat alami.
Andre Hehanusa sebagai musisi legendaris dari timur juga ikut memberikan pendapatnya terkait stigma ini. “Kalau suaranya bagus-bagus itu natural, dari rumah ke rumah dari keluarga dari orang tua, pindah ke anak pindah ke sini,” ujar Andre seperti yang dikutip dari laman resmi detikcom.
Menurut Andre, orang timur sejak kecil sering berlatih bernyanyi dari rumah ke rumah. Sebagai contoh, anak-anak sedari dini membentuk kreativitas dalam memainkan alat musik sederhana sambil melatih kemampuan bernyanyi mereka. Selain itu, eksplorasi nada yang dilakukan oleh masyarakat timur sedari kecil juga membentuk rasa disiplin mereka dalam bermusik.
Faktor bawaan biologis, kebudayaan, keagamaan, serta kebiasaan menjadi satu-kesatuan terpadu yang kemudian menjadikan banyak orang timur pandai bernyanyi dan memiliki suara yang merdu.
“Paling nggak gini, alam sama budaya itu berpengaruh jadi mungkin saya bayangkan alam dan budayanya. Alam bagus orang punya kreativitas bagus, terus didukung sama budaya di timur itukan alatnya tabuhan, perkusi. Jadi rancak lah di timur tuh,” sambung Andre.
Itulah ulasan mengenai fakta dibalik stigma orang-orang timur yang bersuara merdu. Semoga informasinya bermanfaat ya, detikers!
