Umat Islam kini memasuki bulan Rabiul Awal, bulan ketiga dalam penanggalan Hijriah. Artinya, tak lama lagi umat muslim juga akan memperingati Maulid Nabi.
Tahun ini, Maulid Nabi jatuh pada Jumat, 5 September 2025. Nah, momen Rabiul Awal ini dapat dijadikan bahan untuk materi khutbah Jumat.
Terdapat banyak pesan-pesan Nabi Muhammad yang dapat disampaikan pada saat khutbah Jumat. Melalui khutbah Jumat, para jamaah Jumat dapat merenungi hikmah dan mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Rasulullah.
Bagi para khatib yang ingin menyusun khutbah, berikut kumpulan contoh khutbah Jumat tentang Rabiul Awal yang dirangkum dari situs Nahdlatul Ulama.
1. Hikmah dan Rahasia Dibalik Tahun, Bulan dan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Rukun iman yang ke empat adalah mengimani adanya nabi dan rasul Allah Swt, salah satu nabi yang wajib kita imani yaitu Nabi Muhammad Saw, nabi akhir zaman nabi yang paling mulia diantara yang mulia. Semua umat Muslim mengimani bahwa Nabi Muhammad saw merupakan sosok paling mulia, bahkan seorang cendekiawan Barat Michael H Hart mengategorikan putra Abdullah ini sebagai manusia paling berpengaruh nomor satu di dunia.
Lantas mengapa Rasulullah tidak dilahirkan di bulan mulia seperti asyhurul ḫurum (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam) atau Ramadhan, tidak pula di hari Jumat yang merupakan hari paling istimewa. Sejumlah sejarawan sepakat bahwa Nabi Muhammad lahir pada tahun gajah, yaitu saat Ka’bah diinvasi oleh tentara gajah dibawah komando Raja Abrahah. Kelahiran Nabi juga disepakati pada hari Senin berdasarkan sabda Rasulullah berikut:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ – أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Artinya, “Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau aku dituruni wahyu.” (HR Muslim). Sementara tentang bulan kelahiran Nabi sendiri terjadi perbedaan pendapat, hanya saja argumen yang paling unggul adalah yang mengatakan bulan Rabi’ul Awwal. Hal ini salah satunya berdasarkan hadits berikut:
فَتَلَقَّوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِظَهْرِ الحَرَّةِ، فَعَدَلَ بِهِمْ ذَاتَ اليَمِينِ، حَتَّى نَزَلَ بِهِمْ فِي بَنِي عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ، وَذَلِكَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ مِنْ شَهْرِ رَبِيعٍ الأَوَّلِ
Artinya, “Lalu penduduk Madinah menemui Rasulullah di daerah Al-Harrah (tempat berbatu hitam di Madinah), lalu Rasulullah beralih bersama mereka ke sebelah kanan sampai beliau singgah bersama mereka di rumah Bani ‘Amru bin ‘Auf, dan saat itu adalah hari senin dari bulan Rabi’ul Awwal.” (HR Bukhari). Hari, bulan, dan tahun kelahiran Nabi Muhammad bukan merupakan kebetulan. Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, hikmah Nabi Muhammad lahir pada bulan Rabi’ul Awwal karena Allah swt ingin menepis adanya anggapan Raasulullah memperoleh kehormatan karena lahir di bulan-bulan mulia seperti asyhurul ḫurum atau Ramadhan, tapi justru kelahiran Nabi sendiri yang membuat bulan kelahirannya, Rabi’ul Awwal, menjadi istimewa dan diagungkan.
Berbeda, misalnya, dengan Nabi Adam yang dilahirkan pada hari Jumat yang secara kebetulan hari tersebut merupakan momen istimemwa bagi umat Musim. Sayyid Muhammad melanjutkan, Rasulullah lahir pada hari Senin merupakan bentuk rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam. Sebab, Senin merupakan hari yang tidak ada banyak tanggungan ibadah sebagaimana, misalnya, hari Jum’at yang terdapat sejumlah kegiatan keagamaan bagi umat Muslim seperti shalat Jumat khutbah, dan ibadah, dan sebagainya. Sayyid Muhammad kemudian menegaskan poin ini dengan firman Allah swt berikut:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Artinya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107) (Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Adz-Dzakairul Muhamadiyah, 2006 M: halaman 29) Terkait hari kelahiran Nabi, seorang guru besar Unisversitas Al-Azhar Mesir, Muhammad Wahdan, sebagaimana dikutip dari elbalad.news menyampaikan, Rasulullah lahir pada hari Senin karena Allah ingin menjadikan beliau memiliki sifat seperti pohon, yaitu memberi manfaat kepada banyak orang dengan banyak hal seperti sebagai tempat berteduh, buahnya bisa dinikmati, batangnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang beragam. Filosofi pohon ini mengindikasikan bahwa Rasulullah menjadi sosok insan yang banyak menebar kemanfaatan. Bertepatan dengan hari Senin pula Allah pertama kali menciptakan pohon. Diriwayatkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي فَقَالَ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي آخِرِ الْخَلْقِ فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ
Artinya, “Dari Abu Hurairah, dia berkata, ‘Rasulullah saw memegang tanganku dan bersabda, ‘Allah ‘azza wa jalla menciptakan tanah pada hari Sabtu, menciptakan gunung pada hari Ahad, menciptakan pepohonan (tumbuhan) pada hari Senin, menciptakan sesuatu yang dibenci (keburukan) pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, mengembangbiakkan hewan-hewan pada hari Kamis, menciptakan Adam ‘alaihissalam setelah Ashar hari Jumat pada akhir ciptaan, di saat akhir hari Jumat antara Ashar sampai malam.'” (HR Muslim).
Kemudian, terkait tahun kelahiran Nabi pada tahun gajah juga memiliki hikmah luar biasa. Sebelum ditetapkan sistem penanggalan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, bangsa Arab biasa menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai titimangsa setiap kejadian. Penyerangan Ka’bah oleh tentara gajah Raja Abrahah merupakan tragedi terbesar yang dialami orang Arab saat itu, sebab Ka’bah merupakan simbol sakral agung bagi semua penduduk Makkah ketika itu, entah bagi penganut agama tauhid atau musyrik.
Masyarakat Makkah yang tidak mungkin melakukan perlawanan sama sekali karena secara militer masih primitif justru berhasil memukul mundur tentara Abrahah dengan sekawanan ababil yang diutus Allah swt demi memuliakan Nabi Muhammad. Secara logika, seharusnya pasukan Abrahah yang beragama Nasrani (ahlul kitab) otomatis lebih mulia dari penduduk Makkah yang menyembah berhala. Tetapi, Allah lebih berpihak kepada penduduk Makkah. Hal ini tidak lain merupakan kehendak Allah untuk memuliakan kota Makkah, tempat yang lima puluh hari setelah itu lahir seorang nabi akhir zaman. Artinya, Nabi sudah ada dalam kandungan Siti Aminah saat penyerangan terjadi.
Secara tidak langsung, seolah Allah berpesan, “Wahai suku Quraisy sekalian, kami menolong kalian dengan mengalahkan Habasyah bukan karena kalian lebih mulia (dari para ahlul kitab, pen). Kami hanya ingin menjaga Ka’bah yang kelak akan kami muliakan dan kami agungkan dengan diutusnya nabi yang ummi.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Al-Qur’anil ‘Azhîm, tanpa tahun: juz XIV, h. 455).
Oleh: Ustadz Muhamad Abror
2. Bulan Rabiul Awal: 3 Sikap Rasulullah yang Harus Dicontoh
Khutbah I: اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Umat Islam berkumpul di masjid seperti ini selalu diingatkan akan pesan takwallah. Yakni menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang. Dengan diingatkan setiap pekan di tempat yang juga istimewa, maka sejatinya ada pesan agung yang demikian esensial. Karena dengan berbekal takwallah, maka segala persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Hadirin yang Berbahagia Rasulullah SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, adalah sosok yang sangat rendah hati atau tawadhu’. Hal ini dapat ditemukan pada halaman 123 sebagaimana kutipan berikut:
وَكَانَ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَدِيْدَ اْلحَيَاءِ وَالتَّوَاضُعِ
Artinya: Rasulullah SAW adalah sangat pemalu (memiliki rasa malu dan rasa bersalah) dan sangat tawadhu’. Kerendahan hati Rasulullah SAW tercermin dalam banyak hal, antara lain adalah: Pertama, Ketika pada suatu hari tidak bersedia barang belanjaannya di pasar dibawakan pulang oleh Abu Hurairah. Kedua, Ketika mempersilakan para sahabat berjalan di depan mendahuluinya, dan ketiga saat Nabi mendahului menyampaikan salam ketika bertemu dengan para sahabat.
Jamaah Jumat Rahimakumullah Ketika pada suatu hari Rasulullah SAW membeli barang-barang di pasar, di sana ada Abu Hurairah yang juga sedang ada keperluan. Ketika Rasulullah SAW telah mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan dan hendak pulang, saat itu juga Abu Hurairah bermaksud membawakan barang-barang belanjaan yang tentu saja dalam rangka memuliakan Nabi. Rasulullah SAW ternyata tidak berkenan Abu Hurairah bermaksud seperti itu. Kepada Abu Hurairah, Rasulullah SAW mengatakan:
صَاحِبُ الشَّيْءِ أَحَقُّ بِشَيْئِهِ أَنْ يَحْمِلَهُ
Artinya: Pemilik sesuatu barang lebih berhak (pantas) membawa barang miliknya. Tidak berkenannya Rasulullah SAW terhadap Abu Hurairah membawakan barang-barangnya menunjukkan bahwa Nabi bukanlah sosok yang sangat suka dimuliakan orang lain, atau dalam istilah sekarang “gila hormat”. Rasulullah menolak ketika akan diperlakukan istimewa yang berbeda dari umumnya orang, padahal adalah seorang nabi sekaligus rasul yang paling mulia di antara semua nabi dan rasul di sisi Allah.
Penolakan itu menunjukkan bukti bahwa Rasulullah memang orang yang sangat rendah hati sehingga tidak merasa martabatnya turun hanya karena membawa barang-barang sendiri, dan bukannya dibawakan orang lain. Jamaah Jumat Rahimakumullah Bukti lain yang menunjukkan Rasulullah SAW tidak gila hormat adalah sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid al-Barzanji, halaman 123. sebagaimana kutipan berikut:
يَمْشِيْ خَلْفَ أَصْحَابِهِ وَيَقُوْلُ خَلُوْا ظَهْرِيْ لِلْمَلَائِكَةِ الرُّوْحَانِيَّةِ
Artinya: Nabi Muhamamd SAW berjalan di belakang para sahabatnya, dan berkata kepada mereka: Biarkan di belakangku malaikat saja yang tidak kelihatan. Dari kisah ini kita tahu para sahabat berjalan mendahului sehingga mereka membelakangi. Rasulullah SAW tidak mencap kesediaan mereka mendahului sebagai su’ul adab. Ketika para sahabat berjalan di depan Nabi, kesan yang tampak kemudian Rasulullah SAW seperti tidak lebih penting atau terhormat dari pada para sahabat. Di sinilah kerendahan hatinya yang sulit dibantah. Tetapi dari sisi lain dalam konteks keamanan, ada hikmah di balik peristiwa itu, yakni sebagai seseorang pemimpin sedang memberikan contoh bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus berada di depan terutama ketika ancaman musuh berasal dari belakang. Ancaman atau bahaya yang datangnya dari arah depan tentu dapat diantisipasi sendiri oleh para sahabat karena mata mereka (dan juga mata kita tentunya) berada di depan.
Sedangkan kemungkinan adanya ancaman kepada Rasululullah SAW yang datangnya dari belakang, Nabi memasrahkan hal itu kepada Allah semata dengan meyakini di belakangnya ada malaikat yang sudah pasti sangat halus sehingga tidak tampak. Jamaah Jumat Rahimakumullah Bukti lain lagi, adalah Nabi lebih suka mendahului menyampaikan salam dari pada didahului sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid al-Barzanji, masih di halaman 123, sebagaimana kutipan berikut:
وَيَبْدَؤُ مَنْ لَقِيَهُ بِالسَّلَامِ
Artinya: Nabi mendahului menyampaikan salam ketika bertemu dengan siapapun. Kisah ini menunjukkan bahwa Rasululllah SAW lebih suka mendahului memuliakan orang lain. Padahal aturan secara umum sudah jelas sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa: Yang kecil memberi salam kepada yang besar. Yang berjalan kepada yang duduk. Yang sedikit kepada yang banyak. Yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki. Tetapi Rasulullah SAW pada kenyataannya lebih suka mendahului menyampaikan salam daripada didahului.
Padahal sewajarnya apabila Rasulullah didahului dalam bersalam daripada mendahului karena posisinya sebagai pimpinan umat yang tentu lebih tinggi dari pada umatnya. Tetapi Rasulullah tentu saja tidak salah dalam hal ini karena pada kesempatan lain Nabi SAW bersabda bahwa mendahului menyampaikan salam itu lebih baik dari pada didahului sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda bahwa mendahului menyampaikan salam dapat menghilangkan takabur.
Jamaah Jumat Rahimakumullah Dari ketiga bukti itu saja, sudah cukup kuat untuk menarik kesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat rendah hati sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid al-Barzanji ini. Bukti-bukti lain tentu masih sangat banyak baik sebagaimana dikisahkan dalam kitab ini maupun dalam kitab-kitab lainnya. Jamaah Jumat Rahimakumullah Mudah-mudahan kita semua dapat meneladani Rasulullah SAW dalam hal kerendahan hati apapun kedudukan kita dalam kehidupan kita sehari-hari di masyarakat. Kerendahan hati tidak pernah membuat kita jadi rendah. Justru yang terjadi Allah akan mengangkat derajat kita di sisi-Nya. Sekali lagi, mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kita meneladani Nabi Muhammad SAW. Amin ya rabbal alamin.
Oleh: Syaifullah
3. Menyambut Maulid dengan Meneladani Akhlak Nabi
Khutbah I: الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di hari yang penuh berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian dan tentunya diri khatib pribadi untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada-Nya, karena dengan ketakwaan, Allah akan memberikan jalan keluar dari problem kehidupan yang kita hadapi, juga akan memberi kita anugerah yang melimpah tanpa disangka-sangka dari mana datangnya.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, Kini kita akan memasuki bulan yang penuh kebahagiaan, bulan kasih sayang, yaitu bulan Rabi’ul Awwal. Bulan tersebut juga sering disebut bulan Maulid, yaitu bulan di mana Nabi Muhammad Saw lahir ke dunia ini. Pada bulan ini, umat Islam di berbagai belahan dunia merayakan kelahiran sang Rasul dengan beragam perayaan sesuai tradisi dan kebudayaannya masing-masing. Dalam perayaan maulid, shalawat serta salam dilantunkan, kisah perjalanan hidup baginda Nabi dibacakan, semua itu dilakukan tidak lain adalah untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw yang mulia. Mengenai akhlak Nabi yang perlu diteladani, Allah swt berfirman dalam surah al-Ahzab Ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, Salah satu akhlak Nabi dan suri tauladan yang perlu kita contoh dan ikuti adalah sifat Nabi Muhammad Saw yang pemaaf. Dikisahkan bahwa suatu hari Nabi sedang berkumpul bersama para sahabatnya di masjid. Seketika, seorang Arab Badui dari pedalaman muncul ke masjid. Akan tetapi, bukannya mengikuti majelis Nabi, Arab Badui tersebut tiba-tiba kencing di salah satu pojokan masjid. Melihat hal tersebut, para sahabat pun marah dan ingin melabrak orang Arab Badui tersebut.
Sebelum para sahabat tersebut melabrak orang Arab Badui itu, Rasulullah Saw pun mencegahnya. Beliau membiarkan supaya orang Arab Badui tersebut menyelesaikan buang air kecilnya. Setelah tuntas, kemudian Rasulullah meminta salah satu sahabatnya untuk mengambil air, kemudian menyiram bekas yang dikencingi. Orang Arab Badui itu pun dibiarkan pergi oleh Rasulullah Saw. Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan sosok yang besar hati, tidak mudah menyalahkan orang lain, bahkan memaafkan orang yang sudah jelas-jelas salah karena bagaimana pun orang Arab Badui tersebut barangkali tidak mengetahui bahwa perbuatannya tersebut dilarang. Sifat teladan inilah yang harus kita teladani dari beliau.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Pada kisah lainnya, di kala Rasulullah menyebarkan dakwahnya, berbagai cacian, penindasan, penyiksaan telah beliau alami. Bahkan tindakan-tindakan tersebut bukan hanya menimpa beliau, akan tetapi orang-orang di sekitar Rasulullah, baik keluarga maupun para sahabatnya. Salah satu yang menjadi korban penyiksaan adalah keluarga Ammar bin Yasir. Ibunya Ammar, yaitu Sumayah, dibunuh dengan ditusuk menggunakan tombak. Ayah Ammar, yaitu Yasir, dibunuh dalam penyiksaan itu.
Sementara Ammar dipaksa untuk keluar dari Islam. Melihat penyiksaan dan kezaliman tersebut, Rasulullah Saw tidak menaruh dendam sama sekali, hanya memerintahkan Ammar untuk bersabar.,”Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sungguh kalian telah dijanjikan masuk surga.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Dikisahkan juga ada seorang penyair yang masyhur di tanah Arab, yaitu Ka’b ibn Zuhayr. Di saat Nabi Muhammad Saw mendakwahkan risalah Islam. Kala itu banyak sekali yang memusuhinya di antaranya adalah Ka’b ibn Zuhayr.
Ia menggunakan seni sebagai perlawanan, yaitu dengan menciptakan syair-syair sebagai kontra terhadap ajaran yang Rasulullah bawa. Ketika peristiwa penaklukan kota Makkah oleh kaum Muslimin yang terjadi pada tahun 8 Hijriyah, Ka’b merupakan salah satu musuh kaum Muslimin yang melarikan diri. Bujayr yang merupakan saudara Ka’b yang telah dahulu masuk Islam menyarankan Ka’b untuk menemui Rasulullah, sebab siapa pun yang datang pada beliau dan mengakui kesalahannya, maka akan diberi maaf.
Ka’b pun mendatangi Rasulullah dan beberapa sahabat beliau berdiri ingin menyerang Ka’b, akan tetapi Rasulullah Saw mencegahnya dan mendengarkan penyesalan Ka’b. Ka’b pun bertobat dengan tulus dan Rasulullah memaafkannya. Bahkan Ka’b membacakan bait-bait syair yang dinamakan “Banat Su’ad” hingga Nabi pun senang dan menghadiahinya mantel yang terbuat dari bulu. Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah, Tampaknya sifat pemaaf Nabi dan akhlaknya yang mulia sangat membekas di benak para keluarga dan sahabatnya. Di antara yang pernah menceritakan perangai dan akhlak Nabi yang mulia dan pemaaf adalah ummahatul mu’minin, siti Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:
لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ
Artinya: “Siti Aisyah menceritakan, “Rasulullah bukanlah seorang yang buruk perilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Beliau tidak suka berteriak di pasar. Beliau bukanlah tipe orang yang membalas keburukan dengan keburukan, namun beliau selalu memaafkan dengan lapang dada.” (HR. Al-Tirmidzi).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Semoga di bulan Maulid nanti kita dapat bershalawat, mengirim salam, dan membaca kisah-kisah perjalanan hidup sumber teladan kita, Nabi Muhammad Saw. Tidak hanya berhenti pada membacanya, kita juga dapat meneladani dan mengikuti akhlak beliau yang pemaaf, sehingga nanti di akhirat kelak kita diakui sebagai umatnya Nabi Saw. Amiin.
Oleh: Amien Nurhakim
4. Meneladani Akhlak Nabi di Tengah Peradaban yang Rusak
Khutbah I: الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدَّيْنِ الْقَوِيمِ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Mengawali khutbah pada kesempatan hari ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji serta syukur kita kepada Allah Swt dengan mengucap alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan kasih sayang-Nya yang di berikan kepada kita semua. Sehingga setiap langkah serta tarikan nafas dalam setiap aktifitas sehari-hari bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk berbuat baik. Tak lupa, shalawat serta salam juga kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw semoga tetap tercurah limpakan kepada keluarganya, para sahabatnya, para pengikutnya, hingga sampai kepada kita semua.
Sehingga mudah-mudahan kita termasuk sebagai umatnya yang senantiasa berusaha meneladani akhlaknya dan kelak dikumpulkan bersamanya di surga. Selaku khatib, saya mengajak kepada diri pribadi umumnya kepada seluruh jamaah untuk senantiasa terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt dengan sebagi-baiknya takwa. Sebab, takwa bukan hanya sekadar simbol religius, tidak juga sekadar menjalankan ibadah formal, akan tetapi juga bisa diartikan sebagai upaya menjaga diri dari yang haram meskipun tak ada yang melihat, menahan diri dari amarah saat mampu membalas, dan tetap lurus meski dunia seolah memaksa untuk menyimpang.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Kita hidup di zaman ketika amarah lebih cepat tersebar daripada kasih sayang, dan kata-kata kasar lebih banyak viral dibanding ucapan lembut yang penuh kasih sayang. Sehingga anak muda zaman sekarang tumbuh dalam lingkungan yang lebih sering melihat tontonan viral daripada tokoh teladan. Dalam kondisi zaman yang seperti ini, sudah sepatutnya kita bisa menjadikan kanjeng Nabi Muhammad Saw sebagai panutan untuk menjalani kehidupan ini.
Sudah barang tentu, membumikan akhlak Rasulullah bukan hanya sebagai tuntunan moral saja, akan tetapi sebagai kebutuhan untuk menata kembali arah hidup umat. Akhlak yang Nabi contohkan tidak hanya narasi sejarah, tapi peta jalan bagi siapa saja yang ingin tetap di jalan yang Allah ridhai. Saat budaya disekitar sudah saling menjatuhkan, kekerasan, ketidakadilan, dan hal-hal tidak baik lainnya sering terjadi, maka penting menjadikan akhlak Rasulullah sebagai teladan, mulai dari kelembutan, kasih sayang, kebijakan, dan semua sifat-sifatnya yang mulia. Bahkan dalam Al-Qur’an, ditegaskan bahwa orang-orang yang mengakui cinta kepada Allah, ia harus mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 31, Allah Swt berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran, [3]: 31).
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Mengikuti Rasulullah tidak hanya sekadar menunaikan shalat dengan khusyuk atau puasa dengan tekun saja, melainkan juga menghidupkan ruh akhlakul karimah dalam setiap interaksi sosial kita. Ketika kita menjaga lisan dari dusta dan fitnah, itu juga bagian dari ibadah. Ketika kita menghormati hak tetangga dengan tidak mengganggu ketenangannya, itu bagian dari ibadah. Bahkan senyum tulus kepada saudara kita pun bernilai sedekah di sisi Allah.
Termasuk yang Rasulullah Saw lakukan dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari. Nabi mengajarkan bahwa seorang muslim sejati adalah yang lisannya jujur, perilakunya santun, dan kehadirannya membawa ketenteraman dan kedamaian bagi siapa saja. Maka tidak heran, Al-Qur’an memberikan pujian kepada Rasulullah disebabkan akhlaknya yang mulia dan budi pekertinya yang luhur. Seperti firman Allah Swt dalam Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS Al-Qalam: 4).Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Ada salah satu kisah saat Sayyidah Aisyah ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Lalu beliau menjawab bahwa Rasulullah bukanlah pribadi yang kasar, tidak pula berkata keji, tidak suka berteriak di pasar, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, Nabi selalu memaafkan dan berlapang dada. Riwayat ini sebagaimana tercatat dalam Musnad Ahmad, yaitu:
كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا سَخَّابًا بِالْأَسْوَاقِ وَلَا يُجْزِئُ بِالسَّيِّئَةِ مِثْلَهَا وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ
Artinya, “Nabi adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Nabi tidak pernah berkata keji dan tidak berbuat keji, tidak bersuara keras di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan yang serupa. Namun ia memaafkan dan berlapang dada.” (HR Ahmad). Baca Juga Khutbah Jumat Singkat: Menghidupkan Takwa dalam Seluruh Aspek Kehidupan Tidak hanya itu, hal tersebut juga ditegaskan dalam kitab Ar-Rahiqul Makhtum halaman 62 oleh Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri.
Dalam kitab tersebut, dijelaskan bahwa pernah suatu ketika, saat pemugaran Ka’bah sedang berlangsung dan pembangunan telah sampai pada bagian Hajar Aswad, terjadi perselisihan antar kabilah perihal siapa yang berhak meletakkan batu mulia itu di tempat semula. Pertikaian semakin memanas dan hampir saja menimbulkan pertumpahan darah di dalam Masjidil Haram.
Karena pertikaian tak kunjung selesai, akhirnya Abu Umayyah bin al-Mughirah menawarkan usulan agar keputusannya diserahkan kepada orang pertama yang masuk masjid dari pintu Masjidil Haram. Dan benar saja, orang pertama yang masuk ke masjid kala itu adalah Rasulullah Muhammad. Dan ketika orang Quraisy melihat itu, mereka berkata:
وَشَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ رَسُوْلُ اللهِ، فَلَمَّا رَأَوْهُ هَتَفُوْا هَذَا الْأَمِيْنُ، رَضِيْنَاهُ هَذَا مُحَمَّدٌ
Artinya, “Dan Allah menghendaki bahwa orang itu adalah Rasulullah. Ketika mereka melihatnya, mereka berseru, ‘Inilah al-Amin (yang terpercaya),’ kami rela dia yang melakukannya, ini adalah Muhammad.”
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Kisah ini mengajarkan bahwa akhlak Rasulullah tak sekadar narasi sejarah saja, tapi realitas yang mampu meredakan konflik nyata. Ketika bara pertikaian antarsuku di Makkah, kehadiran Nabi justru menjadi titik temu yang menyatukan hati-hati yang keras. Hal itu karena ia hadir dengan akhlak yang luhur, dan itulah yang menyelesaikan masalah.
Maka hari ini, ketika kita hidup di tengah masyarakat yang mudah tersulut emosi, gampang saling mencela, dan terbiasa menilai tanpa memahami, meneladani Rasulullah tidak lagi perihal idealisme belaka. Tetapi tentang bagaimana kita bisa hadir seperti Nabi yang hadir dengan membawa ketenangan, memulihkan dan menyatukan orang-orang yang konflik. Tidak hanya di mimbar, tapi di meja keluarga, di ruang kerja, di jalan, hingga di media sosial. Karena itu, mari kita jadikan akhlak Rasulullah sebagai kompas dalam bersikap dan bertindak.
Tidak hanya untuk menjadi sempurna, tapi agar kita tidak kehilangan arah di zaman yang krisis akan keteladanan seperti saat ini. Demikian, semoga khutbah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali menjadikan Rasulullah sebagai teladan sepanjang zaman, tidak hanya untuk didengar, tapi juga dilanjutkan dalam perbuatan dan laku hidup sehari-hari.
Oleh: Ustadz Sunnatullah
5. Meneladani Akhlak Terpuji Nabi Muhammad SAW
Khutbah I: الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hadirin shalat Jumat Rahimakumullah
Alhamdulillah puji dan syukur mari bersama-sama kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah dan terus memberikan kita nikmat sehat dan juga kesempatan sehingga kita semua bisa melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah. Shalawat dan salam kita haturkan pada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing kita semua dari alam kejahilan, menuju cahaya Islam.
Khatib berwasiat kepada seluruh jamaah untuk terus meningkatkan iman dan takwa. Sebab, Iman dan takwa adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam menghadapi dunia yang penuh tipu daya. Karena, hanya dengan iman dan takwalah manusia akan memiliki pedoman hidup yang benar dan akan terhindar dari kebejatan dunia. Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Baru saja, kita memasuki bulan Rabiul Awal 1446 H atau yang lebih dikenal dengan bulan Maulid Nabi, dimana dalam bulan ini merupakan bulan di mana Rasulullah Saw dilahirkan, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 571 Masehi, di Kota Makkah. Beliau adalah manusia yang sangat mulia dan penuh keagungan. Nabi Muhammad Saw adalah teladan terbaik bagi umat manusia. Beliau memiliki akhlak yang paling mulia, sehingga Allah Swt menyebutnya sebagai uswah hasanah (teladan yang baik). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Dalam kitab Tafsir al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Imam Qurthubi menyebutkan bahwa makna “uswah” dalam ayat tersebut adalah panutan. Artinya, Nabi Muhammad adalah sosok teladan, yang tingkah lakunya jadi tempat bersandar. Maka, Rasulullah diikuti dalam semua perbuatannya dan menjadi tempat bersandar dalam semua keadaannya.
Nabi Muhammad adalah sosok yang diteladani dalam keikhlasan; wajah beliau dilukai, lengannya patah, pamannya Hamzah dibunuh, perutnya lapar, dan beliau tidak ditemukan kecuali dalam keadaan sabar dan ikhlas, serta bersyukur dan ridha. Lebih lanjut, saat beliau disakiti, Nabi tidak ada keinginan untuk membalas tindakan tersebut. Misalnya, saat diusir dari Makkah, Nabi Muhammad tidak membalas dengan kekerasan. Nabi justru berhijrah ke Madinah dan mendirikan peradaban Islam yang damai dan adil. Demikian juga ketika dilempari batu oleh penduduk Thaif dengan batu sehingga berdarah pelipis matanya, Nabi Muhammad tidak membalas dengan makian atau lemparan batu. Nabi Muhammad, kata Imam Qurthubi, justru berdoa agar yang menyakitinya mendapatkan hidayah dan kebaikan dari Allah.
للَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يعلمون
Artinya: “Ya Allah ampunilah kaum ku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui perbuatan mereka.” Sejatinya, sikap Nabi Muhammad saat disakiti ini merupakan teladan yang sangat berharga bagi umat Islam. Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu memaafkan orang yang menyakiti kita, bahkan ketika mereka menyakiti kita dengan cara yang tidak terbayangkan. Dengan memaafkan, kita tidak hanya menghilangkan dendam dan kebencian, tetapi juga membuka pintu kebaikan dan kasih sayang.
قَوْلُهُ تَعَالَى”أُسْوَةٌ” الْأُسْوَةُ الْقُدْوَةُ. وَالْأُسْوَةُ مَا يُتَأَسَّى بِهِ، أَيْ يُتَعَزَّى بِهِ. فَيُقْتَدَى بِهِ فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهِ وَيُتَعَزَّى بِهِ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ، فَلَقَدْ شُجَّ وَجْهُهُ، وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ،
Artinya: “Firman Allah Ta’ala “uswatun” (suatu teladan). Uswatun (suatu teladan) adalah qudwah (contoh). Uswatun (suatu teladan) adalah sesuatu yang diteladani, yaitu sesuatu yang dibanggakan. Maka, seseorang meneladani dalam semua perbuatannya dan bangga dengannya dalam semua keadaannya. Maka, sungguh wajahnya telah terluka, dan tulang pipinya telah pecah.”[Imam Qurthubi, al Jami’ li Ahkami al-Qur’an, [Kairo; Dar Kutub al Misriyah, 1964], halaman 155] Hadirin sidang shalat
Jumat Rahimakumullah
Di sisi lain, Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, dalam Tafsir as-Sam’ani, jilid I, [Riyadh, Darul Wathan, 1997], halaman 270 ayat menekankan bahwa Rasulullah adalah sebagai teladan yang baik bagi umatnya, dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah aspek kesabaran dalam menghadapi cobaan dalam berdakwah. Nabi Muhammad bersabar atas apa yang menimpanya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi kaum Quraish yang kejam.
Nabi Muhammad disakiti hingga beliau patah hidungnya pada perang Uhud, dan luka di dahinya, dan telur pecah di kepalanya, hingga pamannya Hamzah terbunuh, namun Nabi tidak berhenti dalam urusan berdakwah di jalan Allah, dan bersabar atas semua itu. Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Terkait keluhuran akhlak dan budi luhur Rasulullah Safiur Rahman Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, [Beirut; Dar Hilal, 1427 H] halaman 440 memberikan pujian yang tinggi pada akhlak Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah katanya, memiliki akhlak yang sempurna, dan kesempurnaan akhlaknya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Setiap orang yang berjumpa dengan Nabi, pasti hatinya dipenuhi dengan penghormatan. Bahkan para lelaki rela mengorbankan diri mereka untuk melindungi dan menghormati beliau, sesuatu yang tidak pernah terjadi pada orang lain. Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Lebih lanjut, orang yang pernah bergaul dengan Nabi akan jatuh hati dan mencintainya hingga batas teramat sangat, dan tidak peduli jika leher mereka dipatahkan atau kuku beliau tergores.
Seseorang akan mencintai beliau karena Nabi Muhammad memiliki kesempurnaan yang dicintai manusia, dan kesempurnaan tersebut tidak pernah dimiliki oleh manusia lain. Al Mubarakfuri memuji Nabi dengan mengutip perkataan Umm Ma’bad al-Khaza’iyah mengatakan bahwa Nabi memiliki penampilan yang cerah, wajahnya bersih, akhlaknya baik, tidak lelah dengan kesabarannya, dan tidak sombong dengan keagungannya. Beliau tampan dan memiliki paras yang indah. Di matanya ada warna hitam pekat, di bulu matanya ada bulu yang halus, di suaranya ada suara yang keras, dan di lehernya ada lekuk yang indah. Nabi bermata biru, bermata hitam, berhidung mancung, dan berkumis.
Rambutnya sangat hitam. Jika beliau diam, beliau tampak berwibawa. Jika beliau berbicara, beliau tampak agung. Beliau adalah orang yang paling tampan dan agung dari jauh, dan orang yang paling baik dan manis dari dekat. Itulah sekelumit akhlak terpuji dan budi agung Nabi Muhammad, seorang teladan di alam semesta. Tidak pernah membenci, apalagi mendendam pada orang yang menyakitinya. Di momentum bulan Muharram ini, waktu yang baik untuk mengamalkan akhlak luhur Rasulullah.
Oleh: Zainuddin Lubis
Itulah kumpulan contoh teks khutbah Jumat Rabiul Awal. Semoga membantu infoers!
2. Bulan Rabiul Awal: 3 Sikap Rasulullah yang Harus Dicontoh
Khutbah I: اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Umat Islam berkumpul di masjid seperti ini selalu diingatkan akan pesan takwallah. Yakni menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang. Dengan diingatkan setiap pekan di tempat yang juga istimewa, maka sejatinya ada pesan agung yang demikian esensial. Karena dengan berbekal takwallah, maka segala persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Hadirin yang Berbahagia Rasulullah SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, adalah sosok yang sangat rendah hati atau tawadhu’. Hal ini dapat ditemukan pada halaman 123 sebagaimana kutipan berikut:
وَكَانَ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَدِيْدَ اْلحَيَاءِ وَالتَّوَاضُعِ
Artinya: Rasulullah SAW adalah sangat pemalu (memiliki rasa malu dan rasa bersalah) dan sangat tawadhu’. Kerendahan hati Rasulullah SAW tercermin dalam banyak hal, antara lain adalah: Pertama, Ketika pada suatu hari tidak bersedia barang belanjaannya di pasar dibawakan pulang oleh Abu Hurairah. Kedua, Ketika mempersilakan para sahabat berjalan di depan mendahuluinya, dan ketiga saat Nabi mendahului menyampaikan salam ketika bertemu dengan para sahabat.
Jamaah Jumat Rahimakumullah Ketika pada suatu hari Rasulullah SAW membeli barang-barang di pasar, di sana ada Abu Hurairah yang juga sedang ada keperluan. Ketika Rasulullah SAW telah mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan dan hendak pulang, saat itu juga Abu Hurairah bermaksud membawakan barang-barang belanjaan yang tentu saja dalam rangka memuliakan Nabi. Rasulullah SAW ternyata tidak berkenan Abu Hurairah bermaksud seperti itu. Kepada Abu Hurairah, Rasulullah SAW mengatakan:
صَاحِبُ الشَّيْءِ أَحَقُّ بِشَيْئِهِ أَنْ يَحْمِلَهُ
Artinya: Pemilik sesuatu barang lebih berhak (pantas) membawa barang miliknya. Tidak berkenannya Rasulullah SAW terhadap Abu Hurairah membawakan barang-barangnya menunjukkan bahwa Nabi bukanlah sosok yang sangat suka dimuliakan orang lain, atau dalam istilah sekarang “gila hormat”. Rasulullah menolak ketika akan diperlakukan istimewa yang berbeda dari umumnya orang, padahal adalah seorang nabi sekaligus rasul yang paling mulia di antara semua nabi dan rasul di sisi Allah.
Penolakan itu menunjukkan bukti bahwa Rasulullah memang orang yang sangat rendah hati sehingga tidak merasa martabatnya turun hanya karena membawa barang-barang sendiri, dan bukannya dibawakan orang lain. Jamaah Jumat Rahimakumullah Bukti lain yang menunjukkan Rasulullah SAW tidak gila hormat adalah sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid al-Barzanji, halaman 123. sebagaimana kutipan berikut:
يَمْشِيْ خَلْفَ أَصْحَابِهِ وَيَقُوْلُ خَلُوْا ظَهْرِيْ لِلْمَلَائِكَةِ الرُّوْحَانِيَّةِ
Artinya: Nabi Muhamamd SAW berjalan di belakang para sahabatnya, dan berkata kepada mereka: Biarkan di belakangku malaikat saja yang tidak kelihatan. Dari kisah ini kita tahu para sahabat berjalan mendahului sehingga mereka membelakangi. Rasulullah SAW tidak mencap kesediaan mereka mendahului sebagai su’ul adab. Ketika para sahabat berjalan di depan Nabi, kesan yang tampak kemudian Rasulullah SAW seperti tidak lebih penting atau terhormat dari pada para sahabat. Di sinilah kerendahan hatinya yang sulit dibantah. Tetapi dari sisi lain dalam konteks keamanan, ada hikmah di balik peristiwa itu, yakni sebagai seseorang pemimpin sedang memberikan contoh bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus berada di depan terutama ketika ancaman musuh berasal dari belakang. Ancaman atau bahaya yang datangnya dari arah depan tentu dapat diantisipasi sendiri oleh para sahabat karena mata mereka (dan juga mata kita tentunya) berada di depan.
Sedangkan kemungkinan adanya ancaman kepada Rasululullah SAW yang datangnya dari belakang, Nabi memasrahkan hal itu kepada Allah semata dengan meyakini di belakangnya ada malaikat yang sudah pasti sangat halus sehingga tidak tampak. Jamaah Jumat Rahimakumullah Bukti lain lagi, adalah Nabi lebih suka mendahului menyampaikan salam dari pada didahului sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid al-Barzanji, masih di halaman 123, sebagaimana kutipan berikut:
وَيَبْدَؤُ مَنْ لَقِيَهُ بِالسَّلَامِ
Artinya: Nabi mendahului menyampaikan salam ketika bertemu dengan siapapun. Kisah ini menunjukkan bahwa Rasululllah SAW lebih suka mendahului memuliakan orang lain. Padahal aturan secara umum sudah jelas sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa: Yang kecil memberi salam kepada yang besar. Yang berjalan kepada yang duduk. Yang sedikit kepada yang banyak. Yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki. Tetapi Rasulullah SAW pada kenyataannya lebih suka mendahului menyampaikan salam daripada didahului.
Padahal sewajarnya apabila Rasulullah didahului dalam bersalam daripada mendahului karena posisinya sebagai pimpinan umat yang tentu lebih tinggi dari pada umatnya. Tetapi Rasulullah tentu saja tidak salah dalam hal ini karena pada kesempatan lain Nabi SAW bersabda bahwa mendahului menyampaikan salam itu lebih baik dari pada didahului sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda bahwa mendahului menyampaikan salam dapat menghilangkan takabur.
Jamaah Jumat Rahimakumullah Dari ketiga bukti itu saja, sudah cukup kuat untuk menarik kesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang sangat rendah hati sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid al-Barzanji ini. Bukti-bukti lain tentu masih sangat banyak baik sebagaimana dikisahkan dalam kitab ini maupun dalam kitab-kitab lainnya. Jamaah Jumat Rahimakumullah Mudah-mudahan kita semua dapat meneladani Rasulullah SAW dalam hal kerendahan hati apapun kedudukan kita dalam kehidupan kita sehari-hari di masyarakat. Kerendahan hati tidak pernah membuat kita jadi rendah. Justru yang terjadi Allah akan mengangkat derajat kita di sisi-Nya. Sekali lagi, mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kita meneladani Nabi Muhammad SAW. Amin ya rabbal alamin.
Oleh: Syaifullah
3. Menyambut Maulid dengan Meneladani Akhlak Nabi
Khutbah I: الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di hari yang penuh berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian dan tentunya diri khatib pribadi untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada-Nya, karena dengan ketakwaan, Allah akan memberikan jalan keluar dari problem kehidupan yang kita hadapi, juga akan memberi kita anugerah yang melimpah tanpa disangka-sangka dari mana datangnya.
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, Kini kita akan memasuki bulan yang penuh kebahagiaan, bulan kasih sayang, yaitu bulan Rabi’ul Awwal. Bulan tersebut juga sering disebut bulan Maulid, yaitu bulan di mana Nabi Muhammad Saw lahir ke dunia ini. Pada bulan ini, umat Islam di berbagai belahan dunia merayakan kelahiran sang Rasul dengan beragam perayaan sesuai tradisi dan kebudayaannya masing-masing. Dalam perayaan maulid, shalawat serta salam dilantunkan, kisah perjalanan hidup baginda Nabi dibacakan, semua itu dilakukan tidak lain adalah untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw yang mulia. Mengenai akhlak Nabi yang perlu diteladani, Allah swt berfirman dalam surah al-Ahzab Ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah, Salah satu akhlak Nabi dan suri tauladan yang perlu kita contoh dan ikuti adalah sifat Nabi Muhammad Saw yang pemaaf. Dikisahkan bahwa suatu hari Nabi sedang berkumpul bersama para sahabatnya di masjid. Seketika, seorang Arab Badui dari pedalaman muncul ke masjid. Akan tetapi, bukannya mengikuti majelis Nabi, Arab Badui tersebut tiba-tiba kencing di salah satu pojokan masjid. Melihat hal tersebut, para sahabat pun marah dan ingin melabrak orang Arab Badui tersebut.
Sebelum para sahabat tersebut melabrak orang Arab Badui itu, Rasulullah Saw pun mencegahnya. Beliau membiarkan supaya orang Arab Badui tersebut menyelesaikan buang air kecilnya. Setelah tuntas, kemudian Rasulullah meminta salah satu sahabatnya untuk mengambil air, kemudian menyiram bekas yang dikencingi. Orang Arab Badui itu pun dibiarkan pergi oleh Rasulullah Saw. Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan sosok yang besar hati, tidak mudah menyalahkan orang lain, bahkan memaafkan orang yang sudah jelas-jelas salah karena bagaimana pun orang Arab Badui tersebut barangkali tidak mengetahui bahwa perbuatannya tersebut dilarang. Sifat teladan inilah yang harus kita teladani dari beliau.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Pada kisah lainnya, di kala Rasulullah menyebarkan dakwahnya, berbagai cacian, penindasan, penyiksaan telah beliau alami. Bahkan tindakan-tindakan tersebut bukan hanya menimpa beliau, akan tetapi orang-orang di sekitar Rasulullah, baik keluarga maupun para sahabatnya. Salah satu yang menjadi korban penyiksaan adalah keluarga Ammar bin Yasir. Ibunya Ammar, yaitu Sumayah, dibunuh dengan ditusuk menggunakan tombak. Ayah Ammar, yaitu Yasir, dibunuh dalam penyiksaan itu.
Sementara Ammar dipaksa untuk keluar dari Islam. Melihat penyiksaan dan kezaliman tersebut, Rasulullah Saw tidak menaruh dendam sama sekali, hanya memerintahkan Ammar untuk bersabar.,”Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sungguh kalian telah dijanjikan masuk surga.” Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Dikisahkan juga ada seorang penyair yang masyhur di tanah Arab, yaitu Ka’b ibn Zuhayr. Di saat Nabi Muhammad Saw mendakwahkan risalah Islam. Kala itu banyak sekali yang memusuhinya di antaranya adalah Ka’b ibn Zuhayr.
Ia menggunakan seni sebagai perlawanan, yaitu dengan menciptakan syair-syair sebagai kontra terhadap ajaran yang Rasulullah bawa. Ketika peristiwa penaklukan kota Makkah oleh kaum Muslimin yang terjadi pada tahun 8 Hijriyah, Ka’b merupakan salah satu musuh kaum Muslimin yang melarikan diri. Bujayr yang merupakan saudara Ka’b yang telah dahulu masuk Islam menyarankan Ka’b untuk menemui Rasulullah, sebab siapa pun yang datang pada beliau dan mengakui kesalahannya, maka akan diberi maaf.
Ka’b pun mendatangi Rasulullah dan beberapa sahabat beliau berdiri ingin menyerang Ka’b, akan tetapi Rasulullah Saw mencegahnya dan mendengarkan penyesalan Ka’b. Ka’b pun bertobat dengan tulus dan Rasulullah memaafkannya. Bahkan Ka’b membacakan bait-bait syair yang dinamakan “Banat Su’ad” hingga Nabi pun senang dan menghadiahinya mantel yang terbuat dari bulu. Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah, Tampaknya sifat pemaaf Nabi dan akhlaknya yang mulia sangat membekas di benak para keluarga dan sahabatnya. Di antara yang pernah menceritakan perangai dan akhlak Nabi yang mulia dan pemaaf adalah ummahatul mu’minin, siti Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:
لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ
Artinya: “Siti Aisyah menceritakan, “Rasulullah bukanlah seorang yang buruk perilakunya, tidak pula menjelek-jelekkan orang lain. Beliau tidak suka berteriak di pasar. Beliau bukanlah tipe orang yang membalas keburukan dengan keburukan, namun beliau selalu memaafkan dengan lapang dada.” (HR. Al-Tirmidzi).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Semoga di bulan Maulid nanti kita dapat bershalawat, mengirim salam, dan membaca kisah-kisah perjalanan hidup sumber teladan kita, Nabi Muhammad Saw. Tidak hanya berhenti pada membacanya, kita juga dapat meneladani dan mengikuti akhlak beliau yang pemaaf, sehingga nanti di akhirat kelak kita diakui sebagai umatnya Nabi Saw. Amiin.
Oleh: Amien Nurhakim
4. Meneladani Akhlak Nabi di Tengah Peradaban yang Rusak
Khutbah I: الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدَّيْنِ الْقَوِيمِ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah
Mengawali khutbah pada kesempatan hari ini, marilah kita bersama-sama memanjatkan puji serta syukur kita kepada Allah Swt dengan mengucap alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala limpahan nikmat, rahmat, dan kasih sayang-Nya yang di berikan kepada kita semua. Sehingga setiap langkah serta tarikan nafas dalam setiap aktifitas sehari-hari bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk berbuat baik. Tak lupa, shalawat serta salam juga kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw semoga tetap tercurah limpakan kepada keluarganya, para sahabatnya, para pengikutnya, hingga sampai kepada kita semua.
Sehingga mudah-mudahan kita termasuk sebagai umatnya yang senantiasa berusaha meneladani akhlaknya dan kelak dikumpulkan bersamanya di surga. Selaku khatib, saya mengajak kepada diri pribadi umumnya kepada seluruh jamaah untuk senantiasa terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt dengan sebagi-baiknya takwa. Sebab, takwa bukan hanya sekadar simbol religius, tidak juga sekadar menjalankan ibadah formal, akan tetapi juga bisa diartikan sebagai upaya menjaga diri dari yang haram meskipun tak ada yang melihat, menahan diri dari amarah saat mampu membalas, dan tetap lurus meski dunia seolah memaksa untuk menyimpang.
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Kita hidup di zaman ketika amarah lebih cepat tersebar daripada kasih sayang, dan kata-kata kasar lebih banyak viral dibanding ucapan lembut yang penuh kasih sayang. Sehingga anak muda zaman sekarang tumbuh dalam lingkungan yang lebih sering melihat tontonan viral daripada tokoh teladan. Dalam kondisi zaman yang seperti ini, sudah sepatutnya kita bisa menjadikan kanjeng Nabi Muhammad Saw sebagai panutan untuk menjalani kehidupan ini.
Sudah barang tentu, membumikan akhlak Rasulullah bukan hanya sebagai tuntunan moral saja, akan tetapi sebagai kebutuhan untuk menata kembali arah hidup umat. Akhlak yang Nabi contohkan tidak hanya narasi sejarah, tapi peta jalan bagi siapa saja yang ingin tetap di jalan yang Allah ridhai. Saat budaya disekitar sudah saling menjatuhkan, kekerasan, ketidakadilan, dan hal-hal tidak baik lainnya sering terjadi, maka penting menjadikan akhlak Rasulullah sebagai teladan, mulai dari kelembutan, kasih sayang, kebijakan, dan semua sifat-sifatnya yang mulia. Bahkan dalam Al-Qur’an, ditegaskan bahwa orang-orang yang mengakui cinta kepada Allah, ia harus mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 31, Allah Swt berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran, [3]: 31).
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Mengikuti Rasulullah tidak hanya sekadar menunaikan shalat dengan khusyuk atau puasa dengan tekun saja, melainkan juga menghidupkan ruh akhlakul karimah dalam setiap interaksi sosial kita. Ketika kita menjaga lisan dari dusta dan fitnah, itu juga bagian dari ibadah. Ketika kita menghormati hak tetangga dengan tidak mengganggu ketenangannya, itu bagian dari ibadah. Bahkan senyum tulus kepada saudara kita pun bernilai sedekah di sisi Allah.
Termasuk yang Rasulullah Saw lakukan dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari. Nabi mengajarkan bahwa seorang muslim sejati adalah yang lisannya jujur, perilakunya santun, dan kehadirannya membawa ketenteraman dan kedamaian bagi siapa saja. Maka tidak heran, Al-Qur’an memberikan pujian kepada Rasulullah disebabkan akhlaknya yang mulia dan budi pekertinya yang luhur. Seperti firman Allah Swt dalam Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS Al-Qalam: 4).Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Ada salah satu kisah saat Sayyidah Aisyah ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Lalu beliau menjawab bahwa Rasulullah bukanlah pribadi yang kasar, tidak pula berkata keji, tidak suka berteriak di pasar, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, Nabi selalu memaafkan dan berlapang dada. Riwayat ini sebagaimana tercatat dalam Musnad Ahmad, yaitu:
كَانَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا سَخَّابًا بِالْأَسْوَاقِ وَلَا يُجْزِئُ بِالسَّيِّئَةِ مِثْلَهَا وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ
Artinya, “Nabi adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Nabi tidak pernah berkata keji dan tidak berbuat keji, tidak bersuara keras di pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan yang serupa. Namun ia memaafkan dan berlapang dada.” (HR Ahmad). Baca Juga Khutbah Jumat Singkat: Menghidupkan Takwa dalam Seluruh Aspek Kehidupan Tidak hanya itu, hal tersebut juga ditegaskan dalam kitab Ar-Rahiqul Makhtum halaman 62 oleh Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri.
Dalam kitab tersebut, dijelaskan bahwa pernah suatu ketika, saat pemugaran Ka’bah sedang berlangsung dan pembangunan telah sampai pada bagian Hajar Aswad, terjadi perselisihan antar kabilah perihal siapa yang berhak meletakkan batu mulia itu di tempat semula. Pertikaian semakin memanas dan hampir saja menimbulkan pertumpahan darah di dalam Masjidil Haram.
Karena pertikaian tak kunjung selesai, akhirnya Abu Umayyah bin al-Mughirah menawarkan usulan agar keputusannya diserahkan kepada orang pertama yang masuk masjid dari pintu Masjidil Haram. Dan benar saja, orang pertama yang masuk ke masjid kala itu adalah Rasulullah Muhammad. Dan ketika orang Quraisy melihat itu, mereka berkata:
وَشَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ رَسُوْلُ اللهِ، فَلَمَّا رَأَوْهُ هَتَفُوْا هَذَا الْأَمِيْنُ، رَضِيْنَاهُ هَذَا مُحَمَّدٌ
Artinya, “Dan Allah menghendaki bahwa orang itu adalah Rasulullah. Ketika mereka melihatnya, mereka berseru, ‘Inilah al-Amin (yang terpercaya),’ kami rela dia yang melakukannya, ini adalah Muhammad.”
Hadirin kaum muslimin rahimakumullah Kisah ini mengajarkan bahwa akhlak Rasulullah tak sekadar narasi sejarah saja, tapi realitas yang mampu meredakan konflik nyata. Ketika bara pertikaian antarsuku di Makkah, kehadiran Nabi justru menjadi titik temu yang menyatukan hati-hati yang keras. Hal itu karena ia hadir dengan akhlak yang luhur, dan itulah yang menyelesaikan masalah.
Maka hari ini, ketika kita hidup di tengah masyarakat yang mudah tersulut emosi, gampang saling mencela, dan terbiasa menilai tanpa memahami, meneladani Rasulullah tidak lagi perihal idealisme belaka. Tetapi tentang bagaimana kita bisa hadir seperti Nabi yang hadir dengan membawa ketenangan, memulihkan dan menyatukan orang-orang yang konflik. Tidak hanya di mimbar, tapi di meja keluarga, di ruang kerja, di jalan, hingga di media sosial. Karena itu, mari kita jadikan akhlak Rasulullah sebagai kompas dalam bersikap dan bertindak.
Tidak hanya untuk menjadi sempurna, tapi agar kita tidak kehilangan arah di zaman yang krisis akan keteladanan seperti saat ini. Demikian, semoga khutbah ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali menjadikan Rasulullah sebagai teladan sepanjang zaman, tidak hanya untuk didengar, tapi juga dilanjutkan dalam perbuatan dan laku hidup sehari-hari.
Oleh: Ustadz Sunnatullah
5. Meneladani Akhlak Terpuji Nabi Muhammad SAW
Khutbah I: الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Hadirin shalat Jumat Rahimakumullah
Alhamdulillah puji dan syukur mari bersama-sama kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah dan terus memberikan kita nikmat sehat dan juga kesempatan sehingga kita semua bisa melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah. Shalawat dan salam kita haturkan pada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing kita semua dari alam kejahilan, menuju cahaya Islam.
Khatib berwasiat kepada seluruh jamaah untuk terus meningkatkan iman dan takwa. Sebab, Iman dan takwa adalah dua hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam menghadapi dunia yang penuh tipu daya. Karena, hanya dengan iman dan takwalah manusia akan memiliki pedoman hidup yang benar dan akan terhindar dari kebejatan dunia. Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Baru saja, kita memasuki bulan Rabiul Awal 1446 H atau yang lebih dikenal dengan bulan Maulid Nabi, dimana dalam bulan ini merupakan bulan di mana Rasulullah Saw dilahirkan, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 571 Masehi, di Kota Makkah. Beliau adalah manusia yang sangat mulia dan penuh keagungan. Nabi Muhammad Saw adalah teladan terbaik bagi umat manusia. Beliau memiliki akhlak yang paling mulia, sehingga Allah Swt menyebutnya sebagai uswah hasanah (teladan yang baik). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Dalam kitab Tafsir al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Imam Qurthubi menyebutkan bahwa makna “uswah” dalam ayat tersebut adalah panutan. Artinya, Nabi Muhammad adalah sosok teladan, yang tingkah lakunya jadi tempat bersandar. Maka, Rasulullah diikuti dalam semua perbuatannya dan menjadi tempat bersandar dalam semua keadaannya.
Nabi Muhammad adalah sosok yang diteladani dalam keikhlasan; wajah beliau dilukai, lengannya patah, pamannya Hamzah dibunuh, perutnya lapar, dan beliau tidak ditemukan kecuali dalam keadaan sabar dan ikhlas, serta bersyukur dan ridha. Lebih lanjut, saat beliau disakiti, Nabi tidak ada keinginan untuk membalas tindakan tersebut. Misalnya, saat diusir dari Makkah, Nabi Muhammad tidak membalas dengan kekerasan. Nabi justru berhijrah ke Madinah dan mendirikan peradaban Islam yang damai dan adil. Demikian juga ketika dilempari batu oleh penduduk Thaif dengan batu sehingga berdarah pelipis matanya, Nabi Muhammad tidak membalas dengan makian atau lemparan batu. Nabi Muhammad, kata Imam Qurthubi, justru berdoa agar yang menyakitinya mendapatkan hidayah dan kebaikan dari Allah.
للَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يعلمون
Artinya: “Ya Allah ampunilah kaum ku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui perbuatan mereka.” Sejatinya, sikap Nabi Muhammad saat disakiti ini merupakan teladan yang sangat berharga bagi umat Islam. Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu memaafkan orang yang menyakiti kita, bahkan ketika mereka menyakiti kita dengan cara yang tidak terbayangkan. Dengan memaafkan, kita tidak hanya menghilangkan dendam dan kebencian, tetapi juga membuka pintu kebaikan dan kasih sayang.
قَوْلُهُ تَعَالَى”أُسْوَةٌ” الْأُسْوَةُ الْقُدْوَةُ. وَالْأُسْوَةُ مَا يُتَأَسَّى بِهِ، أَيْ يُتَعَزَّى بِهِ. فَيُقْتَدَى بِهِ فِي جَمِيعِ أَفْعَالِهِ وَيُتَعَزَّى بِهِ فِي جَمِيعِ أَحْوَالِهِ، فَلَقَدْ شُجَّ وَجْهُهُ، وَكُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ،
Artinya: “Firman Allah Ta’ala “uswatun” (suatu teladan). Uswatun (suatu teladan) adalah qudwah (contoh). Uswatun (suatu teladan) adalah sesuatu yang diteladani, yaitu sesuatu yang dibanggakan. Maka, seseorang meneladani dalam semua perbuatannya dan bangga dengannya dalam semua keadaannya. Maka, sungguh wajahnya telah terluka, dan tulang pipinya telah pecah.”[Imam Qurthubi, al Jami’ li Ahkami al-Qur’an, [Kairo; Dar Kutub al Misriyah, 1964], halaman 155] Hadirin sidang shalat
Jumat Rahimakumullah
Di sisi lain, Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, dalam Tafsir as-Sam’ani, jilid I, [Riyadh, Darul Wathan, 1997], halaman 270 ayat menekankan bahwa Rasulullah adalah sebagai teladan yang baik bagi umatnya, dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah aspek kesabaran dalam menghadapi cobaan dalam berdakwah. Nabi Muhammad bersabar atas apa yang menimpanya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi kaum Quraish yang kejam.
Nabi Muhammad disakiti hingga beliau patah hidungnya pada perang Uhud, dan luka di dahinya, dan telur pecah di kepalanya, hingga pamannya Hamzah terbunuh, namun Nabi tidak berhenti dalam urusan berdakwah di jalan Allah, dan bersabar atas semua itu. Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Terkait keluhuran akhlak dan budi luhur Rasulullah Safiur Rahman Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, [Beirut; Dar Hilal, 1427 H] halaman 440 memberikan pujian yang tinggi pada akhlak Nabi Muhammad Saw.
Rasulullah katanya, memiliki akhlak yang sempurna, dan kesempurnaan akhlaknya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Setiap orang yang berjumpa dengan Nabi, pasti hatinya dipenuhi dengan penghormatan. Bahkan para lelaki rela mengorbankan diri mereka untuk melindungi dan menghormati beliau, sesuatu yang tidak pernah terjadi pada orang lain. Hadirin sidang shalat Jumat Rahimakumullah Lebih lanjut, orang yang pernah bergaul dengan Nabi akan jatuh hati dan mencintainya hingga batas teramat sangat, dan tidak peduli jika leher mereka dipatahkan atau kuku beliau tergores.
Seseorang akan mencintai beliau karena Nabi Muhammad memiliki kesempurnaan yang dicintai manusia, dan kesempurnaan tersebut tidak pernah dimiliki oleh manusia lain. Al Mubarakfuri memuji Nabi dengan mengutip perkataan Umm Ma’bad al-Khaza’iyah mengatakan bahwa Nabi memiliki penampilan yang cerah, wajahnya bersih, akhlaknya baik, tidak lelah dengan kesabarannya, dan tidak sombong dengan keagungannya. Beliau tampan dan memiliki paras yang indah. Di matanya ada warna hitam pekat, di bulu matanya ada bulu yang halus, di suaranya ada suara yang keras, dan di lehernya ada lekuk yang indah. Nabi bermata biru, bermata hitam, berhidung mancung, dan berkumis.
Rambutnya sangat hitam. Jika beliau diam, beliau tampak berwibawa. Jika beliau berbicara, beliau tampak agung. Beliau adalah orang yang paling tampan dan agung dari jauh, dan orang yang paling baik dan manis dari dekat. Itulah sekelumit akhlak terpuji dan budi agung Nabi Muhammad, seorang teladan di alam semesta. Tidak pernah membenci, apalagi mendendam pada orang yang menyakitinya. Di momentum bulan Muharram ini, waktu yang baik untuk mengamalkan akhlak luhur Rasulullah.
Oleh: Zainuddin Lubis
Itulah kumpulan contoh teks khutbah Jumat Rabiul Awal. Semoga membantu infoers!