Daftar Isi
Denpasar –
Salat Jumat pada 13 Maret 2026 menjadi terakhir pada bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Khutbah Jumat biasanya bisa diisi dengan tema menyambut Idul Fitri.
Khutbah Jumat ini menjadi referensi bagi khatib salat Jumat. Berikut kumpulan khutbah salat Jumat tentang menyambut Idul Fitri yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Idul Fitri Jadi Hari Raya Fitrah, Takwa, dan Kemanusiaan
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah Puji dan syukur pada Allah SWT, yang telah memberikan kita kesempatan dan kesehatan, sehingga bisa melaksanakan shalat Jumat berjamaah. Shalawat dan salam pada Rasulullah SAW, yang akan mengantarkan kita pada syafaat kelak.
Selanjutnya, kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah. Pasalnya, hanya takwa dan iman yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat kelak. Idul Fitri merupakan momen puncak dari perjuangan kita selama sebulan penuh berpuasa di bulan suci Ramadan. Puasa ini adalah upaya kita untuk kembali kepada fitrah, kesucian asli yang Allah berikan kepada manusia.
Semuanya ini bisa kita lakukan berkat bimbingan Allah yang telah menunjukkan jalan dan memberi kesempatan untuk beribadah dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadan. Di balik kemeriahan Idul Fitri, terdapat makna dan hakikat yang mendalam, erat kaitannya dengan ajaran dasar Islam. Bagi kaum beriman, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan peristiwa sentral yang sarat makna.
Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitab Lataif al-Ma’arif, halaman 277 mengatakan bahwa makna Idul Fitri bukan hanya tentang memakai baju baru, melainkan tentang meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Idul Fitri yang sesungguhnya bukan tentang berhias diri dengan pakaian dan kendaraan baru, melainkan tentang mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT.
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدِ اِنَّـمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِبَاسِ وَالْمَرْكُوْبِ اِنَّـمَا الْعيْدُ لِمَنْ غَفَرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ
Artinya; “Bukanlah hari raya bagi orang yang memakai baju baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya bagi orang yang bersolek dengan pakaian dan kendaraan, melainkan hari raya bagi orang yang diampuni dosanya.”
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Marilah kita renungkan sejenak makna dan hakikat Hari Raya ini. “Idul Fitri” berasal dari dua kata, “Id” yang berarti kembali dan “Fitri” yang berarti suci. Jadi, Idul Fitri dapat diartikan sebagai kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian.
Fitrah yang dimaksud dalam Idul Fitri adalah kembali kepada kesucian dan kemurnian diri. Kesucian merupakan esensi dari Idul Fitri, momen suci bagi umat Islam untuk kembali fitrah. Kesucian ini bukan hanya tentang kebersihan fisik, tetapi juga kesucian jiwa dan hati.
Lebih dari itu, Profesor Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an mengatakan, kesucian adalah gabungan tiga unsur yang tak terpisahkan: benar, baik, dan indah. Maksud “benar” berarti sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku, baik norma agama, sosial, maupun hukum. Seseorang yang berpegang teguh pada kebenaran akan selalu bertindak adil dan jujur dalam setiap aspek kehidupannya. Sedangkan makna baik memiliki arti positif dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kebaikan mendorong manusia untuk saling membantu, mengasihi, dan menyebarkan kedamaian. Sementara itu, makna indah adalah sesuatu yang memancarkan estetika dan kesenangan.
Keindahan tidak hanya terbatas pada bentuk fisik, tetapi juga keindahan hati dan perilaku. Dengan demikian, seseorang yang ber-idul fitri dalam arti kembali ke kesuciannya akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik. Ia akan menjadi pribadi yang adil, jujur, dan penuh kasih sayang. Ia juga akan menjadi pribadi yang membawa manfaat dan kebaikan bagi orang lain, serta memancarkan keindahan hati dan jiwa melalui akhlak mulianya.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Bagaimana kita kembali kepada kesucian? Salah satunya dengan menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Di bulan Ramadhan, umat Islam diajarkan untuk meningkatkan ketakwaan, menahan hawa nafsu, dan memperbanyak amal shaleh. Diharapkan setelah Ramadhan, manusia kembali menjadi pribadi yang suci dan bertakwa kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam Surat al-Baqarah [2] ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir al-Munir li Ma’alimit Tanzil, juz II, halaman 42 menyebutkan ibadah puasa merupakan latihan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan menahan diri dari berbagai hawa nafsu, terutama rasa lapar, haus, dan keinginan untuk berhubungan seksual, kita melatih diri untuk lebih patuh kepada Allah SWT.
Kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu ini akan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT secara keseluruhan. Orang yang bertakwa adalah orang yang selalu berusaha untuk patuh kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan meningkatkan ketakwaan, seseorang akan lebih mudah untuk menjalani hidup dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan. Takwa adalah konsep penting dalam Islam yang maknanya lebih dari sekadar takut kepada Allah. Ini adalah kesadaran mendalam bahwa Allah selalu bersama kita, di mana pun kita berada. Kita tidak pernah sendirian.
Kesadaran ini diiringi dengan pemahaman bahwa Allah Maha Tahu, artinya Dia mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan, pikirkan, dan rasakan. Tidak ada yang tersembunyi dari pandangan-Nya. Dengan memahami takwa, umat Islam termotivasi untuk menjalani hidup sesuai dengan ajaran Allah. Mereka berusaha untuk menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Mereka menjaga hati, ucapan, dan tindakan mereka karena mereka tahu Allah selalu melihat. Takwa mendorong mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berakhlak mulia. Hidup dengan takwa membawa ketenangan dan kedamaian batin. Seseorang yang bertakwa tidak akan merasa takut menghadapi kesulitan karena mereka percaya Allah selalu bersama mereka.
Mereka juga terhindar dari perbuatan dosa karena mereka tahu Allah Maha Mengetahui. Takwa menjadi pedoman hidup yang membawa manusia menuju jalan yang benar dan diridhai Allah. Lebih lanjut, hakikat takwa tidak hanya sebatas ritual ibadah, tetapi juga termanifestasi dalam tindakan kemanusiaan.
Hakikat takwa dan kemanusiaan adalah dua pilar fundamental yang saling terkait erat dalam kehidupan manusia. Takwa, yang berarti kesadaran dan ketaatan kepada Tuhan, merupakan landasan spiritual yang menuntun manusia ke arah kebaikan dan kebajikan. Di sisi lain, kemanusiaan merupakan esensi dari keberadaan manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kasih sayang, empati, dan rasa hormat antar sesama.
Takwa menumbuhkan rasa takut dan malu kepada Tuhan, sehingga mendorong manusia untuk menjauhi segala perbuatan tercela dan selalu berusaha melakukan kebaikan. Kemanusiaan mendorong manusia untuk saling membantu, mengasihi, dan memperlakukan satu sama lain dengan adil dan penuh respek. Kedua pilar ini saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Takwa tanpa kemanusiaan dapat menjadikannya kaku dan fanatik, sedangkan kemanusiaan tanpa takwa dapat terjerumus ke dalam kesombongan dan materialisme.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah Jika kita menelaah lebih dalam, terdapat makna takwa yang lebih luas, yaitu takwa sosial. Konsep ini menitikberatkan pada hubungan horizontal antar manusia, menghadirkan dimensi takwa yang lebih membumi dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 133-134 Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini berbicara tentang empat ciri utama orang-orang yang bertakwa, yang semuanya berkaitan dengan kehidupan sosial.
- Pertama, mereka yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, menunjukkan kepedulian terhadap sesama.
- Kedua, mereka yang mampu menahan amarah, mencerminkan kesabaran dan kontrol diri dalam interaksi sosial.
- Ketiga, mereka yang memaafkan kesalahan orang lain, menunjukkan sikap toleransi dan kasih sayang.
- Keempat, mereka yang berbuat kebaikan, membawa manfaat bagi orang lain dan menciptakan lingkungan yang positif.
Secara keseluruhan, keempat ciri ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertakwa tidak hanya fokus pada hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga peduli terhadap sesama dan secara aktif memberikan sumbangsih untuk kemajuan masyarakat.
Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momen untuk kembali kepada fitrah, meningkatkan takwa, dan memperkuat persaudaraan. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa dan penuh kasih sayang.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ Khutbah II الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
2. Mempersiapkan Diri Menyambut Idul Fitri
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ نَوَّرَ قُلُوْبَ أَوْلِيَائِهِ بِأَنْوَارِ الْوِفَاقِ، وَرَفَعَ قَدْرَ أَصْفِيَائِهِ فِيْ الْأَفَاقِ، وَطَيَّبَ أَسْرَارَ الْقَاصِدِيْنَ بِطِيْبِ ثَنَائِهِ فِيْ الدِّيْنِ وَفَاقَ، وَسَقَى أَرْبَابَ مُعَامَلَاتِهِ مِنْ لَذِيْذِ مُنَاجَتِهِ شَرَابًا عَذْبَ الْمَذَاقِ، فَأَقْبَلُوْا لِطَلَبِ مَرَاضِيْهِ عَلَى أَقْدَامِ السَّبَاقِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ، صَلَاةً وَسَلَامًا اِلَى يَوْمِ التَّلَاقِ
أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً صَفَا مَوْرِدُهَا وَرَاقَ، نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاَةَ مِنْ نَارٍ شَدِيْدَةِ الْاَحْرَاقِ، وَأَنْ يَهُوْنَ بِهَا عَلَيْنَا كُرْبُ السِّيَاقِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَشْرَفَ الْخَلْقِ عَلَى الْاِطْلَاقِ، اَلَّذِيْ أُسْرِيَ بِهِ عَلَى الْبَرَاقِ، حَتَّى جَاوَزَ السَّبْعَ الطِّبَاقِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Jamah yang dimuliakan Allah.
Selama satu bulan Ramadhan, Allah swt mendorong umat Muslim untuk memperbanyak ibadah. Ada yang senantiasa bertadarus Al-Qur’an, rajin shalat tarawih, berbagi sedekah takjil, rajin shalat jamaah, dan ibadah-ibadah lainnya. Di penghujung Ramadhan, kita semua bersiap untuk melepas kepergian bulan mulia ini sekaligus bersiap menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri.
Saat Idul Fitri inilah semua umat Muslim bersukaria. Memakai baju baru, menyiapkan aneka kue lebaran untuk menyambut tamu, berkumpul dengan sanak saudara, dan sejumlah momen bahagia lainnya. Anjuran untuk memperlihatkan ekspresi bahagia saat hari kemenangan ini dianjurkan oleh Rasulullah saw. Dalam satu hadits diriwayatkan,
، قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ ”مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ”. قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ”إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر“
Artinya, “Diriwayatkan dari sahabat Anas, ia berkata, ‘Sekali waktu Nabi saw datang di Madinah, di sana penduduknya sedang bersuka ria selama dua hari. Lalu Nabi bertanya ‘Hari apakah ini (sehingga penduduk Madinah bersuka ria)?’ Mereka menjawab ‘Dulu semasa zaman jahiliah pada dua hari ini kami selalu bersuka ria.’ Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah swt telah menggantikannya dalam Islam dengan dua hari yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari raya fitri (Idul Fitri).'” (HR Abu Dawud).
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Hanya saja, jangan sampai kebahagiaan di momen Idul Fitri membuat kita larut dalam kesenangan sehingga lupa bahwa pada hari kemenangan ini Allah menganjurkan kepada kita untuk beribadah dan tetap memiliki kesadaran sosial. Sebab, bisa jadi saat itu ada saudara sesama Muslim yang kondisi ekonominya sedang tidak baik-baik saja sehingga jangankan mengenakan baju baru, untuk menikmati makanan spesial Idul Fitri saja belum bisa.
Saat hari raya Idul Fitri, kesadaran sosial kita seharusnya semakin matang. Jika selama Ramadhan kita digembleng untuk menahan lapar dan dahaga sehingga bisa merasakan bagaimana menjadi orang yang hidupnya berkekurangan, maka Idul Fitri menjadi puncak kematangan empati kita sebagai seorang Muslim. Berbagi kepada saudara yang sedang berkekurangan di momen mulia ini menjadi salah satu bentuk pengamalan dari pengalaman yang sudah kita lalui selama berpuasa.
Bisa jadi saat kita sedang menikmati opor ayam atau bersuka ria memakai baju baru, masih ada saudara yang belum bisa merasakan kenikmatan ini. Oleh sebab itu tepat kiranya jika Idul Fitri dijadikan sebagai momen berbagi. Syekh Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i dalam Kanzun Najāḥ was Surūr mengatakan,
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ
Artinya, “Bukanlah disebut hari ‘id (hari raya Idul Futri) bagi orang yang mengenakan (pakaian) baru. Hari ‘id sesungguhnya adalah ketika ketaatan seseorang meningkat. Setiap hari ketika ia tidak melakukan maksiat, maka hari itu dinamakan ‘id.” (Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i, Kanzun Najāḥ was Surūr, 2009: h. 263).
Apa yang dikatakan Syekh Abdul Hamid di atas menegaskan bahwa esensi hari raya Idul Fitri adalah sejauhmana kita mampu menjaga konsistensi ibadah kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama manusia. Memakai baju baru memang dianjurkan sebagai bentuk syukur atas nikmat hari agung ini, tapi jangan sampai ekspresi syukur tersebut berlebihan sehingga membuat kita lupa bahwa ternyata masih banyak saudara sesama muslim yang belum bisa bermewah ria seperti kita.
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Selain menumbuhkan semangat berbagi, momen Idul Fitri juga harus digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, terutama di malam harinya. Malam Idul Fitri merupakan momen bersuka cita, berkumpul dengan keluarga, bersilaturahmi ke sanak saudara, dan ragam pernik keceriaan lainnya. Namun jangan sampai suasana penuh gembira ini membuat kita terlalu larut dalam kesenangan sehingga lupa mengingat Allah swt. Sebab itu, Rasulullah pernah menyampaikan bahwa siapa yang menghidupkan malam Idul Fitri dengan beribadah maka hatinya akan tetap hidup saat banyak hati yang mati. Rasul bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيدَيْنِ لِلهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ
Artinya, “Siapa saja yang menghidupkan dua malam Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah demi mengharap ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati.” (HR As-Syafi’i dan Ibn Majah).
Menurut Syekh Ahmad ash-Shawi, maksud “hati tidak mati” pada hadits di atas adalah orang tersebut tidak akan mengalami kebingungan saat sakaratul maut, menghadapi pertanyaan malaikat di alam kubur, dan di hari kiamat kelak. (Ahmad ash-Shawi, Bulghatus Sālik li Arqābil Masālik, 1995: juz I, h. 345-346).
Kita bisa meluangkan sebagian waktu di malam Idul Fitri untuk melakukan ibadah sunnah seperti shalat witir, tahajud, shalat Isya berjamaah, dan sebagainya. Kemudian juga berdoa agar Ramadhan tahun ini bukan yang terakhir bagi kita, melainkan bisa berjumpa di Ramadhan-Ramadhan selanjutnya.
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Demikian khutbah singkat yang bisa khatib sampaikan. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi saksi ketaatan kita semua kepada Allah swt, ibadah yang kita lakukan di dalamnya diterima, dan dianugerahi umur panjang untuk berjumpa di Ramadhan-Ramadhan yang akan datang.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
–
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ أَمَّابَعْدُ؛
فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dia yang telah memilih kita untuk merasakan indahnya Ramadhan, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, dan kini mengantarkan kita pada hari kemenangan. Sungguh, jika bukan karena rahmat-Nya, kita tidak akan mampu menahan lapar dan dahaga. Jika bukan karena kasih-Nya, kita tidak akan mampu memperbanyak ibadah dan meninggalkan maksiat.
Wahai saudara-saudaraku, lihatlah bagaimana Allah telah mencurahkan nikmat-Nya kepada kita! Dia masih memberi kita kehidupan, memberi kita kesempatan untuk bertakbir di hari yang agung ini, dan mengizinkan kita menyambut Idul Fitri dengan kebersihan hati. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, namun kini telah kembali kepada-Nya. Betapa banyak yang ingin sujud di pagi ini, namun jasad mereka telah terbaring di peristirahatan terakhir.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Sang cahaya yang menerangi kegelapan, rahmat yang dihadiahkan kepada alam semesta. Dialah teladan terbaik dalam keshabaran, pengorbanan, dan keistiqamahan. Rasul yang menangis dalam sujudnya demi umatnya, yang berpuasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Mu.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di pagi yang penuh kemuliaan ini, langit bersinar lebih terang, udara terasa lebih sejuk, dan hati kita semua dipenuhi kebahagiaan. Hari ini adalah hari kemenangan, hari kembali ke fitrah, hari di mana jiwa-jiwa yang telah ditempa di Madrasah Ramadhan merayakan kesucian dan keberhasilan menundukkan hawa nafsu.
Tetapi mari kita renungkan sejenak: Benarkah kita telah menang? Benarkah kita telah lulus dari ujian Ramadhan? Ataukah kemenangan ini hanya euforia sesaat, sebelum kita kembali kepada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai Ramadhan?
Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi awal dari ujian yang sesungguhnya. Setelah sebulan penuh kita beribadah, berpuasa, bersedekah, dan memperbaiki diri, apakah kita akan tetap istiqamah, atau kembali ke titik awal sebelum Ramadhan datang?
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
“Barang siapa yang beribadah kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.” (HR. Bukhari & Muslim)
Maknanya jelas: Ibadah tidak berhenti di bulan Ramadhan! Allah tetap Tuhan kita setelah Ramadhan berakhir, shalat tetap wajib, sedekah tetap dianjurkan, dan hawa nafsu tetap harus dikendalikan.
Maka hari ini, kita tidak hanya merayakan kemenangan, tetapi juga merenungkan, Apa yang akan kita lakukan setelah Ramadhan? Bagaimana kita mempertahankan ketakwaan ini dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimana kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga berkontribusi bagi keluarga dan bangsa?
Inilah saatnya kita tidak hanya bertanya, tetapi bertindak. Pasca Ramadhan adalah waktu untuk berperan: Bagi diri sendiri, bagi keluarga, dan bagi bangsa. Mari kita simak pesan khutbah ini dengan hati yang terbuka dan niat yang tulus, agar Idul Fitri ini tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi menjadi titik balik dalam kehidupan kita menuju ridha Allah.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Sebagai tanggung jawab moril sebagai alumni madrasah ramadhan, ada tiga hal penting yang wajib kita untuk berperan, yaitu :
1. Berperan untuk Diri: Menjaga Istiqamah dalam Kebaikan
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)
Ramadhan telah membentuk kebiasaan baik dalam diri kita: shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, menahan amarah, bersedekah, serta menjauhi maksiat. Namun, apakah kebiasaan itu akan tetap bertahan setelah Ramadhan berlalu?
Sebagian orang hanya rajin beribadah saat Ramadhan, tetapi setelahnya kembali lalai. Jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi musim ibadah yang berlalu begitu saja. Kita harus menjadikan ibadah dan amal baik sebagai bagian dari hidup kita, bukan hanya sekadar ritual musiman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)
Maka, istiqamahlah! Jangan biarkan semangat Ramadhan mati begitu saja. Jadilah pribadi yang lebih baik, lebih jujur, lebih amanah, dan lebih bertanggung jawab terhadap hidup.
2. Berperan untuk Keluarga: Membangun Rumah Tangga dengan Nilai-Nilai Ramadhan
Keluarga adalah benteng utama dalam membentuk peradaban. Jika kita ingin membangun bangsa yang kuat, mulailah dari keluarga yang kuat. Ramadhan telah mengajarkan kita arti kasih sayang, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam keluarga.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Maka, setelah Ramadhan, kita harus terus membimbing keluarga kita dalam kebaikan. Jangan biarkan rumah kita kembali diisi dengan kemaksiatan, pertengkaran, dan kelalaian. Jadikan rumah tangga sebagai tempat yang penuh dengan ketenangan, ketakwaan, dan keberkahan.
Sebagai suami, jadilah pemimpin yang adil dan bertanggung jawab. Sebagai istri, jadilah pendamping yang salehah dan penuh kasih sayang. Sebagai orang tua, jadilah teladan bagi anak-anak kita. Jika setiap keluarga Muslim kokoh dalam iman dan akhlak, maka bangsa ini akan kuat.
3. Berperan untuk Bangsa: Menjadi Umat yang Bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang-orang yang sholeh secara individu, tetapi juga sholeh secara sosial, yakni umat yang peduli terhadap lingkungannya. Ramadhan mengajarkan kita untuk memiliki empati terhadap sesama, membantu orang yang kesulitan, serta memperjuangkan kebaikan di tengah masyarakat.
Saat ini, kita melihat banyak tantangan dalam kehidupan sosial: kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, serta berbagai krisis moral dan spiritual. Sebagai umat Islam, kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan hanya sekadar pengamat.
Jangan hanya sibuk dengan ibadah pribadi, tetapi melupakan tanggung jawab sosial. Jangan hanya mencari pahala untuk diri sendiri, tetapi lupa untuk menegakkan keadilan dan membela kebenaran di tengah masyarakat.
Allah berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Maka, setelah Ramadhan, jadilah orang yang peduli terhadap sekitar. Bantu saudara-saudara kita yang kesulitan. Mari kita berperan sesuai porsi kita masing-masing. Jika kita seorang pemimpin, pimpinlah dengan keadilan. Kalau kita seorang politikus, jadilah politkus yang pandai memenuhi janji, bukan hanya mahir berjanji namun tidak pernah ditepati. Jika kita seorang guru, mendidiklah dengan ketulusan. Jika kita seorang pengusaha, berbisnislah dengan kejujuran. Jika kita seorang pelajar maupun mahasiswa, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Pada intinya setiap kita memiliki peran dan tanggung jawab untuk membangun bangsa ini.
اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Idul Fitri bukan akhir dari perjalanan ibadah, melainkan awal dari tantangan baru. Ramadhan telah menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka tugas kita sekarang adalah menjaga dan menerapkan nilai-nilai yang telah kita pelajari.
Kita harus berperan, untuk diri kita dengan tetap istiqamah, untuk keluarga kita dengan membangun rumah tangga yang penuh keberkahan, dan untuk bangsa kita dengan menjadi umat yang bermanfaat.
Sebagai penutup mari kita berdoa, semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, memberikan keberkahan dalam hidup kita, dan menjadikan kita bagian dari solusi bagi negeri ini.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، أَمَّا بَعْدُ؛
قَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ, رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ, رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ, وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ, وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
3. Meningkatkan Kepedulian Menjalang Akhir Ramadhan
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Mari kita awali khutbah Jumat pada siang hari ini dengan kalimat syukur al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua, terkhusus nikmat bisa berada di dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa meneladaninya.
Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban bagi kami sebagai khatib, untuk senantiasa mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab hanya dengan takwa kita akan selamat, dan dengan takwa pula semua amal ibadah kita, termasuk puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini, akan diterima oleh-Nya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Tanpa terasa hari demi hari telah berlalu dan kini kita memasuki separuh akhir bulan Ramadhan. Waktu berjalan begitu cepat, sementara kesempatan belum tentu terulang kembali. Maka sudahkah kita melakukan refleksi, agar sisa Ramadhan tidak berlalu sia-sia, melainkan benar-benar membentuk pribadi yang lebih peduli dan peka, serta lebih ringan tangan dalam membantu sesama.
Mari di separuh akhir bulan Ramadhan kita tanyakan pada diri sendiri, sudah sejauh mana puasa yang kita jalani dapat meningkatkan ketakwaan, dan sejauh mana ketakwaan itu bisa meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama? Karena perlu kita ketahui bersama, bahwa takwa tidak hanya bermakna orang yang rajin shalat dan rajin berpuasa, tetapi juga peka terhadap penderitaan orang lain, ringan tangan untuk membantu, dan tidak pernah merasa cukup beribadah sebelum ia mampu berbagi kebahagiaan dengan sesama. Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Artinya: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).
Pada ayat di atas, Allah SWT menegaskan kepada kita semua bahwa kebajikan itu tidak hanya berhenti pada simbol-simbol ibadah saja, tetapi memiliki cakupan yang sangat luas, dan di antaranya adalah kesediaan mengeluarkan harta yang kita cintai untuk kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, para peminta-minta, dan untuk membebaskan hamba sahaya, sebagaimana tertera pada frasa ayat wa âtal-mâla ‘alâ ḫubbihî dzawil-qurbâ…. di atas.
Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marah Labid, jilid I, halaman 57, menjelaskan bahwa yang dimaksud memberikan harta “atas dasar cintanya” adalah ketika seseorang tetap mau menginfakkan hartanya dalam keadaan ia sendiri masih mencintai harta itu. Ia juga masih dalam keadaan sehat, dan masih memiliki keinginan panjang untuk hidup.
Namun justru dalam kondisi seperti itulah ia mampu mendahulukan kerabatnya, terutama yang membutuhkan, anak-anak yatim yang kekurangan, orang-orang miskin, musafir yang kehabisan bekal di perjalanan, serta mereka yang terpaksa meminta karena himpitan kebutuhan. Inilah bentuk kepedulian sosial yang lahir dari ketakwaan sejati:
وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ أَيْ مَعَ حُبِّ الْمَالِ، وَهُوَ أَنْ يُؤْتِيَهُ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَأْمُلُ الْعَيْشَ وَتَخْشَى الْفَقْرَ، ذَوِي الْقُرْبَىٰ أَيْ الْقَرَابَةَ، وَالْيَتَامَىٰ أَيْ الْمَحَاوِيجَ مِنْهُمْ، وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ أَيْ مَارَّ الطَّرِيقِ، وَالسَّائِلِينَ أَيْ الَّذِينَ أَلْجَأَتْهُمُ الْحَاجَةُ إِلَى السُّؤَالِ
Artinya: “Dan memberikan harta yang dicintainya tersebut, yaitu disertai rasa cinta kepada harta, dan engkau memberikannya dalam keadaan sehat, kikir, berangan-angan untuk hidup dan takut akan kefakiran. (Kepada) kerabat dekat, yaitu keluarga. Dan anak-anak yatim, yaitu mereka yang membutuhkan di antara mereka. Dan orang-orang miskin. Dan ibnu sabil, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan. Dan orang-orang yang meminta, yaitu mereka yang kebutuhan hidupnya memaksa mereka untuk meminta-minta.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Oleh karena itu, mari kita lakukan refleksi atas puasa yang sudah kita jalani ini, sudahkah hal itu mampu meningkatkan ketakwaan kita sehingga muncul rasa peduli dan ringan tangan membantu sesama? Jika sudah, mari kita teruskan kebiasaan baik ini, tingkatkan lagi amal sosial kita, dan jadikan sebagai bagian dari karakter iman kita.
Tetapi jika tidak, mari mulai sejak saat ini, untuk lebih peduli dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Karena sesungguhnya, ketakwaan yang sejati akan lahir dari hati yang tulus dan tindakan nyata, dan itulah yang akan menuntun kita menjadi pribadi yang benar-benar bertakwa dan diridhai Allah sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya di atas.
Ada banyak sekali amal-amal berupa kepedulian sosial yang dapat kita lakukan, misalnya memperbanyak sedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, menyiapkan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, menyantuni janda dan lansia yang hidup sendirian, melunasi utang orang yang benar-benar kesulitan, membantu biaya pengobatan mereka yang sakit, memberi pakaian layak pakai, hingga sekadar menyisihkan sebagian rezeki untuk musafir yang kehabisan bekal.
Bahkan senyuman yang tulus, menenangkan hati yang gelisah, menjenguk orang sakit, dan mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuannya pun termasuk bentuk kepedulian sosial yang bernilai ibadah. Semua itu adalah jalan-jalan kebaikan yang terbuka lebar, tinggal sejauh mana kita mau melangkah dan mengamalkannya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikian khutbah Jumat tentang refleksi puasa dan kepedulian sosial ini kami sampaikan. Semoga menjadi pengingat dan motivasi bagi kita semua untuk terus menanamkan dan mengamalkan amal-amal sosial. Karena amal sosial yang kita lakukan tidak hanya mendatangkan pahala dari Allah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dan menebar kasih sayang antar sesama. Amin ya rabbal alamin.
