Ni Komang Dewantari sempat mengeluh tidak kuat bekerja di Turki dua hari sebelum dikabarkan tewas. Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali, mengutarakan keinginan kembali ke Bali dan bertemu buah hati.
Paman korban, I Wayan Guntur, mengatakan keinginan itu diutarakan Komang kepada suaminya melalui sambungan telepon. Komang diketahui baru bekerja di Turki selama lima bulan.
“Dua hari sebelum meninggal, Komang sempat telepon dan mengaku sudah tidak betah bekerja di Turki dan ingin segera pulang ke Bali,” kata Guntur saat ditemui di rumah duka, Minggu (11/1/2026).
Guntur menuturkan, dalam komunikasi terakhirnya dengan sang suami, I Gede Putra Mariasa, Dewantari mengungkapkan rasa rindu yang mendalam kepada kedua anaknya yang masih kecil. Namun, orang tua kandung Dewantari meminta agar ia bersabar hingga kontrak kerjanya berakhir.
“Kontrak kerja Dewantari di Turki 2 tahun, sedangkan ia baru bekerja selama lima bulan di sana, tapi mengaku sudah tidak betah,” ujar Guntur.
Menurut Guntur, komunikasi tersebut menjadi yang pertama sekaligus terakhir selama Dewantari bekerja di Turki. Setelah itu, upaya keluarga untuk menghubunginya tidak berhasil karena nomor telepon korban tidak lagi aktif.
Beberapa hari kemudian, keluarga menerima kabar duka bahwa Dewantari ditemukan meninggal dunia dan jenazahnya terdampar di pantai di Turki.
Selama berada di Turki, Dewantari bekerja sebagai terapis di sebuah spa. Guntur menyebut keponakannya itu baru pertama kali bekerja ke luar negeri. Bahkan, selama berada di Bali, Dewantari tidak pernah bekerja jauh dari keluarga.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
“Dewantari di Turki bekerja di spa sebagai terapis,” ucap Guntur.
Diberitakan sebelumnya, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali, Ni Komang Dewantari, meninggal di Turki. Jenazah perempuan berusia 31 tahun tersebut ditemukan terdampar di pantai negara tersebut.
Pantauan infoBali pada Minggu (11/1/2026), suasana duka masih menyelimuti pihak keluarga di Desa Tulamben. Namun, suami Dewantari dan dua anaknya tidak di rumah karena ada keperluan.
Paman korban, I Wayan Guntur, mengatakan Dewantari berangkat ke Turki untuk bekerja sekitar lima bulan lalu dengan kontrak dua tahun. Namun, suaminya baru mengetahui Dewantari bekerja di Turki sekitar dua bulan lalu. Dewantari dan suaminya sempat ada permasalahan sehingga pisah ranjang.
“Terkait keberangkatan korban ke Turki kami tidak ada yang tahu karena sejak setahun yang lalu korban tinggal di rumah orang tua kandungnya. Suaminya baru tahu dua bulan lalu saat mengunggah postingan di media sosial bahwa dia ada di Turki,” kata Guntur.
