Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo mengidentifikasi 10 lokasi berbahaya untuk pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya Selat Pulau Padar, lokasi tenggelam kapal pinisi Putri Sakinah dengan korban pelatih sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, dan keluarganya.
Lokasi perairan berbahaya itu sebagian besar berada di perairan Taman Nasional Komodo. KSOP melarang kapal wisata berlayar pada malam hari di kawasan-kawasan berbahaya tersebut.
“Ada potensi arus kuat, gelombang tinggi, angin kencang, pusaran air, hingga cuaca yang berubah tiba-tiba,” kata Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo Stephanus Risdiyanto, Jumat (9/1/2026).
Titik-titik berbahaya itu, kata dia, sudah diumumkan kepada nahkoda kapal di Labuan Bajo sebelum mengizinkan kapal-kapal wisata berlayar kembali mulai Jumat. Informasi titik berbahaya pelayaran itu, kata dia, sudah ada sejak tiga tahun lalu.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
“Lokasi berbahaya itu sudah kami umumkan dari tahun 2023, tapi kami info lagi sekarang,” ujar Stephanus.
Adapun 10 lokasi perairan rawan kecelakaan kapal wisata di Labuan Bajo dengan potensi bahayanya:
1. Perairan Pulau Kelor: arus pasang surut kuat
2. Perairan Batu Tiga: arus pasang surut kuat, pusaran air
3. Selat Molo: arus kuat, pusaran air
4. Selat Padar: arus kuat, gelombang tinggi, angin kencang, pusaran air
5. Perairan Loh Kima: pertemuan arus, angin kuat, karang timbul
6. Perairan Pulau Luwu: arus kuat, gelombang tinggi, angin kencang
7. Perairan Pulau Kerangga: arus kuat, gelombang tinggi, angin kencang
8. Perairan Pulau Mauwang: arus kuat, gelombang tinggi, angin kencang
9. Perairan Pulau Tatawa: arus kuat, gelombang tinggi, angin kencang
10. Perairan Pulau Siaba Kecil: arus kuat, gelombang tinggi, angin kencang
Pos SAR Labuan Bajo Diusulkan Jadi Kantor Basarnas
Basarnas mendorong Pos SAR Labuan Bajo ditingkatkan statusnya menjadi Kantor Basarnas. Pertimbangan karena tingginya aktivitas pelayaran di Labuan Bajo yang membutuhkan banyak sumber daya manusia (SDM) dan alat utama (alur) dalam memberikan respon cepat jika terjadi kecelakaan pelayaran.
Pos SAR Labuan Bajo saat ini masih bagian dari Kantor Basarnas Maumere, yang wilayah kerjanya cukup luas, yakni daratan Flores hingga Alor. Dengan status Pos SAR, jumlah personel maupun alut di Labuan Bajo masih terbatas sementara kecelakaan kapal kerap terjadi di daerah tersebut.
“Kami juga melihat dari segi jumlah personel. Luas kerja Kantor SAR Maumere Daratan Flores Alor dengan keterbatasan personel inilah kami menginisiasi menyampaikan ke pimpinan kami di pusat termasuk juga kementerian lain untuk Labuan Bajo ini jadi kantor (SAR),” kata Kepala Kantor Basarnas Maumere selaku SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman di Labuan Bajo, Jumat (9/1/2026).
Menurut Fathur, usulan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembentukan pos SAR di Pulau Padar, tetapi juga penguatan kelembagaan SAR di Labuan Bajo secara keseluruhan. Dengan status Kantor SAR, jelas dia, personel dan alut akan bertambah.
“Betul, secara otomatis begitu ini terbentuk statusnya kantor akan secara SDM, alur akan secara otomatis akan diperbanyak,” kata dia.
Ia mengatakan status Kantor SAR, harapan masyarakat agar dibentuk pos SAR di Pulau Padar atau Rinca, Taman Nasional Komodo bisa direalisasikan. Sebab personel dan alut sudah bertambah.
“Begitu Labuan Bajo menjadi kantor secara otomatis itu akan kembangkan baik di Padar, unit siaga atau apa,” jelas Fathur.
Keberadaan Pos SAR di dalam kawasan Taman Nasional Komodo akan mempercepat pelaksanaan operasi SAR jika terjadi kecelakaan kapal di perairan tersebut dan sekitarnya. Selama ini tim SAR gabungan harus berangkat dari Labuan Bajo untuk melaksanakan pencarian dan pertolongan korban kecelakaan kapal di wilayah TN Komodo.
“Itu salah satu upaya yang kami laksanakan (bangun Pos SAR di Padar). Begitu kami lihat trafik pelayaran yang ada di sini karena tugas Basarnas kan tidak hanya pelayaran tapi ada kejadian-kejadian lain yang ditangani sesuai Undang-Undang,” tandas Fathur.
