Flores Timur –
Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali turun tangan meredam bentrokan dua desa di Kecamatan Adonara Timur. Mediasi dilakukan secara terpisah terhadap warga dari kedua desa pada Jumat malam (6/3), setelah konflik pecah dan menyebabkan rumah warga terbakar serta sejumlah orang terluka.
Wakil Bupati Flores Timur Ignasius Boli Uran mengatakan pemerintah daerah sebelumnya telah memediasi kedua desa pada Kamis (26/2/2026) di Kantor Bupati Flores Timur. Dalam pertemuan itu, pemda mengimbau kedua pihak menahan diri di tengah suasana puasa Ramadan bagi umat Islam dan masa pra-Paskah bagi umat Katolik.
Namun bentrokan tetap terjadi pada Jumat pagi (6/3/2026), sehingga pemerintah kembali melakukan pendekatan kepada kedua pihak.
“Dan sudah terjadi terjadi. Kita kecewa. Pemerintah turun lagi bertemu kedua pihak secara terpisah mengharapkan semuanya tenang dalam suasana keagamaan,” kata Ignas Boli Uran saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).
Ignas berharap komunikasi yang kembali dilakukan pemerintah daerah dapat meredakan ketegangan di tengah masyarakat.
“Kita belajar dari pengalaman, bersabar diri, puji Tuhan sampai sekarang baik,” imbuhnya.
Dua Korban Jalani Operasi
Sementara itu, dua korban bentrokan antardesa menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hendrikus Fernandez Larantuka pada Sabtu pagi.
Direktur RSUD Larantuka Gregorius Bato Koten mengatakan dua pasien rujukan dari Puskesmas Ile Boleng itu dioperasi untuk mengangkat proyektil senjata rakitan yang mengenai leher dan paha korban.
“Rencana jam 9 dan jam 10 pagi ini akan dilakukan operasi,” kata Gregorius saat dikonfirmasi, Sabtu.
Gregorius menyebut dua warga Desa Waiburak tersebut dalam kondisi stabil.
“Pasien dalam kondisi stabil,” imbuhnya.
Polisi Kerahkan 107 Personel
Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra mengatakan polisi langsung turun ke lokasi untuk mengendalikan situasi dan mencegah konflik meluas.
“Personel Polres Flores Timur bersama Polsek Adonara Timur segera melakukan pengamanan di lokasi kejadian serta melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat agar situasi tetap kondusif,” ujar AKBP Adhitya Octorio Putra.
Polisi menempatkan personel di sejumlah titik rawan untuk mencegah pergerakan massa dari kedua kelompok. Kepolisian juga berkomunikasi dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta pemerintah desa guna meredam ketegangan.
“Kami mengedepankan pendekatan humanis dengan melibatkan tokoh adat dan tokoh masyarakat agar persoalan ini dapat diselesaikan melalui musyawarah,” jelasnya.
Polisi juga mendata kerugian materiil akibat bentrokan tersebut. Sebanyak enam bangunan warga mengalami kerusakan dan terbakar, terdiri dari satu unit gudang kopra, dua unit tempat usaha (cuci motor dan pangkas rambut), serta tiga unit rumah tinggal.
“Kerugian materiil akibat kejadian tersebut masih dalam proses pendataan oleh aparat bersama pemerintah desa,” imbuhnya.
Adhitya menyebut sejumlah barang yang diduga digunakan saat bentrokan berlangsung juga diamankan polisi, antara lain ketapel, anak panah, senjata tajam jenis parang, serta beberapa alat rakitan yang diduga digunakan sebagai alat kejut.
Kapolres Flores Timur itu mengimbau masyarakat menahan diri agar situasi tidak semakin memanas.
“Kami mengajak seluruh warga untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban. Percayakan penyelesaian persoalan ini kepada aparat dan pemerintah daerah melalui jalur dialog dan musyawarah,” tandaa Adhitya.
Sengketa Lahan Picu Bentrokan
Sebelumnya, konflik sengketa lahan adat pecah antara Desa Narasaosina dan Desa Waiburak pada Jumat pagi.
Akibat bentrokan tersebut, enam rumah rusak dan terbakar serta lima warga mengalami luka tembak. Dari rekaman video dan foto yang diterima, asap kebakaran terlihat membumbung tebal di udara, sementara warga berhamburan di jalan.
Arus lalu lintas menuju Pasar Waiwerang juga sempat terganggu akibat insiden tersebut. Sebanyak 107 personel TNI dan Polri dikerahkan untuk mengamankan lokasi kejadian






