–
Isu siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lombok Barat tidak diperkenankan mengikuti ujian karena menunggak Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) selama enam bulan viral di media sosial. Tuduhan itu langsung dibantah pihak sekolah.
Kabar tersebut mencuat dari curhatan seorang orang tua siswa asal Gerung. Ia mengaku anaknya tidak diperkenankan mengikuti ujian pada hari pertama, Senin (2/3/2026), lantaran belum melunasi SPP selama enam bulan.
“Tadi pagi anak saya tidak diperkenankan untuk mengikuti ujian di Sekolah. Karena tadi dengan alasan belum membayar SPP. Dan semua diwajibkan harus lunas baru bisa mengikuti ujian tersebut,” tutur orang tua tersebut, dikutip dari Facebook dan Whatsapp, Selasa (3/3/2026).
Ia menyebut belum mampu membayar SPP karena kondisi ekonomi keluarga. “Dan memang karna kondisi. Bukan disengaja,” jelasnya.
Menurut pengakuannya, sang anak hanya duduk diam di dalam kelas saat teman-temannya mengerjakan ujian.
“Karena anak saya didiamkan sendirian, diam dialam ruangan menyaksikan teman temannya yang sedang ujian. Apakah kepala sekolah dan pendidik di sana tidak berpikir bahwa mental anak saya dipertaruhkan gara gara SPP yang belum mampu saya bayar,” katanya.
Sekolah Sebut Tak Ada Larangan
Menanggapi tudingan tersebut, Kepala Sekolah MAN Lombok Barat, Kemas Burhan, membenarkan bahwa siswa kelas XII itu memang belum membayar SPP selama enam bulan terakhir.
“Memang benar itu (belum bayar),” ungkapnya kepada, Selasa (3/3).
Namun, ia menegaskan tidak ada siswa yang dilarang mengikuti ujian meski belum melunasi SPP. Menurutnya, seluruh siswa tetap mengikuti ujian mid semester berbasis Computer Based Test (CBT).
“Itu ujian mid semester, tetap semua ikut ujian menggunakan Computer Based Test (CBT). Kan itu pakai token, tapi kemungkinan dianya sempat malu buat ngambil kemarin ke bagian Kurikulum karena belum bayar (SPP) itu. Saya juga menangkap ada miskomunikasi saat dia sampaikan ke rumah tanpa melihat kondisi ekonomi orang tua. Tapi memang itulah anak, tidak bisa juga kita salahkan anak,” jelasnya.
Kemas memastikan tidak ada guru yang melarang siswa mengikuti ujian. Ia menyebut langkah tersebut justru akan menambah pekerjaan guru karena harus menyiapkan ujian susulan.
Ia juga membantah adanya perlakuan mempermalukan siswa yang belum membayar SPP, seperti disuruh berdiri atau menjadi penonton saat ujian berlangsung.
“Malah kaget guru-guru itu pas mendapat informasi seperti itu. Padahal itu tidak ada siswa yang tidak bayar (SPP) terus disuruh berdiri kemudian ditonton atau menjadi penonton. Itu saya rasa terlalu jauh, bahkan bayangan saja tidak pernah kami kepikiran seperti itu,” tegasnya.
Kemas telah bertemu dengan orang tua siswa tersebut. Persoalan itu, kata dia, telah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Sudah kami ketemu, sudah berpelukan juga. Alhamdulillah ada hikmahnya, kami jadi lebih tahu kondisi wali murid seperti apa,” terangnya.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
“Intinya tetap kita kedepankan kepentingan siswa dulu, apalagi haknya mengempuh pendidikan. Kalau SPP atau uang itu urusan kami dengan orang tua, saya rasa siswa tidak perlu dilibatkan,” pungkasnya.






