Kupang –
Rusly Lingu Djara (34), guru SMP Negeri 2 Sabu Timur, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial setelah videonya diunggah akun Instagram @Honeyliwe.
Dalam unggahan tersebut tertulis narasi yang menyebut hubungan tidak normal antara guru dan murid di bawah umur tanpa hubungan darah, peluk-peluk, cium bahkan nginap-nginapan. Akun itu juga meminta atensi Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua.
Rusly mengaku kaget saat pertama kali melihat unggahan tersebut. Ia merasa dalam postingan itu dirinya dilabeli sebagai sosok yang tidak benar sebagai seorang guru.
“Awal lihat postingan di Instagram terus terang beta (saya) kaget, karena video itu viral dan dikatai tidak benar,” kata Rusly melalui sambungan telepon, Rabu (4/6/2026).
Ia menjelaskan, selain menjadi guru, sehari-hari dirinya juga merupakan seorang kreator konten yang kerap mengabadikan berbagai momen di akun media sosialnya.
“Saya sudah biasa muat video dengan anak-anak selama ini, terlebih lagi di Facebook Pro. Saya juga sempat ditanya orang tua anak-anak, kenapa postingan itu mereka bilang kasihan orang lain tidak tahu apa-apa tapi bisa postingan begitu,” katanya.
Rusly menyebut, di lingkungan sekolah maupun di kalangan orang tua murid, ia dikenal sebagai guru yang tegas sekaligus penyayang siswa.
“Beta ini selama ini dikenal sebagai guru yang dekat dengan anak-anak. Selain itu, beta juga dikenal dengan guru yang tegas. Kalau murid tidak buat kesalahan, maka saya baik dengan murid saya baik dengan semua murid,” pungkas dia.
Menurut Rusly, video yang viral itu direkam setelah jam belajar usai. Dari sejumlah siswa dalam video tersebut, salah satunya merupakan anak angkatnya.
“Saya dekat sekali dengan anak-anak itu, karena saya ini pembina OSIS, karena saya dengan anak-anak biasa buat rantangan cari dana OSIS dan mereka biasa ke rumah saya juga,” pungkasnya.
Ia menegaskan, tidak pernah menyebut tindakan dalam video itu sebagai bagian dari adat atau budaya setempat.
“Saya selalu bilang ke anak-anak, kalau mau datang ke rumah saya maka harus ada izin dari orang tua. Beta tidak pernah bilang apa yang Beta buat itu adat sabu,” tambah dia.
Rusly terganggu dengan unggahan di media sosial tersebut dan menilai kebenarannya perlu diuji.
“Terus terang saya mau bilang, apa yang dilihat belum tentu benar jadi silahkan tanya saya ke pihak sekolah maupun anak-anak saya ini seperti apa orangnya. Video yang viral itu, saya juga posting di media sosial saya (Facebook) saya tidak hanya itu saya juga dekat dengan anak-anak,” tukas dia.
Tunggu Pemeriksaan Dinas Pendidikan
Rusly mengatakan belum memberikan klarifikasi resmi karena menunggu pemeriksaan dari Dinas Pendidikan.
“Tadi kita rapat, dan disampaikan oleh Bapak Kepsek kalau ada perintah dari Pak Sekda kepada pengawas sekolah untuk cek soal itu. Kenapa saya tidak klarifikasi, karena saya menunggu setelah ada periksa dari pihak dinas atau pengawas soal ini,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak terburu-buru menyimpulkan suatu peristiwa.
“Saya berharap, warganet saat menggunakan media sosial lebih bijak. Jangan cepat-cepat menarik kesimpulan yang negatif.” Imbuh dia.
Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sabu Raijua, Septenius Bule Logo, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan Dinas Pendidikan untuk melakukan peninjauan ke sekolah tersebut.
“Kita sudah perintahkan Sekdinas (Sekretaris Dinas) Pendidikan agar beri perhatian dan menelusuri hal itu,” tulis Septenius dalam pesan WhatsApp.






