Aktris Aurelie Moeremans mengejutkan publik lewat buku terbarunya berjudul Broken Strings. Dalam memoar itu, Aurelie mengungkap pengalaman pahitnya menjadi korban grooming saat masih berusia 15 tahun.
Pengakuan tersebut bukan hanya membuka luka pribadi, tetapi juga memperluas kesadaran publik tentang bahaya relasi kuasa antara orang dewasa dan anak.
Istilah grooming mungkin belum akrab bagi sebagian orang. Padahal, praktik ini menyimpan dampak serius karena melibatkan ketimpangan kekuasaan antara pihak dewasa dan anak di bawah umur.
Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa batas utama dalam grooming adalah adanya hubungan romantik yang melibatkan anak di bawah 18 tahun.
“Jadi berarti usia dewasa yang punya hubungan romantik dengan usia anak. Jadi proses grooming ini kita spesifik mengacu kalau ada sebuah periode waktu di mana ada interaksi, ini bisa orang yang dikenal, bisa orang yang tidak dikenal,” kata Arnold , dilansir dari infoHealth, Selasa (13/1/2026).
Menurut Arnold, grooming berlangsung melalui tahapan bertahap. Prosesnya sering dimulai dari manipulasi yang tampak manis, seperti memberi hadiah atau mengajak jalan-jalan, sebelum berkembang menjadi kontrol yang lebih kuat.
“Lalu ada proses manipulasi misalnya dengan memberikan hadiah atau ajak jalan-jalan seperti itu, lama-lama kan mulai ada kontrol. Mulai pegang-pegang bagian tertentu, mulai ada kontak fisik yang tidak senonoh,” paparnya.
Banyak korban baru menyadari dampak psikologis grooming ketika sudah beranjak dewasa. Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan bahwa child grooming merupakan upaya orang dewasa untuk memperoleh keuntungan, baik secara seksual maupun emosional, melalui tipu muslihat dan bujuk rayu.
“Anak dapat mengalami kebingungan, hingga trauma yang mungkin baru mulai muncul ketika sudah dewasa. Dia menyadari memorinya masih ada, tapi karena dia masih anak-anak, dia masih abstrak sensasi emosi yang dirasakan,” ungkap Sari.
Seiring bertambahnya usia, kapasitas berpikir dan pemahaman terhadap batasan diri semakin matang. Memori masa lalu yang dulu terasa samar kemudian ditafsirkan ulang dengan sudut pandang dewasa. Di titik inilah, guncangan emosional sering muncul.
“Tapi begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar, yang berpengaruh pada kesehatan mental dia berikutnya,” pungkas Sari.
Kisah Aurelie Moeremans lewat Broken Strings menjadi salah satu contoh nyata bagaimana grooming bekerja secara halus dan manipulatif. Pengalamannya membuka diskusi publik bahwa eksploitasi anak kerap berlangsung dalam proses panjang, bukan peristiwa yang tiba-tiba.
Edukasi menjadi kunci pencegahan. Berdasarkan data dari lembaga perlindungan anak seperti NSPCC di Inggris dan Raising Children Network di Australia, pelaku grooming umumnya menunjukkan pola perilaku tertentu. Mereka kerap memberi perhatian berlebih agar korban merasa spesial, lalu perlahan menjauhkan anak dari lingkungan sosialnya.
Tahap berikutnya adalah menguji batas fisik, dimulai dari sentuhan yang terlihat wajar hingga berkembang menjadi perilaku tidak pantas. Pelaku juga sering membangun budaya rahasia dengan kalimat seperti, “Ini rahasia kita saja ya,” agar korban enggan bercerita. Hadiah atau uang digunakan sebagai alat kontrol, membuat anak merasa terikat secara emosional.
Anastasia Sari Dewi menegaskan bahwa dampak grooming tidak berhenti pada masa anak-anak. Luka psikologis kerap terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental jangka panjang.
“Anak dapat mengalami kebingungan, hingga trauma yang mungkin baru mulai muncul ketika sudah dewasa,” papar Sari.
Kesadaran ini penting, karena pelaku grooming bisa berada di lingkungan terdekat. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, serta edukasi tentang batasan tubuh, menjadi fondasi utama pencegahan.
Jika menemukan atau menjadi korban kekerasan seksual, masyarakat diminta segera melapor melalui layanan SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Layanan ini dapat diakses melalui hotline 129 atau WhatsApp di nomor 081111129129.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Bagi Aurelie, Broken Strings bukan sekadar kisah pribadi. Ia ingin pengalamannya menjadi peringatan bahwa kekerasan seksual sering kali datang perlahan dan sulit dikenali sejak awal. Melalui media sosial, Aurelie menegaskan harapannya agar para gadis muda lebih waspada terhadap tanda manipulasi, dan para penyintas berani mengambil kembali suara mereka.
Pakar psikologi dari CPMH UGM, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., menjelaskan bahwa esensi grooming terletak pada proses persiapan yang panjang.
“Grooming itu maknanya positif, yaitu mempersiapkan supaya nanti hasilnya lebih siap atau baik… Namun dalam kasus ini, memang segala hal dilakukan untuk mempersiapkan anak atau remaja menjadi target,” terang Nurul dikutip dari laman UGM.
Pelaku sering masuk lewat pintu perhatian, membuat korban merasa memiliki hubungan romantis yang tulus. Padahal, di balik itu terdapat pola kontrol yang perlahan mengikat.
Salah satu bahaya terbesar dari grooming adalah ketergantungan emosional yang diciptakan pelaku. Korban kerap merasa “dicintai” dan dipahami, sehingga sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Anastasia Sari Dewi mengingatkan bahwa luka akibat grooming kerap menjadi “bom waktu”.
“Dia menyadari memorinya masih ada, tapi karena dia masih anak-anak, dia masih abstrak sensasi emosi yang dirasakan. Begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar,” ungkap Sari.
Grooming bukan sekadar isu personal, tetapi persoalan sosial yang membutuhkan kewaspadaan bersama. Edukasi, keberanian untuk bicara, dan akses bantuan menjadi tiga pilar utama agar lingkaran manipulasi ini bisa diputus.
Artikel ini telah tayang di infoHealth. Baca selengkapnya
(dpw/dpw)
Mengapa Trauma Baru Terasa Saat Dewasa?
Mengenali Pola Pelaku Grooming
Dampak Psikologis yang Berkepanjangan
Grooming sebagai Proses yang “Disiapkan”
Mengapa Kita Harus Waspada?
Banyak korban baru menyadari dampak psikologis grooming ketika sudah beranjak dewasa. Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menjelaskan bahwa child grooming merupakan upaya orang dewasa untuk memperoleh keuntungan, baik secara seksual maupun emosional, melalui tipu muslihat dan bujuk rayu.
“Anak dapat mengalami kebingungan, hingga trauma yang mungkin baru mulai muncul ketika sudah dewasa. Dia menyadari memorinya masih ada, tapi karena dia masih anak-anak, dia masih abstrak sensasi emosi yang dirasakan,” ungkap Sari.
Seiring bertambahnya usia, kapasitas berpikir dan pemahaman terhadap batasan diri semakin matang. Memori masa lalu yang dulu terasa samar kemudian ditafsirkan ulang dengan sudut pandang dewasa. Di titik inilah, guncangan emosional sering muncul.
“Tapi begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar, yang berpengaruh pada kesehatan mental dia berikutnya,” pungkas Sari.
Kisah Aurelie Moeremans lewat Broken Strings menjadi salah satu contoh nyata bagaimana grooming bekerja secara halus dan manipulatif. Pengalamannya membuka diskusi publik bahwa eksploitasi anak kerap berlangsung dalam proses panjang, bukan peristiwa yang tiba-tiba.
Edukasi menjadi kunci pencegahan. Berdasarkan data dari lembaga perlindungan anak seperti NSPCC di Inggris dan Raising Children Network di Australia, pelaku grooming umumnya menunjukkan pola perilaku tertentu. Mereka kerap memberi perhatian berlebih agar korban merasa spesial, lalu perlahan menjauhkan anak dari lingkungan sosialnya.
Tahap berikutnya adalah menguji batas fisik, dimulai dari sentuhan yang terlihat wajar hingga berkembang menjadi perilaku tidak pantas. Pelaku juga sering membangun budaya rahasia dengan kalimat seperti, “Ini rahasia kita saja ya,” agar korban enggan bercerita. Hadiah atau uang digunakan sebagai alat kontrol, membuat anak merasa terikat secara emosional.
Mengapa Trauma Baru Terasa Saat Dewasa?
Mengenali Pola Pelaku Grooming
Anastasia Sari Dewi menegaskan bahwa dampak grooming tidak berhenti pada masa anak-anak. Luka psikologis kerap terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kesehatan mental jangka panjang.
“Anak dapat mengalami kebingungan, hingga trauma yang mungkin baru mulai muncul ketika sudah dewasa,” papar Sari.
Kesadaran ini penting, karena pelaku grooming bisa berada di lingkungan terdekat. Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, serta edukasi tentang batasan tubuh, menjadi fondasi utama pencegahan.
Jika menemukan atau menjadi korban kekerasan seksual, masyarakat diminta segera melapor melalui layanan SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Layanan ini dapat diakses melalui hotline 129 atau WhatsApp di nomor 081111129129.
Bagi Aurelie, Broken Strings bukan sekadar kisah pribadi. Ia ingin pengalamannya menjadi peringatan bahwa kekerasan seksual sering kali datang perlahan dan sulit dikenali sejak awal. Melalui media sosial, Aurelie menegaskan harapannya agar para gadis muda lebih waspada terhadap tanda manipulasi, dan para penyintas berani mengambil kembali suara mereka.
Pakar psikologi dari CPMH UGM, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., menjelaskan bahwa esensi grooming terletak pada proses persiapan yang panjang.
“Grooming itu maknanya positif, yaitu mempersiapkan supaya nanti hasilnya lebih siap atau baik… Namun dalam kasus ini, memang segala hal dilakukan untuk mempersiapkan anak atau remaja menjadi target,” terang Nurul dikutip dari laman UGM.
Pelaku sering masuk lewat pintu perhatian, membuat korban merasa memiliki hubungan romantis yang tulus. Padahal, di balik itu terdapat pola kontrol yang perlahan mengikat.
Salah satu bahaya terbesar dari grooming adalah ketergantungan emosional yang diciptakan pelaku. Korban kerap merasa “dicintai” dan dipahami, sehingga sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Anastasia Sari Dewi mengingatkan bahwa luka akibat grooming kerap menjadi “bom waktu”.
“Dia menyadari memorinya masih ada, tapi karena dia masih anak-anak, dia masih abstrak sensasi emosi yang dirasakan. Begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar,” ungkap Sari.
Grooming bukan sekadar isu personal, tetapi persoalan sosial yang membutuhkan kewaspadaan bersama. Edukasi, keberanian untuk bicara, dan akses bantuan menjadi tiga pilar utama agar lingkaran manipulasi ini bisa diputus.
Artikel ini telah tayang di infoHealth. Baca selengkapnya
