Daftar Isi
Ngada –
Kampung Adat Gurusina merupakan Kampung Adat Megalitik tertua yang ada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kampung ini memiliki tradisi budaya yang sangat kuat, salah satunya adalah upacara Reba.
Reba merupakan upacara tahunan yang berkaitan erat dengan pertanian tradisional masyarakat Ngada. Ritual ini biasanya dilaksanakan sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur yang telah memberikan hasil panen yang sangat melimpah.
Bagi masyarakat Adat Gurusina, Reba menjadi sebuah pedoman hidup untuk terus berinteraksi dengan tuhan, dan alam. Dalam pelaksanaanya, Reba memiliki beberapa tahapan yang perlu dilalui. Tentunya setiap tahapan memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Adat Gurusina di Kabupaten Ngada, NTT.
Lebih lanjut tentang upacara Reba dapat detikers baca pada ulasan berikut ini. Informasi ini dirangkum dari jurnal yang ditulis oleh Maria Arianti Bate (2023) dengan judul Menggali Makna Perayaan Reba Bagi Kehidupan Iman Umat Di Lingkungan Gurusina dan pada jurnal yang ditulis oleh Dionisius Tuli Bue (2017) dengan judul Peran Kepala Adat Dan Kedudukan Masyarakat Pengemban Dalam Melindungi Nilai Upacara Reba Sebagai Ekspresi Budaya Tradisional.
Apa itu upacara Reba?
Reba atau o uwi adalah upacara adat yang memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada tuhan atas limpahan hasil panen yang diberikan. Upacara ini sudah ada sejak zaman dahulu, kemudian diwariskan oleh leluhur masyarakat Gurusina kepada anak cucu dan dilestarikan hingga saat ini.
Adanya Reba tidak terlepas dari mitos yang dipercayai oleh masyarakat setempat. Mitos ini merujuk pada sebuah tokoh Sili (leluhur atau nenek moyang yang sangat dihormati) yang merupakan guru besar dan sangat terkenal di kalangan masyarakat Ngada. Sili dijuluki sebagai pendiri upacara Reba di tanah Ngada. Hal ini terungkap dari sebuah kalimat “Sili Ana Wunga Nuka Gua”, yang memiliki arti Sili adalah anak pertama yang membuka jalan di tanah Ngada.
Informasi ini didapatkan dari sebuah jurnal yang ditulis oleh Dionisius Tuli Bue (2017) dengan judul Peran Kepala Adat Dan Kedudukan Masyarakat Pengemban Dalam Melindungi Nilai Upacara Reba Sebagai Ekspresi Budaya Tradisional.
Makna upacara Reba
Upacara Reba memiliki beberapa makna bagi masyarakat Kampung Adat Gurusina. Pertama, untuk menghormati Sili sebagai penemu upacara Reba dan keberhasilannya menanam ubi yang menjadi makanan pokok masyarakat Ngada.
Kedua, sebagai sarana dalam mempererat persaudaraan. Saat melangsungkan upacara Reba, keluarga besar diharuskan untuk hadir dalam rangka merefleksikan diri tentang kehidupan selama setahun penuh.
Tidak hanya sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil pertanian yang diberikan tuhan, Reba juga menjadi sebuah upacara untuk menyatukan pribadi dengan sesama manusia dan lingkungan alam. Reba sebagai sarana bagi pria untuk mengikat janji saat datang ke rumah gadis.
Prosesi pelaksanaan upacara Reba
Upacara Reba memiliki tiga tahap yang harus dilaksanakan. Tahapan ini meliputi upacara awal, upacara inti, dan upacara akhir. Mari kita bahas satu-satu setiap tahapannya.
• Upacara Awal
Dalam tahap awal ini ada tiga ritual yang harus dijalankan oleh masyarakat Ngada. Pertama adalah Paki Sobhi, yaitu hari pertama dari perayaan Reba. Pada hari ini masyarakat akan membuat sebuah sisir berbahan bambu yang digunakan sebagai kalender adat. Kedua adalah Rebha, yaitu upacara yang dilaksanakan di ladang pada pagi hari di hari pertama.
Setelah upacara itu selesai, dilanjutkan dengan upacara ketiga yaitu Tege Kaju. Ini merupakan upacara memasukan kayu api ke dalam rumah adat. Sebelum dimasukan, kayu-kayu ini telah dipotong dan dikeringkan selama satu bulan sebelum upacara Reba. Adapun upacara terakhir pada tahap awal ini adalah Reba Bhaga, yaitu miniatur rumah adat (Sa’o) yang didirikan tepat di tengah-tengah pemukiman warga.
• Upacara Inti
Setelah menyelesaikan semua rangkaian pada tahap awal, masyarakat Ngada kemudian melaksanakan tahap inti yang terdiri dari dua bagian, yaitu Khobe Dheke (malam pertama upacara Reba), dan Sedo Uwi (Tari syukuran).
Khobe Dheke adalah menaiki Sa’o harus melalui tangga terutama jika ingin naik pada bagian paling tinggi dari rumah adat Ngada (one sa’o). Hal ini dilakukan pada malam pertama perayaan Reba yang dihadiri oleh seluruh keluarga besar dan tetangga-tetangga yang ada disekitar. Pada rangkaian Khobe Dheke ini juga dimaknai sebagai malam reuni keluarga untuk mempererat tali silaturahmi.
Setelah Khobe Dheke selesai, dilanjutkan dengan penampilan Sedo Uwi yang merupakan tarian khusus dalam perayaan Reba. Penampilan tarian ini dilakukan oleh seluruh masyarakat baik anak kecil, remaja, hingga orang tua. Semua penari akan menggunakan baju adat Ngada. Setelah siap, para penari kemudian membentuk lingkaran dan menghentakan kaki maju mundur sembari menyanyikan o uwi e.
• Upacara Akhir
Penutupan upacara Reba adalah pojo tebu (ikat sayur). Ini merupakan upacara melakukan pembersihan sampah dari hasil upacara Reba yang dilakukan pada malam hari. Jika sudah selesai melaksanakan kegiatan pojo tebu, masyarakat dilarang untuk menceritakan perayaan Reba yang sudah dilakukan. Masyarakat setempat percaya, apabila hal ini dilanggar akan menimbulkan sebuah bencana besar.






