Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut mengompori situasi di Iran. Dia menyerukan warga Iran untuk terus menggelar demonstrasi besar-besaran.
“Para Patriot Iran, TERUS BERDEMONSTRASI – KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA ANDA!!!… BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social, dilansir dari infoNews, Rabu (14/1/2026).
Trump juga membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga pembunuhan tanpa akal sehat terhadap para demonstran dihentikan.
Kerusuhan yang dipicu kondisi ekonomi yang kian memburuk ini disebut menjadi tantangan internal terbesar bagi pemerintahan ulama Iran setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Seorang pejabat Iran sebelumnya menyebut sekitar 2.000 orang tewas dalam rangkaian protes tersebut.
Pejabat itu, yang berbicara kepada Reuters, mengatakan pihak yang ia sebut sebagai teroris berada di balik kematian para demonstran dan personel keamanan. Namun, pejabat tersebut yang menolak disebutkan namanya itu tidak merinci siapa saja korban tewas dalam kerusuhan tersebut.
Pada Senin (12/1) malam, Trump mengumumkan tarif impor sebesar 25% terhadap produk dari negara mana pun yang berbisnis dengan Iran. Iran diketahui merupakan salah satu eksportir minyak utama dunia.
Trump juga menyebut opsi tindakan militer termasuk dalam langkah yang tengah ia pertimbangkan untuk menghukum Iran atas tindakan keras terhadap demonstran. “Kami siap siaga,” ujar Trump.
Hingga kini, Iran belum menanggapi secara terbuka pengumuman tarif tersebut. Negara yang sudah berada di bawah sanksi berat Amerika Serikat itu mengekspor sebagian besar minyaknya ke China, dengan Turki, Irak, Uni Emirat Arab, dan India termasuk di antara mitra dagang utamanya.
