Terdakwa Penembakan WN Australia Minta Maaf kepada Keluarga Zivan

Posted on

Terdakwa kasus penembakan dua warga negara (WN) Australia di Vila Casa Santisya 1, Desa Munggu, yakni Darcy Francesco Jenson (27) menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban, Zivan Radmanovic. Hal tersebut disampaikannya di sela-sela sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Pada sidang tersebut, keluarga korban diwakili oleh ibu mertua Zivan yang hadir dan didampingi kuasa hukum keluarga korban, Sary Latief. Sary mengatakan keluarga korban bersedia mendengarkan permohonan maaf dari terdakwa.

“Jadi, kesempatan yang diberikan adalah untuk mendengarkan. Tapi, tidak menyampaikan apakah menerima atau tidak (permintaan maaf),” kata Sary di PN Denpasar pada Senin (5/1/2026).

Darcy mengungkapkan bahwa sebelumnya ia telah menyampaikan permintaan maaf dalam sidang beberapa waktu lalu. Namun, saat itu tidak ada perwakilan keluarga korban yang hadir.

Ia menilai hadirnya keluarga korban dalam sidang hari ini merupakan kesempatan baginya untuk mengucapkan permintaan maaf secara langsung. Darcy mengaku sebetulnya dia tak ingin menyampaikan permintaan maaf di depan awak media.

“Tapi, karena setelah ini saya akan langsung kembali ke Lapas, tidak akan ada lagi kesempatan bagi saya untuk menyampaikan permohonan maaf ini,” sebut Darcy.

Ia menyampaikan permohonan maaf atas keterlibatannya dalam tindak pidana yang menyebabkan Zivan meninggal dunia. Darcy mengaku menyesali perbuatannya yang berdampak besar bagi keluarga korban.

“Saya tidak pernah ada niatan, saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf dan saya tidak memerlukan jawaban. Saya hanya ingin permintaan maaf ini bisa didengarkan secara langsung oleh pihak keluarga dan saya hanya ingin menyampaikan betapa saya menyesali perbuatan saya,” ungkap Darcy.

Selain Darcy, dua terdakwa lainnya, yakni Mevlut Coskun (22) dan Paea-i-Middlemore Tupou (26), juga menyampaikan permintaan maaf dalam persidangan. Mevlut menyatakan rasa malu atas perbuatannya dan menyebut kejadian tersebut sebagai kesalahan besar.

“Saya sangat malu atas apa yang saya perbuat. Saya ingin meminta maaf kepada keluarga karena mengalami hal yang buruk karena apa yang saya perbuat pada Sanar. Bukan karena saya sudah tertangkap, saya ingin meminta maaf dengan tulus kepada keluarga korban,” sebut Mevlut.

Menurutnya, apa yang ia lakukan telah memberikan kesedihan kepada keluarga korban. Hal serupa juga disampaikan oleh Tupou.

“Saya ingin menyampaikan kepada keluarga korban saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Awalnya saya datang kesini bukan untuk membunuh korban, saya hanya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya,” bebernya.

Sebelumnya, Mevlut Coskun mengaku tengah membutuhkan biaya untuk rencana pertunangannya dengan sang kekasih di Australia. Ia lantas ditawari pekerjaan di Bali oleh temannya.

Pekerjaan yang dimaksud, kata Mevlut, adalah menagih utang dari Sanar yang saat itu berada di Bali. Ia dijanjikan akan menerima upah setelah berhasil menagih utang tersebut. Namun, Mevlut mengaku tidak mengetahui besaran upah maupun nilai utang yang harus ditagih.

Sebelum kejadian penembakan, Mevlut mengatakan dirinya menerima informasi mengenai Sanar dan alamat vila tempat korban menginap melalui pesan grup. Saat itu, ia diberitahu bahwa hanya Sanar yang berada di vila tersebut. Faktanya, di vila itu juga terdapat beberapa orang lain, termasuk Zivan Radmanovic.

Ia menuturkan, senjata api yang dibawa olehnya dan Paea-i-Middlemore Tupou hanya dimaksudkan untuk menakut-nakuti Sanar agar mau melunasi utangnya.

Saat tiba di vila, keduanya berpencar untuk memeriksa beberapa kamar agar tidak terlalu lama berada di lokasi. Mevlut mengaku sempat bertemu dengan Sanar dan mengancam akan menembaknya. Sanar disebut berteriak meminta Mevlut keluar dan mengaku tidak memahami tujuan kedatangannya.

Pernyataan serupa disampaikan oleh Tupou. Ia mengaku menerima pekerjaan tersebut karena alasan ekonomi dan kebutuhan untuk menghidupi keluarga. Tugas yang diberikan kepadanya, kata Tupou, juga untuk menagih utang dan menakut-nakuti korban.
Tupou mengaku menembak Zivan karena mengira pria tersebut adalah Sanar.