Tak Cuma di Tanjung Benoa, Rujak Batu-batu Kini Bisa Dinikmati di Ubud

Posted on

Rujak batu-batu adalah makanan khas Kelurahan Tanjung Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Walhasil, infoers perlu ke Tanjung Benoa untuk menikmati kuliner khas tersebut.

Namun, infoers yang posisinya di tengah-tengah Pulau Dewata kini tak mesti jauh-jauh ke Tanjung Benoa demi menikmati rujak batu-batu. Sebab, rujak ini sudah dijual di Banjar Silungan, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar, tepatnya di Warung Bu Ayu.

Warung Bu Ayu menjadi pilihan tempat nongkrong yang tepat bagi anak muda Bali yang doyan ngerujak. Pantauan infoBali, Warung Bu Ayu cukup ramai dikunjungi pada Senin (22/12/2025) sekitar pukul 16.00 Wita.

Sore itu, tak banyak pilihan rujak yang masih tersedia di Warung Bu Ayu. Banyak buah, termasuk bulung boni (anggur laut) yang juga menjadi menu andalan, sudah habis. infoers yang berkunjung ke Warung Bu Ayu disarankan lebih pagi karena tempat makan ini sudah buka sejak pukul 10.00 Wita.

Pemilik warung, Ayu, mengatakan usahanya dengan menu rujak batu-batu merupakan pelarian dari pandemi COVID-19. Warung dibuka setelah anaknya yang lebih banyak beraktivitas di Denpasar membawa batu-batu dan bulung boni dari Tanjung Benoa.

(Rujaknya) tidak persis sama seperti dari lokasi asalnya. Saya ubah bumbu rujaknya pakai kuah pindang,” cerita Ayu kepada infoBali.

Rujak kuah pindang merupakan kuliner unik khas Bali. Buah disiram dengan kuah gurih dari kaldu ikan pindang atau tongkol yang dimasak bersama cabai, gula, garam, terasi, dan rempah lainnya. Cara ini membuat amis dari ikan tak lagi terasa. Justru rasa asin, gurih, dan menyegarkan yang siap menggoyang lidah.

Apalagi, Warung Bu Ayu tidak hanya buah-buahan yang umum dimakan seperti mangga, nanas, belimbing, rambutan, salak, maupun jambu. Di warung ini, terdapat juga buah-buahan yang mulai langka, seperti juwet, kaliasem, utu, kedondong, dan boni.

“Buahnya semua tergantung musiman. Tidak selalu lengkap tersedia. Untuk batu-batu dan bulung boni itu restock seminggu sekali. Sudah punya supplier yang seminggu sekali membawakan ke sini,” sambung Ayu.

infoBali sempat mencoba rujak batu-batu dicampur buah utu dan kedondong. Buah utu itu berbentuk bulat lonjong dengan batu yang besar. Sedangkan, daging yang menyelimutinya justru sedikit sehingga harus berhati-hati agar tidak menelan batunya. Cukup disesap seperti menikmati durian.

Dagingnya yang lembut dan aromanya menyerupai tapai singkong, tetapi rasa sedikit mirip durian. Tampilan buah utuhnya pun menyerupai buah nangka.

Sementara itu, batu-batu merupakan kerang laut berwarna gelap yang sudah direbus. Konon namanya berasal dari proses pemecahan cangkangnya yang keras. Tekstur batu-batu kenyal, tidak berbau amis, tetapi cenderung hambar. Kuah rujak pindang menjadi cocok ditambahkan dalam tiap suapan batu-batu.

Terakhir, ada buah kedondong yang melengkapi dengan tekstur renyah dan rasa asamnya. Lebih nikmat bila ditutup dengan hidangan minuman yang manis dan segar, seperti es salak, es daluman, es campur hingga aneka jus buah. Semua menu bisa dibandrol dengan harga murah mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu.

“Saya tidak berani memberi harga mahal. Karena jualan di desa. Di sini menu best seller-nya rujak batu-batu dengan bulung boni, tipat santok, dan es salak,” terang Ayu.

Warung Ayu tak hanya menyajikan menu rujak yang nikmat. Fasilitas tempat parkir di warung itu juga cukup besar untuk kendaraan roda dua dan empat. Lokasinya berada di pinggir jalan, sekitar 450 meter ke utara dari Kantor Desa Lodtunduh.