Tahan Tangis, Kompol Yogi Cerita Angkat Tubuh Brigadir Nurhadi dari Kolam

Posted on

Mataram

Kompol I Made Yogi Purusa Utama, menceritakan detik-detik mengangkat tubuh Brigadir Muhammad Nurhadi yang berada di dasar kolam Villa Tekek The Beach House Resort, Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Yogi menjadi terdakwa kasus pembunuhan Brigadir Muhammad Nurhadi, bersama Ipda I Gde Aris Chandra Widianto. Yogi awalnya menceritakan tidak sadarkan diri setelah mengonsumsi riklona dan ekstasi.

“Terakhir saya lihat HP itu pukul 17.05 Wita. Saya pribadi rasakan sudah tidak fokus terhadap HP. Konsentrasi menurun, kondisi lemas, saya menaruh HP di kantong kanan. Saya sempat merangkul Saudari Misri, di situlah saya tertidur,” kata Yogi saat menjadi saksi mahkota untuk terdakwa Aris Chandra, Senin (23/2/2026).

Saat itu, masih ada terdakwa Aris, Misri Puspita Sari, Meylani Putri dan Nurhadi berada dalam kolam. Yogi mulai sadar setelah dibangunkan oleh Misri. Saat itu, Yogi menemui dirinya sudah berada di atas kamar tempat tidur, menggunakan selimut.

“Saya dibangunkan Misri ada di tempat tidur, menggunakan selimut. Membangunkan, menggoyangkan tangan kiri saya,” sebutnya.

Yogi menanyakan ke Misri saat itu pukul berapa. Misri menjawab pukul sembilan. Yogi juga mengaku menanyakan keberadaan Nurhadi, Putri, dan Aris.

“Saya sempat bertanya kepada Misri, yang lain mana? Sudah pada balik, Bang,” ungkap Yogi menirukan jawaban Misri.

Pada sata bertanya itu, Yogi mengaku posisinya masih berada di atas tempat tidur dan menghadap tembok. Dari tempat tidur itu, halaman dan kolam vila terlihat. Hanya saja dasar kolam tidak terlihat.

“Karena saat itu lampu halaman vila agak remang, redup,” katanya.

Tidak bertemu dengan yang lain, selain Misri, Yogi menelepon Aris. Saat itu, Yogi menyatakan posisinya masih berada di atas tempat tidur. Saat itu, Aris menjawab sedang berada di restoran. Yogi kemudian menanyakan keberadaan Putri, terdakwa Aris menjawab sedang tidur di dalam kamar.

Setelah itu, Yogi menanyakan keberadaan Nurhadi. Aris menjawab terakhir kali melihat Nurhadi berada di kolam. “Mana ada di kolam, sepi,” timpal Yogi ke Aris waktu itu.

Mendengar jawaban atasannya itu, terdakwa Aris kembali menjawab dengan mengatakan kemungkinan Nurhadi berada di dalam kamar tempatnya tidur. “Mungkin sudah balik, Ndan. Di kamar,” sambung Yogi menirukan jawaban terdakwa Aris.

Saat itu, posisi Misri duduk di atas sebuah meja kayu. Misri menghadap arah selatan. “Posisi Misri menghadap ke selatan. Saya duduk menghadap ke timur, tembok. Posisi kolam berada di sisi selatan,” katanya.

Setelah menghubungi Aris, Yogi masih memainkan ponselnya. Ia mengaku saat itu membalas pesan WhatApp. Kebetulan juga ada seorang tahanan kasus narkotika kabur dari Rutan Polda NTB. Saat itu, Misri menanyakan kenapa ada botol di dalam kolam.

“Saya menjawab, memang kalian ngapain saja bawa botol ke kolam,” ujarnya.

Misri sempat terdiam. Namun, tiba-tiba kembali bertanya kenapa kolam itu airnya keruh. “Kan kalian saja berempat tadi berenang. Ngapain kok airnya sampai keruh,” jawab Yogi ke Misri.

Pada saat itu, Yogi mengingat Misri menggunakan tanktop tali warna hitam, dengan celana pendek ketat warna hitam juga. Posisi Misri duduk menghadap kolam, dengan kaki berada di atas meja.

Menurut Yogi, Misri tiba-tiba berdiri dan mengatakan melihat Nurhadi berada di dasar kolam dengan nada datar. Tidak teriak histeris. Misri mengatakan itu sambil menunjuk.

“Kalimatnya ‘Bang, anak buah Abang di dasar kolam Bang’. Dengan posisi dari duduk (langsung) berdiri. Sesuai dengan rekontruksi yang awal,” ucap dia.

Mendengar itu, Yogi mengaku langsung melepas HP yang dipegang dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam untuk menyelamatkan Nurhadi.

“Saya langsung nyemplung ke kolam. Posisi almarhum pada saat itu, posisi kepala ke selatan. Saya turun, saya angkat. Saya taruh di pinggir kolam,” katanya mengeluarkan suara tangis.

Setelah tubuh Nurhadi terangkat, Yogi naik dari dalam kolam. Nurhadi berusaha ditolong dengan memberikan resusitasi jantung paru (RJP). Saat dada Nurhadi ditekan, keluar cairan warna putih, kuning dan merah.

“Saya coba melakukan itu sekitar 5-7 menit. Karena tidak ada perubahan pergerakan, saya ngambil HP, saya coba menghubungi saudara Aris untuk cepat ke sini (datang ke vila),” katanya.

Pertolongan kembali diberikan Yogi. Tidak berselang lama, Aris datang ke vila. Menurut Yogi, Aris datang sekitar 2-3 menit setelah ditelepon. “Cepat kamu (terdakwa Aris) panggil tim medis,” sebut Yogi memerintah Aris saat itu dengan nada tegas.

Tidak berselang lama, dua orang datang. Yogi mengeklaim tidak mengenal dua orang tersebut. Dua orang itu mencoba membantu dan Yogi meminggirkan badannya.

“Saya berpindah ke bagian kaki almarhum, di situ saya melihat kaki almarhum ada luka,” katanya.

Tidak lama, tim medis datang. Tapi Yogi tidak tahu tim media dari mana. Mereka langsung mengecek kondisi Nurhadi, mulai dari memeriksa pupil mata, dan menaruh oximeter di telunjuk kanan sebelah kanan.

“Terus sempat juga melakukan RJP, terus sempat memasang infus,” katanya.

Kondisi Nurhadi tidak menunjukkan perubahan, kemudian dilarikan ke klinik. Saat itu, Yogi mengaku tidak mengetahui Nurhadi di bawa ke klinik mana. Karena pada saat di bawa, Yogi tidak ikut, hanya mengantarkan sampai ke pintu villa.

“Almarhum dibawa, kami tidak ikut. Hanya ikut mengantar sebelum pintu karena posisi saya saat itu basah. Jadi, saya masuk ke dalam kamar, saya ganti baju. Setelah itu saya keluar, sampai di depan hotel, saya mencoba menghubungi saudara Aris,” ujarnya.

Aris dan Yogi berboncengan menyusul Nurhadi menggunakan sepeda listrik. Yogi berujar, saat itu dirinya dan Aris mencari Nurhadi di dua klinik, namun tidak ditemukan.

“Seingat saya, kita sempat cari almarhum di dua tempat. Klinik pertama tidak ada, klinik kedua tidak ada. Walhasil, kembali lagi ke utara, berpapasan dengan cidomo yang membawa almarhum,” katanya.

Saat tiba di Klinik Warna, kondisi Nurhadi masih dipasangi infus. Tidak berselang lama, dokter menyatakan nyawa Nurhadi tidak bisa diselamatkan.

“Saya berdua dengan Aris masuk ke klinik, di klinik saya melihat saudara Nurhadi masih terpasang infus. Tidak berselang lama, dokter ada menyampaikan bahwa rekan Saudara sudah meninggal dunia,” tandasnya.

Diketahui, Brigadir Nurhadi meninggal di Villa Tekek The Beach House Resort, Gili Trawangan, setelah pesta minuman keras dan narkotika bersama Kompol Yogi dan Ipda Aris serta dua perempuan, yakni Misri Puspita Sari dan Meylani Putri, Rabu (16/4/2025) malam.

Dua perempuan itu disebut disewa oleh Kompol Yogi dan Ipda Aris. Dalam perkara ini, Misri Puspita Sari juga ditetapkan sebagai tersangka. Namun, belum mulai diadili. Berkasnya hanya baru dinyatakan lengkap saja.