Stujoe: Tempat Ngopi di Teluk Benoa yang Lahir dari Komunitas Motor

Posted on

Tiga sekawan, Ian Tarigan, Julius Agung, dan Tirta Ananta, biasanya membuat konten untuk komunitas motor bernama Batas Kota. Namun, mereka akhirnya memutuskan untuk ‘membanting setir’ dengan mencoba peruntungan di bidang food and beverage (FnB).

Ian, Julius, dan Tirta kemudian mendirikan kedai kopi bernama Stujoe Sunset Side di tepi Teluk Benoa, Kelurahan Pedungan, Denpasar. Nama ‘Stujoe’ diambil dari bentuk kesepakatan dan komitmen mereka bertiga untuk mendirikan sebuah jenama.

“Kenapa Stujoe? Itu berawal dari tantangan saya ke teman-teman, ‘berani tidak?’. Kita coba dahulu, ‘Setuju!’. Akhirnya kami bertiga setuju. Agar aksennya sedikit unik dan terkesan tidak zaman sekarang, kami tambahkan ejaan lama ‘oe’,” ujar Ian saat ditemui infoBali, Sabtu (10/1/2026).

Lokasi kedai kopi Stujoe berada di tepi Teluk Benoa yang biasanya hanya dilewati orang-orang menuju Jalan Tol Bali Mandara. Lokasi ini juga mereka temukan saat membuat konten untuk komunitas motor Batas Kota.

“Jadi setiap kami membuat konten, Alfamart belakang menjadi tempat transit kami. Karena cuaca terlalu panas, kami melipir mencari tempat yang bisa digunakan untuk ngiyup (berteduh). Begitu kami masuk ke sini, kebetulan area parkirnya sangat luas,” tutur Ian.

Meski lahir dari lingkaran komunitas motor, Stujoe berhasil menarik perhatian berbagai komunitas lain, mulai dari pesepeda hingga pecinta mobil. Hanya dalam sepuluh hari masa soft launching, Stujoe telah melayani berbagai paket pesanan besar untuk menyambut berbagai komunitas.

“Banyak wajah baru yang datang. Seperti komunitas sepeda, mereka memesan 30 paket. Dan astungkara-nya, banyak komunitas lain yang akhirnya datang. Seperti komunitas mobil, mereka pernah memesan hingga 100 paket,” ungkap Ian.

Walaupun populer di kalangan komunitas, Stujoe juga sering didatangi oleh keluarga sehingga pengunjungnya berasal dari berbagai kalangan masyarakat. Padahal, Ian awalnya pesimistis kedai kopinya bakal didatangi keluarga.

“Awalnya kami sempat pesimistis. Kami anak motor, jangan-jangan nanti yang datang laki-laki semua. Kami khawatir perempuan atau keluarga jadi merasa tidak nyaman. Ternyata, anak motor yang sudah berkeluarga justru membawa keluarga mereka ke sini,” jelas Ian.

Sisi kreatif Stujoe juga terlihat dari interior dan dekorasinya yang unik. Ian mengungkapkan 60-70% barang yang digunakan untuk mempercantik kedai Stujoe merupakan barang bekas atau rongsokan yang diolah kembali.

“Meja bar tadi kami beli yang memang panjang lalu kami buat, ada papan surfing tidak terpakai, kami DIY (do it yourself) lagi. Jadi rutinitas kami sebelum membangun ini, memang setiap hari Minggu kami sempatkan untuk ke rongsokan,” terang Ian.

Selain interior, menu yang disajikan di Stujoe pun memiliki sentuhan tropis. Stujoe tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga beragam minuman tropis khas hasil racikan mereka sendiri.

Mengusung konsep open space, Stujoe terbuka menjadi ruang diskusi dan kolaborasi. Ian mengungkapkan mereka tidak ingin membatasi kreativitas pengunjung, bahkan membuka kesempatan bagi yang ingin meracik minuman sendiri.

Berbagai menu di Stujoe juga ramah di kantong, yakni berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp 50 ribu. Walhasil, pengunjung tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk ngopi sambil bisa menikmati pemandangan matahari terbenam yang menawan di tepi Teluk Benoa.