Tabanan –
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Ogoh-ogoh Adhikara Grahana garapan ST Dharma Bhakti, Banjar Tampak Karang, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti, keluar sebagai juara pertama dalam Lomba Ogoh-Ogoh Singasana III tingkat Kabupaten Tabanan. Dalam penilaian dewan juri, karya tersebut meraih nilai 265.
Juara kedua diraih ST Tri Wikrama dari Banjar Kamasan, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan. Ogoh-ogoh berjudul Ngerejeg Bhoma Palatra tersebut memperoleh nilai 261,8.
Sementara itu, juara ketiga diraih STT Permata dari Banjar Tanah Bang, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri. Ogoh-ogoh berjudul Kunti Seraya tersebut mendapat nilai 259,7 dari dewan juri.
Aspek Penilaian
Salah satu juri, I Gede Arum Gunawan menjelaskan proses penilaian di tingkat kabupaten menitikberatkan pada sejumlah aspek, yakni detail anatomi, detail aksesoris, serta harmonisasi warna.
“Waktu penilaian di tingkat kecamatan ogoh-ogoh ditaruh di bale banjar, sehingga pencahayaan berbeda ketika dinilai outdoor seperti sekarang. Disitulah detail-detail ogoh-ogoh akan terlihat lebih jelas, terutama harmonisasi warna dan anatominya,” beber Arum Gunawan.
Selain tiga aspek tersebut, juri juga menilai tingkat keatraktifan karya. Artinya, ogoh-ogoh yang dibuat dapat disaksikan dari berbagai sudut atau angle. Masukan juri pada proses penjurian tingkat kecamatan yang telah dievaluasi peserta juga menjadi nilai tambahan.
Menurut Arum Gunawan, dalam lomba tahun ini seluruh STT menampilkan karya-karya yang baik dengan konsep ide yang unik. Namun ia berharap ke depan para peserta dapat membuat karya yang jarang atau belum pernah dibuat oleh STT lain sehingga originalitasnya lebih terlihat.
“Inilah pentingnya literasi dengan membaca sastra serta kajian agama supaya terlihat unsur Bhuta yang harus di somya menjadi jelas,” pungkasnya.
Evaluasi Penyelenggaraan
Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan, I Made Subagia, mengatakan pihaknya bangga dengan hasil karya seluruh peserta karena merupakan karya orisinal para undagi (tukang) lokal Tabanan.
“Dari festival ini kami memberi ruang seluas-luasnya bagi undagi Tabanan untuk berkreasi dan kita bisa lihat hasilnya. Saya berharap ke depan, para undagi Tabanan bisa bersaing dengan wilayah lain,” tegas Subagia.
Terkait dua kecamatan, yakni Selemadeg Barat dan Pupuan, yang hanya diwakili satu peserta, Subagia menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena berbenturan dengan agenda lain seperti upacara Tumpek Wayang serta parade di masing-masing wilayah.
Akibatnya, STT atau banjar di wilayah tersebut tidak dapat memberikan tenaga lebih dan memaksakan diri untuk ikut dalam lomba.
Perihal tenda tempat ogoh-ogoh yang disewa secara mandiri, Subagia menyebut pihak Dinas Kebudayaan hanya memberikan subsidi untuk tenda di bagian belakang ogoh-ogoh.
“Kedepan ini juga menjadi evaluasi kami, apakah nantinya diseragamkan. Intinya semua masukan dan kritikan kami tampung untuk diperbaiki pada tahun depan, termasuk kepesertaan apakah tetap dibuka secara umum seperti sekarang atau memakai zona,” pungkas Subagia.






