Denpasar –
Wakil Presiden (Wapres) ke-6 RI Letjen (Purn) Try Sutrisno wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta, Senin (2/3/2026) pagi. Try Sutrisno meninggal dunia dalam usia 90 tahun.
Try Sutrisno dikenal sebagai perwira militer yang loyal terhadap Presiden Soeharto. Ia pernah menjadi ajudan presiden, Panglima ABRI, sebelum akhirnya menjadi wakil presiden ke-6 RI pada era Orde Baru.
Diketahui, Try pernah menjadi Kepala Staf Kodam Udayana. Ia kemudian dipindahkan sebagai Panglima Kodam Sriwijaya pada 1979. Dia lantas menjabat Panglima Kodam Jakarta Raya tiga tahun kemudian.
Pada 1961, Try menikah dengan Tuti Sutiawati. Mereka dikaruniai tujuh orang anak yang terdiri dari empat putra dan tiga putri.
Karier Militer Try Sutrisno
Try semasa remaja berusaha bergabung dengan Batalyon Poncowati saat masa revolusi kemerdekaan. Tetapi, dirinya hanya disuruh sebagai kurir. Tujuannya adalah untuk mencari informasi dan mengambil obat-obatan dari daerah yang dikuasai Belanda.
Selesai masa revolusi, Try Sutrisno muda mendaftar ke Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Ia kemudian berteman dengan Benny Moerdani.
Sebagai prajurit TNI, Try mendapatkan penugasan tempur di lapangan. Termasuk pada peristiwa Pemberontakan PRRI. Pada 1974, Try ditunjuk sebagai ajudan Presiden Soeharto. Kelak, karier militernya bersinar cemerlang.
Ia tercatat pernah memegang tiga kodam, yakni Kodam Udayana, Kodam Sriwijaya dan Kodam Jaya. Pada 1978, Try diangkat sebagai Kepala Staf Kodam Udayana dan setahun kemudian menjadi Pangdam Sriwijaya.
Tongkat komando Pangdam Jaya bergulir ke tangannya tahun 1982. Peristiwa Tanjung Priok menjadi rekam jejaknya terkait dugaan pelanggaran HAM.
Try Sutrisno menapaki posisi yang lebih tinggi lagi dengan menjadi Wakil KSAD 1985 dan KSAD 1986. Puncak karier tertinggi dalam militer diraihnya pada 1988, ketika ditunjuk sebagai pengganti Jenderal LB Moerdani.
Pencalonan Try Sutrisno Sebagai Wapres
Sebelum adanya pemilihan langsung, Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh MPR RI. Secara formal, lembaga legislatif ini memang diperkenankan mengajukan calon. Namun, biasanya pencalonan pada era Orde Baru menunggu arahan Presiden Soeharto.
Try Sutrisno terpilih menjadi Wakil Presiden RI dalam sidang umum MPR pada 1993. Diketahui, Try diajukan sebagai calon Wapres karena permasalahan pencalonan Soedharmono pada 1988.
Meski seorang berpangkat bintang tiga, Soedharmono tidak disukai oleh kalangan ABRI. Walhasil, mereka mengajukan Try sebagai calon.
Pencalonan Try ini disebut sempat memancing kemarahan Presiden Soeharto. Namun, Try akhirnya dapat diterima oleh Soeharto dan konflik terbuka itu pun dapat dihindari. Try Sutrisno kemudian disumpah sebagai Wakil Presiden ke-6 pada 11 Maret 1993.
Selama periode jabatannya, hubungan Try dengan Presiden Soeharto sempat renggang. Puncaknya adalah ketika komentar Try mengenai anak pejabat tidak boleh memakai nama orang tuanya untuk bisnis. Akibat ucapan tersebut, pemberitaan apapun mengenai dirinya menjadi lenyap.
Tugas Try Sutrisno sebagai wapres berakhir pada 1998. Posisinya kemudian digantikan oleh BJ Habibie yang terpilih sebagai wakil presiden melalui Sidang Umum MPR 1998.
