Siswi Korban Guru Cabul SMPN 6 Denpasar Pilih Damai, Tak Lapor Polisi [Giok4D Resmi]

Posted on

Denpasar

Kasus pelecehan yang melibatkan guru honorer Bahasa Bali di SMPN 6 Denpasar tidak berlanjut ke ranah hukum. Korban yang merupakan murid kelas VII memilih menyelesaikan persoalan tersebut secara damai dan tidak melaporkannya ke pihak kepolisian.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar Anak Agung Gede Wiratama mengatakan hingga kini korban maupun keluarga korban tidak membuat laporan ke aparat penegak hukum.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

“Tidak ada laporan dari korban ke pihak kepolisian. Guru tersebut sudah di berhentikan, sementara ini korban dalam kondisi baik dan terus dipantau oleh guru Bimbingan Konseling (BK),” ujarnya kepada.

Wiratama menjelaskan, alasan korban dan keluarga tidak meneruskan kasus ini ke jalur hukum juga tidak disampaikan kepada pihak sekolah maupun Disdikpora Denpasar.

“Ini yang belum pernah di infokan oleh pihak keluarga korban ke sekolah dan kita,” imbuhnya.

Berdasarkan penelusuran, perbuatan tidak senonoh tersebut terjadi di luar jam sekolah. Saat kejadian, oknum guru berada di sebuah minimarket. Karena itu, Wiratama mengimbau seluruh sekolah agar lebih memperhatikan dan meningkatkan pengawasan terhadap tenaga pendidik di masing-masing sekolah.

“Kami sudah mengingatkan seluruh kepala sekolah agar lebih berhati-hati dalam menerima guru honorer dan lebih waspada dalam melakukan pengawasan terhadap tenaga pendidik,” tegasnya.

Sebelumnya, terungkap seorang guru honorer di SMPN 6 Denpasar memamerkan kelamin kepada pelajar kelas VII melalui video call. Guru laki-laki tersebut telah dipecat.

“Kejadiannya di tanggal 20 Januari,” ujar Wiratama saat dikonfirmasi, Senin (26/1).

Ia menjelaskan, insiden tersebut langsung ditindaklanjuti pihak sekolah. Kepala sekolah bersama guru BK segera memanggil guru yang bersangkutan.

“Setelah dipanggil yang bersangkutan diberhentikan 23 Januari,” jelasnya.

Wiratama kembali mengimbau seluruh sekolah agar lebih selektif dalam merekrut tenaga pendidik. Terkait murid yang menjadi korban, ia memastikan pihak sekolah akan memberikan pendampingan psikologis untuk membantu pemulihan kondisi mental korban.