Gemuruh suara gamelan mengiringi tawa riang pemuda dan pemudi di Desa Adat Kiadan, Kecamatan Petang, Badung, Bali, Sabtu (3/1/2025) pagi. Mengenakan pakaian adat serba putih dengan kain (kamben) kotak-kotak bercorak poleng merah, mereka berhadapan di area sakral Pura Beji untuk Perang Nguntek atau Siat Untek.
Kelompok lelaki membawa tumpeng (lambang purusa) dan kelompok perempuan membawa penek atau untek (lambang pradana). Mereka kemudian berperang dengan saling melempar antarkelompok. Suasana saling lempar ini menjadi riuh dan menciptakan suasana kegembiraan yang meluap-luap.
Siat Untek merupakan ritual keagamaan Hindu yang bertujuan memohon kesuburan alam dan kesuksesan hasil panen. Ritus tahunan yang dilakukan secara turun-temurun ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Bali kuno.
“Kalau menurut beberapa pakar dari Dinas Kebudayaan Badung juga itu mungkin dari zaman Kerajaan Bali zaman Dinasti Warmadewa. Kami di sini tidak diturunkan suatu prasasti atau dalam bentuk catatan mengenai tradisi ini, tetapi itu tradisi sudah turun temurun,” kata Bendesa Adat Kiadan, I Nyoman Laba (56).
Siat Untek menggunakan dua sarana utama, yaitu untek (atau penek/kelompokkan) dan tumpeng, yang masing-masing melambangkan unsur purusa pradana. Untek yang berbentuk pipih melambangkan pradana (feminin), sementara tumpeng yang berbentuk lancip melambangkan purusa (maskulin).
“Untek itu sendiri atau di sini lazim disebut dengan kelompokkan. Nah itu, yang berbentuk pipih itu, adalah perlambang daripada pradana atau feminin. Tumpeng itu, yang berbentuk lancip itu, adalah perlambang purusa atau simbol lelaki,” jelas Laba.
Jumah untek dan tumpeng yang digunakan dalam ritual Perang Untek juga tak sembarangan. Untek yang digunakan sebanyak 777 buah, sedangkan tumpeng lebih sedikit, yakni 555 buah. Jumlah sarana yang digunakan dalam upacara ini juga memiliki makna mendalam.
Untek berjumlah 777 buah melambangkan pengurip bhuana atau seluruh penjuru arah, serta tumpeng berjumlah 555 buah. Untek berwarna kuning melambangkan timur dan tumpeng putih melambangkan barat, menciptakan konsep keseimbangan.
“Dari pertemuan purusa pradana, untek dan tumpeng itu sendiri, nah, itu untuk memaknai sebuah ritual untuk mempertemukan purusa pradana agar nanti setelah itu terjadi, maka diharapkan itu akan melahirkan sesuatu kebaikan,” tambah Laba.
Upacara Perang Nguntek rutin dilakukan setiap tahun bertepatan pada Purnama Sasih Kapitu atau purnama bulan ketujuh dalam kalender Bali. Persiapan dilakukan oleh warga selama dua hari sebelumnya. Ibu-ibu membuat sarana upacara untek dan pemuda (daud teruna) menghias pelinggih serta memasang penjor di Pura Taman Beji.
Ritual ini selalu diselenggarakan di Pura Taman Beji, bukan di Pura Desa atau Pura Puseh karena air adalah simbol utama dari kesuburan yang dimohonkan. Setelah semua upacara selesai, barulah prosesi Siat Untek dimulai.
“Kenapa dilaksanakan di Pura Beji? Karena kami di sini sudah barang tentu untuk memohon sebuah kesuburan itu ada di tempatnya air. Semua warga masyarakat, laki, perempuan, dan sekaa gong terutama, juga daud truna di sini, ikut dalam prosesi untuk melakukan ritual atau prosesi Perang Nguntek itu sendiri,” tegas Laba.
Prosesi Perang Nguntek dilaksanakan dengan cara saling lempar antara warga laki-laki dan perempuan. Laki-laki mengambil tempat di timur dengan membawa tumpeng, sementara pihak perempuan di barat dengan membawa penek (untek), dan kemudian mereka saling melempar dengan harapan lemparan tersebut saling mengenai.
“Lemparan itu bisa saling mengena satu sama lain. Kami meyakini sekali setelah diadakan Perang Untek itu, mungkin hasil pertanian, perkebunan kami di sini bisa dikatakan berhasil atau dalam istilah Balinya mupu,” sambung Laba.
Tradisi ini juga dikaitkan dengan permohonan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Tumbuh yang berstana di Pucak Mangu, yang dalam lontar Usana Bali adalah dewa dari segala sarwa tumbuh (kesuburan). Oleh karena keyakinan akan keberhasilan panen setelah ritual ini, warga Desa Adat Kiadan menyatakan tidak berani untuk tidak melaksanakan tradisi tersebut.
Sarana Siat Untek
Waktu dan Tempat
Siat Untek menggunakan dua sarana utama, yaitu untek (atau penek/kelompokkan) dan tumpeng, yang masing-masing melambangkan unsur purusa pradana. Untek yang berbentuk pipih melambangkan pradana (feminin), sementara tumpeng yang berbentuk lancip melambangkan purusa (maskulin).
“Untek itu sendiri atau di sini lazim disebut dengan kelompokkan. Nah itu, yang berbentuk pipih itu, adalah perlambang daripada pradana atau feminin. Tumpeng itu, yang berbentuk lancip itu, adalah perlambang purusa atau simbol lelaki,” jelas Laba.
Jumah untek dan tumpeng yang digunakan dalam ritual Perang Untek juga tak sembarangan. Untek yang digunakan sebanyak 777 buah, sedangkan tumpeng lebih sedikit, yakni 555 buah. Jumlah sarana yang digunakan dalam upacara ini juga memiliki makna mendalam.
Untek berjumlah 777 buah melambangkan pengurip bhuana atau seluruh penjuru arah, serta tumpeng berjumlah 555 buah. Untek berwarna kuning melambangkan timur dan tumpeng putih melambangkan barat, menciptakan konsep keseimbangan.
“Dari pertemuan purusa pradana, untek dan tumpeng itu sendiri, nah, itu untuk memaknai sebuah ritual untuk mempertemukan purusa pradana agar nanti setelah itu terjadi, maka diharapkan itu akan melahirkan sesuatu kebaikan,” tambah Laba.
Sarana Siat Untek
Upacara Perang Nguntek rutin dilakukan setiap tahun bertepatan pada Purnama Sasih Kapitu atau purnama bulan ketujuh dalam kalender Bali. Persiapan dilakukan oleh warga selama dua hari sebelumnya. Ibu-ibu membuat sarana upacara untek dan pemuda (daud teruna) menghias pelinggih serta memasang penjor di Pura Taman Beji.
Ritual ini selalu diselenggarakan di Pura Taman Beji, bukan di Pura Desa atau Pura Puseh karena air adalah simbol utama dari kesuburan yang dimohonkan. Setelah semua upacara selesai, barulah prosesi Siat Untek dimulai.
“Kenapa dilaksanakan di Pura Beji? Karena kami di sini sudah barang tentu untuk memohon sebuah kesuburan itu ada di tempatnya air. Semua warga masyarakat, laki, perempuan, dan sekaa gong terutama, juga daud truna di sini, ikut dalam prosesi untuk melakukan ritual atau prosesi Perang Nguntek itu sendiri,” tegas Laba.
Prosesi Perang Nguntek dilaksanakan dengan cara saling lempar antara warga laki-laki dan perempuan. Laki-laki mengambil tempat di timur dengan membawa tumpeng, sementara pihak perempuan di barat dengan membawa penek (untek), dan kemudian mereka saling melempar dengan harapan lemparan tersebut saling mengenai.
“Lemparan itu bisa saling mengena satu sama lain. Kami meyakini sekali setelah diadakan Perang Untek itu, mungkin hasil pertanian, perkebunan kami di sini bisa dikatakan berhasil atau dalam istilah Balinya mupu,” sambung Laba.
Tradisi ini juga dikaitkan dengan permohonan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Tumbuh yang berstana di Pucak Mangu, yang dalam lontar Usana Bali adalah dewa dari segala sarwa tumbuh (kesuburan). Oleh karena keyakinan akan keberhasilan panen setelah ritual ini, warga Desa Adat Kiadan menyatakan tidak berani untuk tidak melaksanakan tradisi tersebut.






