Denpasar –
Buku berjudul Bali Slam “Entitas yang Terlupakan” karya Ilham Efendi (28) mengungkap kembali jejak sejarah dan peradaban umat Islam asli Bali. Istilah Bali Slam merujuk pada identitas masyarakat Islam asli Bali yang keberadaannya dinilai semakin terlupakan.
Istilah Bali Slam merujuk pada identitas masyarakat Islam asli Bali yang keberadaannya dinilai semakin terlupakan.
“Buku ini saya buat untuk menyikap tabir yang terlupakan, jejak-jejak Islam di tanah Bali yang terlupakan,” ungkap Ilham Efendi di Denpasar, Sabtu (31/1/2026).
lham menegaskan, karyanya bukan sekadar menghimpun cerita turun-temurun, melainkan disusun berdasarkan hasil penelitian selama dua tahun.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi kegelisahannya terhadap anggapan yang menyebut umat Islam di Bali sebagai pendatang serta hilangnya identitas Bali Slam dalam narasi sejarah lokal.
Berawal dari keresahannya tentang muslim di Bali yang disebut-sebut sebagai pendatang, hingga hilangnya identitas Bali Slam akibat narasi peradaban yang seolah-olah umat Islam tidak ada di Bali.
Dalam proses penelitian, Ilham menelusuri sejumlah wilayah yang memiliki jejak Islam, di antaranya Kampung Islam Gelgel dan Kusamba di Kabupaten Klungkung; Kampung Kecicang Islam dan Kampung Islam Buitan di Kabupaten Karangasem; serta beberapa lokasi lain di Kabupaten Badung, Jembrana, dan Buleleng.
Ilham akhirnya menemukan bukti-bukti sejarah yang kuat mengenai peradaban dan sejarah Bali Slam atau Bali Islam. “Hasil penelitian bersama tim, saya temukan ada jejak Islam yang memang menjadi bukti kuat,” jelasnya.
Ilham menyebut, di wilayah Bali timur seperti Klungkung dan Karangasem terdapat entitas tua Bali Slam yang jejaknya masih terlihat hingga kini. Sementara di Bali utara, bukti sejarah Islam ditemukan dalam peninggalan Kerajaan Buleleng, termasuk sejarah Panji Sakti.
Di Jembrana, tercatat pula sejarah kerja sama dan perjanjian antarkerajaan yang melibatkan komunitas Islam. Adapun di wilayah Badung, Ilham menilai sejarah Bali Slam juga ada, namun belum banyak dipahami maupun diteliti secara mendalam. Padahal, masyarakat Bali Islam telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu Bali.
“Buku ini untuk menelusuri jejak Bali Slam. Bukan sekedar membantah stigma tapi juga menegakkan ingatan, bahwa Islam di Bali merupakan bagian dari mengakarnya sejarah Bali itu sendiri,” ungkap Ilham.
Pria asal Denpasar dengan keluarga asli Bali Slam di wilayah Karangasem dan Buleleng ini menambahkan, bahwa umat Islam di Bali bukanlah ‘tamu’ alias pendatan. Melainkan menjadi bagian dari sejarah Bali.
“Tujuan karya buku Bali Slam ini sederhana, saya ingin mengembalikan ingatan yang perlahan dihapus oleh waktu. Mengingat Islam telah lama dianggap sebagai saudara kedua setelah Hindu,” imbuhnya.
Sementara itu, Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Prof I Putu Gede Suwitha mengatakan buku Bali Slam memiliki sejarah kolaborasi antara Islam dan budaya lokal Bali.
“Proses akulturasi terlihat dalam kerajinan, seni, bahasa, profesi, dan sistem perdagangan. Islam bersifat universal, Hindu bersifat lokal. Keduanya melebur, saling melengkapi secara damai,” terangnya saat mengisi acara.
Menariknya, Gede Suwitha menyebut seluruh penduduk Bali adalah pendatang. Orang Bali Hindu yang disebut Bali Kuna bukan penduduk asli, sama seperti Bali Islam.
“Tidak ada yang benar-benar Bali Asli, secara antropologis manusia datang melalui migrasi panjang sejak teori out of Africa,” pungkasnya.
