Denpasar –
Media sosial X kembali menjadi arena bentrokan warganet lintas negara. Kali ini, kemarahan netizen Asia Tenggara meledak setelah muncul komentar bernada rasis yang diduga dilontarkan sebagian netizen Korea Selatan.
Melansir, Jumat (13/2/2026), warganet ASEAN pun merapatkan barisan di bawah nama “SEAblings”, dengan tagar #SeaSibling sempat meroket dan menjadi simbol perlawanan digital.
Perseteruan ini berawal dari insiden konser K-pop di Malaysia pada awal Februari 2026. Sejumlah fansite asal Korea Selatan disebut melanggar aturan dengan menggunakan kamera DSLR di area yang dilarang. Aksi tersebut menuai sorotan dari netizen Malaysia yang menilai pelanggaran itu sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap regulasi lokal.
Alih-alih mereda, kritik tersebut justru memicu reaksi keras. Sejumlah netizen Korea Selatan disebut membalas dengan nada defensif, yang kemudian berkembang menjadi serangan rasis.
“Tetapi orang Korea marah dan mengatakan kami harus menerima budaya mereka, mereka mulai bersikap rasis. SEAblings bersatu untuk melawan balik,” tulis salah satu akun di X yang menjelaskan kronologi perseteruan.
Diskusi soal aturan konser pun bergeser arah. Di media sosial, sebagian komentar berubah menjadi serangan terbuka terhadap masyarakat Asia Tenggara secara umum.
Sejumlah unggahan di X memperlihatkan komentar yang menyinggung fisik, bahasa, kondisi ekonomi, hingga budaya negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Narasi yang menyebut masyarakat ASEAN “bergantung pada K-pop” turut menyulut kemarahan warganet.
Respons balik datang cepat dan masif. Netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam saling menguatkan dengan membagikan meme, thread, hingga unggahan yang mengecam rasisme.
“South Korea vs EVERYBODY,” tulis salah satu akun Indonesia di Instagram, yang mendapat ribuan like dan komentar bernada solidaritas.
Apa Itu SEAblings?
Istilah SEAblings, gabungan dari Southeast Asia dan siblings (saudara), kembali menguat sebagai simbol persatuan warganet Asia Tenggara. Netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam saling mendukung lewat meme, thread panjang, hingga konten video yang mengecam rasisme.
Tagar #SeaSibling pun ramai digunakan sebagai penanda solidaritas digital lintas negara.
Fenomena SEAblings sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini kerap muncul saat warganet Asia Tenggara menghadapi isu bersama di dunia maya. Namun kali ini, skalanya dinilai lebih besar karena melibatkan sentimen lintas negara dan budaya pop global seperti K-pop.
Di tengah derasnya kritik, tidak semua netizen Korea mendukung sikap rasis tersebut. Sejumlah akun Korea justru menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa perseteruan bermula dari kesalahpahaman budaya. Meski demikian, gelombang solidaritas SEAblings masih terus bergulir, dengan kreator konten dari berbagai negara ASEAN ikut meramaikan perlawanan digital tersebut.






