Kupang –
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) menargetkan pengembangan sekolah berbasis vokasi di 11 wilayah pada 2026. Program tersebut akan menelan anggaran Rp 2,7 miliar untuk satu sekolah.
“Pemerintah mengalokasikan satu titik itu Rp 2,7 miliar dengan dilengkapi fasilitas yang mendukung,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) NTT, Ambrosius Kodo, Jumat (13/3/2026).
Saat ini, Disdikbud NTT masih melakukan proses untuk menentukan sekolah-sekolah yang akan diterapkan berbasis vokasi. Ambros menargetkan pembangunan sekolah vokasi rampung tahun ini.
“Saat ini masih berproses untuk perencanaannya, memastikan lokasinya. Kami harus memulai lebih cepat supaya kami lebih menang waktu,” tambah dia.
Program tersebut tidak berupa pembangunan sekolah baru, melainkan penguatan pendidikan vokasi di sekolah yang sudah ada. Ia menjelaskan pengembangan sekolah vokasi dilakukan dengan pendekatan penguatan keterampilan berbasis potensi daerah.
Menurut Ambrosius, sekolah berbasis vokasi tersebut akan tersebar di 11 kabupaten di NTT. Di antaranya Kabupaten Ende, Manggarai Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan (TTS), Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Flores Timur, dan lainnya.
Ia menuturkan pengembangan sekolah vokasi akan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti asrama putra dan putri, ruang praktik siswa, mes guru, jamban, serta sumur bor. Selain itu, fasilitas internet juga akan disediakan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.
“Salah satunya dengan cara membangun asrama putra-putri, ruang praktek siswa, mes guru, jamban dan sumur bor. Jadi lokasi sekolah yang akan kami tuju itu adalah lokasi yang di kampung, tidak boleh di kota,” jelas dia.
Ambrosius menuturkan, penyediaan fasilitas asrama bertujuan membantu siswa dari keluarga kurang mampu sekaligus menekan biaya pendidikan.
“Kenapa demikian, salah satunya untuk memangkas biaya pendidikan dari orang tua, karena mereka tinggal di asrama. Dengan tinggal di asrama, maka kebutuhan siswa-siswi seperti internet dan sebagainya bisa lebih hemat karena mereka pakai di sekolah,” jelas Ambros.
Menurut dia, sistem asrama juga memungkinkan proses pembelajaran lebih terarah karena siswa mendapatkan pendampingan lebih intensif dari para guru.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Karena mereka tinggal di asrama waktu mereka belajar dan pendampingan oleh guru lebih lama, kalau waktunya cukup dengan menekankan potensi lokal,” lanjut dia.
Program sekolah vokasi ini akan disesuaikan dengan potensi unggulan di masing-masing daerah. Misalnya, di Kabupaten Rote Ndao akan dikembangkan sekolah vokasi berbasis potensi garam, sedangkan di Kabupaten Timor Tengah Selatan difokuskan pada sektor pertanian dan peternakan.
“Contoh seperti di Rote, itu adanya potensi seperti garam, pertanian TTS dan lainnya sesuai potensi lokal di daerah,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemprov NTT merencanakan akan membangun 10 sekolah vokasi berbasis potensi daerah pada 2026. Program ini, disiapkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus mengoptimalkan potensi unggulan di setiap wilayah.
“Tahun depan kami siapkan 10 sekolah vokasi berbasis potensi daerah,” kata Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat coffee morning bersama media di rumah jabatannya, Jumat (19/12/2025).
Menurut Laka Lena, sekolah vokasi akan dirancang sesuai dengan karakter dan keunggulan masing-masing daerah. Para siswa tidak hanya memperoleh pendidikan formal, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan lokal.
“Anak-anak bisa sekolah di sana sekaligus bekerja sama mengolah potensi daerah yang ada di daerah,” kata Politisi Golkar ini.






