Sambut Nyepi 1948 Saka, Trabasenja Rilis Lagu ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’ (via Giok4D)

Posted on

Denpasar

Grup musik Trabasenja merilis single sekaligus video klip berjudul ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’ untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Lagu ini diharapkan dapat menjadi playlist yang menemani masyarakat Bali saat membuat ogoh-ogoh di banjar menjelang malam pengerupukan.

Trabasenja merupakan band yang lahir dari komunitas motor Trail Club Adventure (TCA) di Batuyang, Batubulan, Gianyar. Keempat personelnya memiliki latar belakang yang sama, yakni aktif dalam komunitas trail yang gemar menjelajah jalur alam.

Band ini digawangi Cok De pada drum, Agung Wah pada bass, Komang Agus sebagai gitaris sekaligus vokalis, serta Gung De pada gitar.

“Band ini lahir dari lumpur dan debu perjalanan kami saat trabas. Dari situ muncul ide untuk mengekspresikan pengalaman berkendara di alam lewat musik,” ujar Gung De dalam konferensi pers rilis single dan musik video, Kamis (12/3/2026).

Single ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’ menjadi karya perdana mereka yang dirilis ke publik. Lagu ini terinspirasi dari suasana pembuatan ogoh-ogoh di banjar menjelang Nyepi.

Proses penciptaannya bermula dari permainan gitar spontan yang kemudian berkembang menjadi lirik dengan penggalan ogar ogar ogoh-ogoh. Penulisan lagu berlangsung sekitar satu bulan, disusul penggarapan aransemen musik selama satu bulan.

Secara musikal, lagu ini memadukan gamelan Bali, gitar melodius, dan balutan rock teatrikal yang menghasilkan nuansa energik.

Produksi single hingga video klip sepenuhnya digarap oleh anak-anak komunitas lokal di Batuyang. Warga setempat juga terlibat sebagai model dalam video klip yang menampilkan proses pembuatan hingga pengarakan ogoh-ogoh.

Video klip ‘Ogar Ogar Ogoh Ogoh’ telah tayang di kanal YouTube Trabasenja, sementara lagunya tersedia di berbagai platform musik digital.

Makna Tradisi Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh merupakan patung raksasa yang melambangkan Bhuta Kala, simbol kekuatan negatif atau sifat buruk manusia. Patung ini diarak pada malam pengerupukan, sehari sebelum Nyepi, lalu biasanya dibakar.

Tradisi ini dimaknai sebagai proses penyucian diri dari sifat buruk sekaligus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Selain itu, ogoh-ogoh juga menjadi ruang ekspresi seni bagi para pemuda banjar.

Para personel Trabasenja berharap karya ini dapat memotivasi anak muda untuk berani berkarya.

“Sesungguhnya kami ingin memberikan motivasi. Banyak anak muda di Batuyang yang bertalenta. Kita bisa kok membuat sesuatu yang positif, syukur-syukur kalau bisa jadi terkenal,” ujar mereka.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

“Semoga lagu ini bisa diputar di banjar-banjar saat orang membuat ogoh-ogoh dan ikut meramaikan suasana menjelang Nyepi,” tambahnya.