Denpasar –
Tak banyak yang menyangka serangga kecil bernama walang sangit bisa menjelma menjadi figur raksasa yang sarat pesan. Namun di tangan para pemuda Banjar Jaba Tengah, makhluk yang kerap dianggap hama itu justru diangkat menjadi simbol peringatan bagi manusia yang lalai menjaga alam.
Ogoh-ogoh ‘Sagara Kreti’ lahir dari pertemuan tiga lontar: Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, Dharma Pemajulan, dan Purana Yama Tattwa. Dari ketiganya, dirajut satu benang merah tentang relasi manusia dengan penguasa lautan.
Kisah yang diangkat menggambarkan manusia yang gagal menjaga alam hingga merusaknya. Peringatan datang dari Sang Hyang Sandhijaya, penguasa lautan, yang hadir dengan mengendarai sosok walang sangit.
Gagasan ini mulai digarap sejak Januari. Proses pencarian ide berlangsung sekitar dua hari. Tim penggarap menggandeng seorang Jero Dalang, I Putu Gede Budi Danaswara, untuk memperkuat cerita yang diusung.
“Kami mencari jero dalang, kebetulan beliau menemukan cerita, berkaitan dengan tema memuliakan air dan Pura Sekanan. Jadi, Sang Hyang Sandhijaya ini berstana di Pura Sekanan. Kami selaku pengempu Pura Sekanan, setiap Kuningan kami ke sana, kami ingin masyarakat tahu ada cerita seperti ini,” terang Gede Mahindra Suastika, konseptor dari Ogoh-ogoh “Sagara Kreti”, ketika diwawancarai tim, Rabu, (25/2/2026).
Menjadikan walang sangit sebagai karakter utama bukan tanpa tantangan. Referensi visual yang terbatas membuat tim harus meraba-raba bentuk yang tepat, memadukan wujud raksasa dengan detail serangga.
“Detailnya ini dilihat dari kaki-kakinya, kalau walang sangit nggak ada duri-durinya. Mata belalangnya juga, beli bola mentahannya aja, kami cat, desain sendiri,” kata Suastika. Antena dan sayap turut ditambahkan untuk mempertegas karakter raksasa tersebut.
Pilihan itu berbeda dari ogoh-ogoh bertema hewan perairan lain yang menyesuaikan tema resmi Kasanga Festival 2026, Jala Sidhi Shuvita atau ‘Memuliakan Air untuk Kesejahteraan’. Namun dalam lontar yang dijadikan rujukan, sosok walang sangit memang disebutkan.
Di sisi lain, beban ekspektasi sempat membayangi. STT. Putra Dharma Canthi Banjar Jaba Tengah, Denpasar Selatan sebelumnya meraih Juara 2 pada Lomba Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2025. Capaian itu membuat generasi penerus ragu untuk kembali berpartisipasi. Mereka baru resmi mendaftar Kasanga Festival 2026 pada Januari.
“Untuk pertama ya terbebani, karena kita baru pertama terjun tahun ini. Sebelumnya hanya jadi asisten penggarap, nempel-nempel saja. Ke-pressure aja, takutnya nggak sesuai ekspektasi masyarakat,” jelas Suastika.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
“Semua tim penggarap baru. Ini karya pertama. Tapi dengan kru ya bisa cepat selesai, H-2 penilaian, sudah selesai semua,” ucap Suastika.
Soal tema, Suastika mengaku sempat kesulitan. Namun menurutnya, penggunaan tema justru membuat persaingan lebih merata.
“Untuk kepentingan bersama, lebih enak dengan tema, karena jadinya merata ogoh-ogohnya untuk dinilai,” ucap Suastika.
Puncak Kasanga Festival digelar pada 6-8 Maret di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Sebanyak 16 ogoh-ogoh terbaik akan ditampilkan sebelum penentuan juara 1, 2, 3 serta juara harapan 1, 2, dan 3.






