Roah 1001 Tebolak Beak, Tradisi Warga Lombok Timur Sambut Datangnya Ramadhan

Posted on

Lombok Timur

Iring-iringan perempuan membawa dulang ke arah pemakaman Batu Ngereng, Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), berjejer rapi. Hal tersebut menandakan akan berlangsungnya acara roah 1001 Tebolak Beak, Kamis (12/2/2026).

Tradisi Roah 1001 Tebolak Beak merupakan acara adat yang tergabung dari tiga yaitu Desa Gelanggang, Desa Lepak dan Desa Sakra Timur. Mereka berkumpul untuk melaksanakan tradisi yang biasa dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

“Roah 1001 Tebolak Beak memang sudah menjadi kebiasaan secara turun-temurun masyarakat disini, yang dilaksanakan menjelang tibanya bulan suci Ramadhan,” kata Ibrahim, Ketua panitia penyelenggara, ditemui, Kamis (12/2/2026).

Dengan semangat silaturahmi, Roah 1001 Tebolak Beak tersebut dilaksanakan setiap tahun. “Ini selalu kami laksanakan setiap tahun,” imbuhnya.

Gelaran Roah 1001 Tebolak Beak ini dilakukan sebagai bentuk merawat rasa persaudaraan antarwarga di tiga desa tersebut. Hal disimbolkan dengan begibung (makan bersama). Sementara Istilah 1001 bukan berarti makna jumlah, namun istilah tersebut, dilihat dari banyaknya masyarakat yang membawa dulang yang memiliki kekhasan berwarna merah.

“Untuk itulah kami sebut sebagai Roah 1001 Tebolak Beak, karena tebolak (penutup dulang) yang berwarna merah yang berisi aneka makanan,” terang Ibrahim.

Salah satu perosesi Roah 1001 Tebolak Beak Begibung (makan bersama) dengan masyarakat di Lombok Timur, Kamis (12/2/2026) foto (Sanusi Ardi W/).Salah satu perosesi Roah 1001 Tebolak Beak Begibung (makan bersama) dengan masyarakat di Lombok Timur, Kamis (12/2/2026) foto (Sanusi Ardi W/).

Mengenai prosesi acara Roah 1001 Tebolak Beak sendiri memiliki nilai keagamaan dimulai dengan silaturrahmi masyarakat, tausiah bersama oleh tokoh agama. Kemudian dilanjutkan dengan ziarah kubur, zikir dan doa.

“Di dalam filosofi Roah 1001 Tebolak Beak ini adalah semangat kebersamaan, kekeluargaan, silaturahmi, dan pengajian agama, serta zikir dan doa,” ucap Ibrahim.

Begitu juga dengan pemilihan lokasi tradisi Roah 1001 Tebolak Beak sendiri tidaklah sembarangan. Dipilihnya Pemakaman Batu Ngereng sendiri sebagai lokasi, karena para pendahulu masyarakat setempat dimakamkan di tempat tersebut.

“Tempat ini sentral pemakaman yang ada di wilayah tiga desa. Disini juga tempat pemakaman para orang tua dan pendahulu kami,” terang Ibrahim.