Respons KSOP Labuan Bajo soal Tuntutan Pembukaan Pelayaran Kapal Wisata

Posted on

Manggarai Barat

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo Stephanus Risdiyanto merespons tuntutan pelaku wisata untuk segera membuka pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Stephanus menegaskan keputusan buka-tutup pelayaran kapal wisata bergantung prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Stephanus mengatakan penutupan pelayaran kapal wisata selama sebulan terakhir murni karena pertimbangan prakiraan cuaca. Menurutnya, keputusan tersebut tak ada kaitannya dengan tekanan psikologis setelah dirinya diperiksa aparat penegak hukum dalam kasus tenggelamnya kapal pinisi Putri Sakinah.

“Tidak ada pengaruh psikologis. Tapi kita ikut aturan yaitu pertimbangan cuaca, di mana ada rilis cuaca BMKG maritim kondisi perairan Selat Sape yang perlu kami pertimbangkan untuk penerbitan SPB (surat persetujuan berlayar),” ujar Stephanus, Sabtu (31/1/2026).

Ia mengatakan aspek keselamatan berlayar menjadi prioritas buka-tutup pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo. Jika cuaca memungkinkan, dia berujar, KSOP akan mengizinkan kapal wisata dengan jenis dan ukuran tertentu untuk berlayar.

“Intinya untuk keselamatan. Apabila ada peringatan cuaca dari BMKG, maka akan kami pertimbangkan keberangkatan untuk kapal jenis dan ukuran tertentu,” kata Stephanus.

Sementara itu, hujan lebat disertai angin kencang kembali melanda wilayah Labuan Bajo hari ini. Hujan lebat terjadi sejak malam hingga pagi. Cuaca sempat cerah siang hari, tetapi hujan disertai angin kencang kembali menerjang Labuan Bajo sore ini.

Sebelumnya, sejumlah pelaku wisata dari berbagai asosiasi mengeluhkan penutupan total layanan kapal wisata di Labuan Bajo. Mereka mengadukan keluhan tersebut kepada DPRD Manggarai Barat, Jumat (30/1/2026) sore.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Manggarai Barat, para pelaku usaha wisata mendesak KSOP Labuan Bajo segera membuka kembali layanan kapal wisata. Penutupan layanan kapal wisata lebih dari sebulan terakhir telah melumpuhkan industri pariwisata di destinasi superprioritas tersebut.

“Desakan kami atas nama asosiasi, urgensi sekarang adalah pariwisata tidak bisa mengikuti keinginan pribadinya Kepala KSOP yang melakukan penutupan,” kata Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat, Aloysius Suhartim Karya.

Aloysius juga menyoroti KSOP dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait penutupan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo. Ia menilai cuaca di Labuan Bajo sudah membaik sehingga pelayaran kapal wisata seharusnya dibuka kembali.

Asita dan asosiasi lainnya meminta agar KSOP tidak menutup total pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo. Mereka berharap destinasi yang masih aman untuk pelayaran kapal wisata tetap dibuka, seperti ke Pulau Rinca dan lainnya.

Diketahui, KSOP kembali memperpanjang penutupan total pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo hingga 1 Februari 2026. Penutupan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo sudah berlangsung sejak 26 Desember 2025 atau setelah kapal pinisi Putri Sakinah tenggelam di Selat Pulau Padar.

Kapal wisata sempat diizinkan berlayar selama tiga hari, 9-11 Januari lalu. Namun, pelayaran kapal wisata ditutup kembali mulai 12 Januari dan diperpanjang beberapa kali hingga 1 Februari mendatang.