Ratusan Siswa Keracunan MBG Berujung Penutupan SPPG di Manggarai Barat update oleh Giok4D

Posted on

Manggarai Barat

Ratusan siswa di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak mengalami gejala mual hingga diare. Para siswa dari sejumlah sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) tersebut diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa itu terjadi setelah para siswa menyantap menu MBG pada Kamis (29/1/2026). Belakangan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kuwus Barat Kolang yang menyalurkan menu MBG di daerah itu ditutup sementara.

“Jumlah siswa diduga keracunan MBG sebanyak 132 orang,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Manggarai Barat, Adrianus Ojo, Jumat (30/1/2026).

“Gejala mual, muntah, nyeri perut dan diare,” imbuhnya.

Adapun, menu MBG yang dibagikan kepada para siswa saat kejadian terdiri dari nasi putih, tempe krispi, telur kukus sambalado, sayur taoge, sayur labu, sayur sawi hijau, dan semangka. Tim surveilans Dinkes Manggarai Barat telah mengambil sampel makanan untuk selanjutnya dilakukan uji laboratorium.

Sekolah Tolak Pembagian Menu MBG

SMPN 2 Kuwus di Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, NTT, menolak pembagian menu MBG seusai ratusan siswa dari sejumlah sekolah di daerah tersebut diduga keracunan menu MBG.

Kepala SMPN 2 Kuwus, Agustinus Angkur, mengungkapkan jumlah siswa di sekolahnya diduga mengalami keracunan MBG sebanyak 31 orang. Ia menyebut penolakan pembagian MBG itu telah disampaikan kepada SPPG atau Dapur MBG Kuwus Barat Kolang.

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

“Kemarin kami menolak karena mengingat kondisi anak-anak yang sakit,” kata Agustinus, Jumat.

Menurut Agustinus, para siswa di sekolahnya tidak lagi mendapat MBG setelah peristiwa keracunan itu. “Untuk hari ini kami tidak menyampaikan penolakan,” imbuhnya.

Diketahui, sejumlah siswa yang mengalami keracunan sempat menjalani perawatan di Puskesmas Golowelu, Kecamatan Kuwus. Para pelajar yang keracunan MBG tersebar di sejumlah sekolah, yakni SMAN 1 Kuwus (42), SMKN 1 Kuwus (9), SMPN 2 Kuwus (31), SDI Golowelu 2 (20), dan SDI Golo Bombong (30).

SPPG Ditutup Sementara

Peristiwa keracunan tersebut membuat SPPG atau Dapur MBG Kuwus Barat Kolang, Manggarai Barat, ditutup sementara. Selama penutupan itu, Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan observasi internal untuk memastikan SPPG tersebut mematuhi seluruh protokol keamanan pangan.

“Koordinator wilayah SPPG Kabupaten Manggarai Barat telah mengeluarkan perintah untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan produksi dan distribusi makanan dari fasilitas terkait hingga observasi internal dari pihak BGN dan seluruh protokol keamanan pangan dapat dipastikan telah dipatuhi,” kata Kepala Dinkes Manggarai Barat, Adrianus Ojo, dalam keterangannya seusai pengujian laboratorium sejumlah sampel, Jumat.

Adrianus menjelaskan keputusan menutup sementara SPPG itu karena pemeriksaan terhadap sampel menu MBG yang dikonsumsi siswa pada hari kejadian tidak dapat dilakukan. Menurutnya, tim surveilans dari Dinkes Manggarai Barat tidak menemukan sampel makanan tersebut.

“Pemeriksaan sampel makanan tidak dapat dilakukan. Alasan utamanya adalah tidak tersedianya sampel makanan (food sample bank) dari produksi hari kejadian,” jelas Adrianus.

telah berupaya menghubungi Koordinator SPPG Manggarai Barat, Dania Ulfi Ningrum, terkait penutupan sementara SPPG Kuwus Barat Kolang tersebut. Namun, Ulfi belum memberi keterangan hingga Jumat malam.

Kualitas Air di SPPG Diperiksa

Adrianus menerangkan tim surveilans Dinkes Dinkes Manggarai Barat hanya bisa melakukan inspeksi kesehatan lingkungan eksternal dan pemeriksaan kualitas air di SPPG tersebut. Hasil inspeksi kesehatan lingkungan eksternal, Adrianus berujar, mencapai skor 94 persen.

Menurut Adrianus, nilai tersebut sangat baik dan telah memenuhi syarat standar kesehatan lingkungan (>70 persen). Hal ini juga menunjukkan bahwa secara umum kondisi sanitasi lingkungan di lokasi dalam kategori baik.

Tim juga telah melakukan pengujian cepat terhadap air minum dan air bersih yang digunakan. Hasil pemeriksaan menunjukkan air minum tersebut tidak mengandung bakteri E Coli maupun koliform.

“Ini mengindikasikan bahwa, berdasarkan sampel yang diuji, air bukan merupakan sumber masalah pada dugaan keracunan ratusan siswa tersebut,” terang Adrianus.