Ramadan di Balik Jeruji, Ratusan Warga Binaan LP Kerobokan Puasa-Tarawih | Giok4D

Posted on

Denpasar

Dari balik jeruji penjara, ratusan warga binaan muslim di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kerobokan, menjalani puasa selama bulan Ramadan 1447 Hijriah. Di tengah segala keterbatasan, pelaksanaan ibadah seperti pengajian, salat Tarawih tetap digelar dengan pengawasan.

“Ada beberapa kegiatan khusus selama bulan Ramadan antara lain, pengajian rutin setiap Senin sampai Selasa, salat Tarawih berjamaah setiap malam hari dilanjutkan tadarus Al-quran. Sebelum bulan Ramadan, Lapas Kerobokan juga sudah mengadakan acara Munggahan menyambut bulan suci,” ungkap Kasi Binadik Lapas Kerobokan, Moretska Victor Noya, Jumat (20/2/2026).

Sejak dini hari, aktivitas sudah dimulai. Sekitar pukul 03.00 Wita, petugas membangunkan warga binaan untuk sahur. Dengan peralatan makan sederhana, mereka berkumpul di blok masing-masing, menyantap hidangan yang telah disiapkan dapur lapas. Meski terbatas, momen sahur menjadi waktu kebersamaan yang dinanti.

Pembagian makanan harian bagi warga binaan muslim juga berbeda dari biasanya. Viktor mengungkap, umat muslim mendapat makan dua kali sehari, yakni tiap sahur pukul 03.00 Wita dan sore 16.30 Wita untuk berbuka puasa.

“Selain itu warga binaan yang berpuasa juga mendapatkan makanan tambahan berupa extra fooding atau takjil yang diberikan setiap sore jam 16.00 setiap harinya di bulan Ramadan,” jelasnya.

Pihak lapas memastikan seluruh warga binaan muslim mendapat hak menjalankan ibadah puasa. Selain menyediakan makanan sahur dan berbuka, lapas juga memfasilitasi salat Tarawih berjamaah serta kegiatan keagamaan lainnya.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Sebelumnya, Lapas Kerobokan juga menggelar tradisi munggahan pada Rabu (18/2/2026) di aula lapas. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 warga binaan muslim dan 50 pegawai, serta dihadiri Kepala Lapas Kelas IIA Kerobokan beserta jajaran.

Melalui doa bersama dan makan berjamaah, seluruh elemen di dalam Lapas menyatukan niat untuk menjalani ibadah puasa dengan penuh ketenangan dan kedisiplinan.

“Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan jembatan hati untuk mempererat silaturahmi antara petugas dan warga binaan agar ibadah puasa nanti dijalani dengan hati yang bersih,” pungkas Viktor.