Badung –
Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) mengkaji program pengolahan sampah mandiri di sembilan pasar yang berada di bawah naungannya. Langkah ini dilakukan untuk mendukung program Pemerintah Kabupaten Badung dalam mempercepat penanganan sampah dari sumber guna membatasi pembuangan ke TPA Suwung.
Direktur Utama Perumda Pasar dan Pangan MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, mengatakan sampah yang dihasilkan pasar akan diolah langsung di lokasi pasar. Hasil olahan tersebut rencananya dimanfaatkan sebagai kompos.
“Sampah pasar akan kami olah di sana, di tempatnya, agar mudah-mudahan bisa menghasilkan kompos. Rencananya hasil olahan itu akan kami campur dengan kotoran hewan di Pasar Beringkit supaya menjadi pupuk berkualitas,” kata Direktur Utama Perumda Pasar dan Pangan MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, Sabtu (14/3/2026).
Program ini ditargetkan mulai berjalan pada April 2026 dengan menempatkan mesin komposter di sejumlah pasar. Pasar Kuta 2 dipilih sebagai proyek percontohan karena berada di kawasan pariwisata dan memiliki produksi sampah harian cukup tinggi.
“Targetnya Astungkara bulan depan sudah bisa mulai, dan Pasar Kuta 2 jadi percontohan karena produksinya hampir 2 ton per hari. Kami sedang upayakan penyelesaian di hulu, makanya ke depan akan ditaruh mesin-mesin komposter di sana,” ujar Kompiang.
Adapun sembilan pasar yang berada di bawah pengelolaan Perumda MGS meliputi Pasar Petang, Pasar Desa Sembung, Pasar Tenten Taman Ayun Mengwi, Pasar Hewan Beringkit, Pasar Umum Beringkit, Pasar Desa Kapal, Pasar Kuta 1, Pasar Kuta 2, dan Pasar Nusa Dua.
Manajemen Perumda MGS juga membantah isu yang menyebut adanya imbauan kepada pedagang untuk membawa pulang sampah mereka ke rumah. Perusahaan justru telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang mewajibkan pedagang memilah sampah organik dan anorganik di fasilitas yang tersedia.
Sambil menunggu sistem pengolahan mandiri berjalan penuh, pengangkutan sampah masih dilakukan melalui kerja sama dengan pihak ketiga atau yayasan.
Namun, biaya operasional pengangkutan tersebut dinilai cukup membebani keuangan perusahaan karena mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
“Biaya angkut untuk Pasar Kuta 1 dan Kuta 2 saja totalnya mencapai Rp 30-an juta per bulan, jadi ini yang mau kita hemat kalau program pengolahan mandiri sudah jalan. Selama belum mulai diolah sendiri, kami tetap minta pedagang memilah dan tetap diangkut oleh rekanan jasa sampah,” pungkas Kompiang.






