Denpasar –
Rumah Sakit Bali International Hospital (BIH) melakukan prosedur Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI), yakni penggantian katup aorta tanpa operasi jantung terbuka. Prosedur ini disebut pertama kali dilakukan di Bali, setelah sebelumnya telah dilakukan di rumah sakit di Jakarta dan Makassar.
Tindakan tersebut dilakukan oleh dokter spesialis jantung I Made Junior Rina Artha terhadap dua pasien yang berusia di atas 70 tahun.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Sebelum menjalani prosedur, kedua pasien diketahui mengeluhkan sesak napas saat melakukan aktivitas sehari-hari.
Menurut Junior, kondisi tersebut terjadi akibat penyempitan katup aorta yang menghambat aliran darah dari ventrikel kiri menuju aorta.
“Ini merupakan prosedur untuk memperbaiki katup aorta yang sudah mengecil atau mengerut. Karena katupnya menyempit, aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta otomatis menurun sehingga pasien mengeluhkan sesak dada saat beraktivitas,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
“Ini merupakan prosesur untuk memperbaiki katup aorta yang sudah mengecil atau mengkerut. Karena katupnya menyempit sehingga aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta otomatis menurun sehingga pasien mengeluhkan sesak dada sat beraktivitas,” ujarnya.
Berbeda dengan operasi jantung terbuka pada umumnya, prosedur TAVI dilakukan dengan metode minimal invasif menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah di area selangkangan.
Metode ini dinilai memiliki keunggulan dibandingkan operasi jantung terbuka karena proses pemulihan pasien lebih cepat.
“Tanpa pembedahan, pasien dalam sehari sudah bisa mobilisasi yang tentunya berbeda dengan operasi yang membutuhkan waktu pemulihan lebih lama,” kata Junior.
Junior menambahkan, waktu tindakan prosedur ini relatif singkat, yakni sekitar satu hingga satu setengah jam.
Ke depan, prosedur ini diharapkan dapat dilakukan tanpa pembiusan total. Saat ini tindakan TAVI umumnya masih menggunakan bius total.
“Ke depan banyak tindakan TAVI dilakukan tanpa pembiusan total, cukup anestesi lokal. Prosedurnya sekitar satu sampai satu setengah jam dan setelah itu pasien bisa segera mobilisasi,” imbuhnya.
Meski memiliki kelebihan karena lebih cepat dan minim luka serta rasa sakit, prosedur ini membutuhkan biaya yang relatif lebih mahal.
“Kalau dibandingkan prosedur biasanya, biayanya bisa sekitar dua kali lipat lebih mahal,” pungkasnya.






