Denpasar –
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencetak kinerja transaction banking impresif hingga Desember 2025. Pencapaian ini ditopang oleh pertumbuhan transaksi digital pada segmen ritel, nasabah bisnis, hingga ekosistem pembayaran.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menuturkan sebagai bagian dari transformasi BRIVolution Reignite, bank pelat merah itu melakukan transformasi pada funding franchise yang bertujuan memperkuat struktur pendanaan perusahaan agar semakin efisien, stabil, dan berbasis dana murah. Dua strategi yang dijalankan yaitu penguatan dana murah dan peningkatkan kapabilitas di bidang transaction banking.
“BRI mempercepat pertumbuhan CASA melalui optimalisasi digital channel (BRImo, BRILink, QRIS) serta peningkatan penetrasi business cluster, sementara itu di segmen ritel, penguatan difokuskan pada pengembangan SuperApp BRImo dan ekosistem pembayaran.” ujar Hery melalui keterangan tertulis Kamis (5/3/2026).
Peningkatan aktivitas transaksi ritel di saluran digital BRI, Hery melanjutkan, tercermin pada pertumbuhan pengguna dan transaksi melalui BRImo. Hingga Desember 2025, pengguna BRImo tercatat 45,9 juta atau tumbuh 18,9% YoY, dengan nilai transaksi mencapai Rp 7.076,9 triliun atau meningkat 26,4% YoY.
Untuk segmen menengah, komersial dan korporasi, Hery mengatakan, BRI terus memperkuat layanan transaction banking BRI untuk kebutuhan cash management dan transaksi end-to-end melalui Qlola. Per Desember 2025, pengguna aktif Qlola mencapai 113 ribu atau tumbuh 48,1% YoY, sejalan dengan volume penjualan yang meningkat 36,2% YoY menjadi Rp 13.456 triliun.
Perseroan juga terus memperluas akseptasi pembayaran di merchant. Hal tersebut berdampak kepada volume penjualan merchant yang naik 48,1% YoY menjadi Rp 223,2 triliun. Untuk QRIS BRI juga menunjukkan tren yang sama, volume penjualan naik 100% YoY menjadi Rp 85,6 triliun
sementara jumlah transaksinya tumbuh 127,5% YoY menjadi lebih dari 782,8 miliar transaksi.
Hery menambahkan BRI akan terus mengembangkan kapabilitas transaction banking melalui penguatan platform digital hingga peningkatan layanan business merchant untuk mendukung pertumbuhan dana murah secara berkelanjutan.
“Capaian ini menegaskan transformasi BRIVolution Reignite yang sedang dijalankan tidak hanya memperkuat basis dana murah, tetapi juga memperluas ekosistem pembayaran digital yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat,” imbuh Hery.
Peningkatan transaksi di saluran digital dan ekosistem pembayaran memperkuat basis dana giro dan tabungan, sehingga porsi CASA terjaga tinggi dan biaya dana membaik. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7,4% YoY menjadi Rp 1.467 triliun dengan rasio CASA 70,6%, serta cost of fund DPK membaik menjadi 2,9% dibanding 3,1% pada akhir 2024.






