Peneliti Unud Duga Ratusan Mangrove Tahura Mati Tercemar Logam Berat-BBM | Info Giok4D

Posted on

Denpasar

Tim peneliti dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana (Unud) mengungkapkan hasil analisis terhadap ratusan pohon mangrove di barat pintu masuk Tol Bali Mandara kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, yang mati dan mengering. Diduga, tanaman tersebut tercemar logam berat dan bahan bakar minyak (BBM).

Tanaman itu ditemukan mati serentak pada awal 2026. Kematian mangrove tersebut terlihat dari perubahan warna daun yang semula berwarna hijau menjadi menguning, lalu kecokelatan, hingga akhirnya mengering dan mati.

Tim peneliti kesehatan tumbuhan Unud yang melakukan pemeriksaan di lokasi memastikan kematian mangrove tersebut bukan disebabkan oleh penyakit tanaman. Namun, hasil yang ditemukan mengarah pada faktor lingkungan yaitu dugaan pencemaran minyak di sekitar kawasan tersebut.

Temuan tersebut tertuang dalam laporan hasil penelitian berjudul Analisis Degradasi dan Krisis Ekosistem Mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai: Kontaminasi Hidrokarbon di Bali Selatan yang dipublikasikan pada 23 Februari 2026. Kajian ini disusun oleh tim peneliti kesehatan tumbuhan Unud dengan koordinator Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga.

“Kematian mangrove yang terjadi di Tahura Ngurah Rai bukan disebabkan oleh serangan penyakit tanaman, melainkan dipicu oleh faktor lingkungan,” ujar Selangga dikutip dalam laporan penelitiannya, Kamis (26/2/2026).

Ia menjelaskan, pola kematian mangrove menjadi petunjuk penting dalam diagnosis penyebab. “Berbeda dengan dampak sedimentasi yang terjadi perlahan, kematian mangrove ini berlangsung serentak pada blok vegetasi tertentu, mengarah pada dugaan kontaminasi kimia,” sambuhnya.

Dalam laporan tersebut, tim peneliti menyoroti keberadaan sejumlah aktivitas dan proyek besar di sekitar kawasan Tahura Ngurah Rai. Mulai dari Jalan Tol Bali Mandara, reklamasi Pelabuhan Benoa yang dikelola oleh Pelindo, hingga jalur distribusi energi milik Pertamina yang melintasi kawasan mangrove.

“Wilayah ini berada di tengah berbagai aktivitas pembangunan dan infrastruktur, sehingga sangat rentan terhadap pencemaran,” kata Selangga.

Menurutnya, kematian mangrove akibat sedimentasi atau penumpukan lumpur umumnya terjadi secara bertahap. Namun, kondisi di Tahura Ngurah Rai justru menunjukkan pola yang berbeda karena mati secara serentak pada blok-blok vegetasi tertentu.

“Kematian yang terjadi serentak dalam satu blok menunjukkan indikasi kuat adanya faktor pencemaran, bukan proses alami atau penyakit,” kata Selangga.

Dugaan Rembesan Minyak

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, tim peneliti mengaitkan kematian mangrove dengan paparan logam berat dan senyawa hidrokarbon atau minyak. Dugaan tersebut diperkuat dengan temuan adanya pipa BBM yang melintas di area mangrove.

Data koordinasi mencatat adanya kegiatan perbaikan dan perawatan pipa distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju Pangkalan Pertamina Pesanggaran pada periode September hingga November 2025. Dalam laporan disebutkan, rembesan minyak diduga masuk dalam substrat mangrove dan proses pembersihan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Menanggapi hal tersebut, Pertamina sempat melakukan pemeriksaan visual pada 21 Februari 2026 dan menyatakan tidak menemukan lapisan minyak di permukaan air, Selangga menegaskan pencemaran tidak selalu tampak secara kasat mata.

“Pada ekosistem mangrove, minyak justru sering terperangkap di dalam tanah dan menutupi akar,” ujarnya.

Selangga menjelaskan minyak yang masuk ke pori-pori sedimen bersifat racun dan dapat mengganggu penyerapan nutrisi tanaman. Dampaknya memang tidak terjadi seketika, tetapi dapat menyebabkan mangrove mati dalam beberapa minggu setelah terpapar.

Selain itu, keberadaan jalan tol membuat aliran air di kawasan mangrove menjadi lebih lambat. Akibatnya, zat pencemar tidak terbawa arus, tetapi justru mengendap dan menumpuk di sekitar akar mangrove.

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Selain dugaan rembesan minyak, tim peneliti juga menyoroti kemungkinan adanya kebocoran kecil atau pipa yang telah berkarat di bawah tanah sehingga sulit terdeteksi.

Berdasarkan hasil dari penelitian, tim menyimpulkan penyebab utama kematian ratusan mangrove di Bali Selatan adalah pencemaran logam berat dan bahan bakar minyak.

“Ciri paling jelas adalah kematian tidak menyebar secara acak, tetapi terkonsentrasi pada blok vegetasi tertentu,” pungkas Selangga.

Diberitakan sebelumnya, anggota Komisi III DPR RI, I Nyoman Parta, mengungkap kondisi tanaman mangrove yang rusak dan mati diduga akibat kebocoran pipa BBM di sekitar lokasi.

Parta meminta penjelasan dari pihak-pihak terkait mengenai kondisi tersebut, termasuk kepada Pelindo dan Jasa Marga. Menurut dia, pada November 2025, ada aktivitas pemeliharaan pipa BBM di jalur distribusi dari Pelabuhan Benoa menuju Pangkalan Pertamina Pesanggaran, Denpasar.

“Saya curiga ini bukan kematian alami, memang perlu pembuktian. Namun informasi awal mengarah pada adanya dugaan bocornya pipa BBM milik Pertamina atau perusahaan lain yang beroperasi di kawasan ini,” ujar Parta.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, menegaskan Pertamina akan melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap aktivitas operasional dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan hasil pengecekan visual di lapangan, dia berujar, tidak ditemukan adanya lapisan minyak maupun bau menyengat BBM di sekitar lokasi mangrove yang mati.

“Pertamina Patra Niaga melalui Terminal BBM Sanggaran akan melaksanakan pengecekan kronologi kegiatan operasional terkait sepanjang beberapa bulan terakhir, terutama terkait pekerjaan pipanisasi di sekitar area Benoa,” ujar Ahad Rahedi, Sabtu (21/2/2026).

Pertamina, dia berujar, berjanji akan mempercepat pemulihan kawasan mangrove tersebut. Ahad mengatakan Pertamina akan bekerja sama dengan perusahaan terkait lainnya yang memiliki operasional di kawasan Benoa, sesuai arahan DKLH Provinsi Bali.