Denpasar –
Percekcokan antara pengendara motor tanpa helm dengan anggota polisi lalu lintas (polantas) di Pos Traffic Hangtuah, Denpasar, Bali, menjadi salah satu peristiwa yang menarik perhatian pembaca dan warganet dalam sepekan terakhir. Pemotor itu melawan setelah ditegur oleh polisi karena tidak memakai helm.
Sementara itu, kabar duka datang dari Jembrana. Seorang mahasiswa magang meninggal dunia di Malaysia. Kedatangan jenazahnya di Jembrana disambut isak tangis histeris keluarga.

Masih di Jembrana, seekor paus sperma kerdil terdampar di pesisir Pantai Tembles, Mendoyo. Sayang, mamalia laut itu akhirnya mati setelah dua hari terdampar.
Berikut rangkuman berita terpopuler selama sepekan dalam rubrik Bali Sepekan di.
Pemotor Cekcok dengan Polisi
Seorang pengendara sepeda motor terlibat cekcok dengan polisi yang sedang bertugas di Pos Traffic Light Hangtuah, Denpasar, Bali. Video adu mulut antara pemotor dengan polisi itu sempat viral di media sosial (medsos).
Kasat Lantas Polresta Denpasar Kompol Yusuf Dwi Admodjo menjelaskan peristiwa tersebut terjadi saat anggota patroli bertugas di ruas jalan tersebut pada Senin (26/1). Menurutnya, petugas sempat menegur pengendara motor Honda Beat DK 3760 FBT yang berboncengan tanpa menggunakan helm itu.
“Anggota kami saat itu sedang berdiri di pinggir jalan untuk pengaturan lalu lintas dan menegur pengendara karena tidak menggunakan helm. Namun, pengendara hanya menoleh sambil tersenyum dan tetap melanjutkan perjalanan,” ujar Yusuf saat dikonfirmasi, Kamis (29/1/2026).
Pria pengendara motor tersebut lantas berhenti dan meneriaki anggota patroli dengan suara keras. Petugas kemudian menghampiri pengendara tersebut. Adu mulut pun tak terhindarkan.
Belakangan, pria itu mengaku dimaki petugas. Situasi tersebut direkam oleh pengendara lainnya di lokasi hingga video tersebut tersebar dan viral di media sosial.
Satlantas Polresta Denpasar, Yusuf berujar, langsung memeriksa anggota patroli yang terlibat keributan tersebut. Polisi juga menelusuri data kendaraan hingga memanggil dan memintai keterangan kepada pengendara yang bersangkutan.
“Dari hasil pemeriksaan, pengendara mengakui memang ditegur untuk menggunakan helm. Namun, saat itu yang bersangkutan sedang dalam kondisi emosi karena permasalahan rumah tangga sehingga meluapkan kemarahannya dan tidak menerima teguran tersebut,” jelas Yusuf.
Menurut Yusuf, narasi pada video yang beredar di medsos tidak menggambarkan kejadian secara utuh. Ia menyebut narasi video yang direkam oleh pengendara lainnya itu tidak sesuai fakta di lapangan.
“Yang bersangkutan sudah membuat video klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat serta khususnya kepada Satlantas Polresta Denpasar atas kejadian tersebut,” ujar Yusuf.
Diketahui, video klarifikasi pengendara motor tersebut diunggah melalui akun Instagram resmi Satlantas Polresta Denpasar. Pria yang terlibat cekcok dengan polisi itu juga meminta maaf atas kegaduhan akibat ulahnya yang tidak mengenakan helm saat mengendarai motor.
“Dalam kesempatan ini saya mengklarifikasi kepada seluruh masyarakat dan Satlantas Polresta Denpasar serta memohon maaf atas kejadian yang sempat viral. Peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 26 Januari 2026, sekitar pukul 15.00 Wita di Pos Pukat Nyali,” ujar pengendara dalam video klarifikasi yang diunggah melalui akun media sosial resmi Satlantas Polresta Denpasar, Rabu (28/1).
Mahasiswa Magang Meninggal di Malaysia
Jenazah I Made Berta Mahendra (22), mahasiswa magang yang meninggal di Malaysia, akhirnya tiba di kampung halamannya. Kedatangan jenazah di rumah duka Banjar Kaleran Kauh, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, disambut isak tangis histeris keluarga, Kamis (29/1/2026) malam.
Kepala Bidang Penempatan, Pelatihan Produktivitas, dan Transmigrasi (P3T) Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerperin) Jembrana, I Putu Agus Arimbawa, menjelaskan jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 21.45 Wita.
“Proses pemulangan jenazah almarhum berjalan aman dan lancar dan disambut haru oleh pihak keluarga. Almarhum tiba di Terminal Cargo Bandara Ngurah Rai Bali sekitar pukul 19.28 Wita,” ungkap Arimbawa saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2026).
Arimbawa menjelaskan setibanya di bandara, tim dari Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Bali bersama Disnakerperin Jembrana langsung melakukan pengecekan dokumen dan pencabutan berkas. Proses ini disaksikan langsung oleh perwakilan keluarga almarhum.
Setelah administrasi dinyatakan lengkap, serah terima jenazah dilakukan dari BP3MI Bali kepada keluarga sekitar pukul 19.40 Wita. Mobil jenazah yang membawa jasad mahasiswa itu kemudian dikawal menuju Jembrana.
Suasana duka menyelimuti penyerahan jenazah kepada orang tua almarhum, I Ketut Budiarta (61) dan Ni Luh Martini (56). Tangis pecah lantaran Made Berta merupakan putra laki-laki tunggal di keluarga tersebut.
“Kedatangan almarhum disambut isak tangis keluarga yang sudah menunggu. Apalagi korban ini merupakan anak laki-laki satu-satunya dari keluarga tersebut,” tutur Arimbawa.
Rencananya, prosesi ritual pengabenan untuk Made Berta akan dilaksanakan pada 5 Februari 2026. Sejauh ini, penyebab pasti kematian Brata belum diketahui. “Semoga hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kematian korban segera keluar. Untuk keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” harap Arimbawa.
Diketahui, Brata sudah menjalani program magang di Malaysia selama empat bulan dari total enam bulan kontrak yang direncanakan. Ia ditemukan tak bernyawa di sebuah hotel di Malaysia pada Sabtu (24/1).
Dua hari sebelum meninggal, siswa The International School Gianyar itu sempat melakukan panggilan video dengan keluarganya di Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Jembrana, Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi menjelaskan otoritas di Malaysia masih menyelidiki penyebab pasti kematian Brata. Dia menyebut hasil analisis sampel dari proses autopsi di Malaysia belum keluar sepenuhnya.
“Sesuai keterangan di surat kematian yang diterbitkan, (penyebab pasti) masih butuh waktu karena masih berproses analisis sampel di Malaysia,” ujar Mirah.
Paus Sperma Kerdil Terdampar
Paus sperma kerdil (Kogia breviceps) yang terdampar di pesisir Pantai Tembles, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, akhirnya mati. Mamalia laut sepanjang 1,5 meter itu sempat dievakuasi ke Umah Lumba Jaringan Satwa Indonesia (JSI-JAAN) di Buleleng.
Dokter Hewan JSI-JAAN, Deny Rahmadani, mengungkapkan paus tersebut mati pada Rabu (28/1/2026) sore. Tim medis langsung melakukan tindakan nekropsi atau bedah bangkai untuk mengetahui penyebab pasti kematian satwa dilindungi tersebut.
“Sudah kami laporkan dan koordinasikan juga ke BPSPL Denpasar. Sorenya tim medis melakukan nekropsi hingga malam hari,” ungkap Deny saat dikonfirmasi, Kamis (29/1/2026).
Deny mengungkapkan hasil nekropsi menunjukkan adanya kerusakan serius pada organ dalam paus sepanjang 2,1 meter itu. Saat pertama kali dievakuasi, kondisi paus sudah sangat lemah dengan posisi tubuh miring ke kanan.
“Terlihat dari nekropsi mengalami perubahan, terlihat warna kemerahan hingga kehitaman di paru-paru dan terdapat busa. Itu menandakan saat terdampar banyak air laut yang masuk ke paru-paru sehingga menyebabkan kesulitan bernafas yang mengakibatkan gagal nafas,” jelas Deny.
Pihak JSI-JAAN menyimpulkan bahwa paus tersebut awalnya terdampar akibat disorientasi. Hal ini diperkuat dengan perilaku paus yang sempat dikembalikan ke tengah laut oleh warga, tetapi kembali lagi ke daratan.
Paus sperma itu pertama kali dilihat terdampar oleh pemilik warung di Pantai Tembles pada Senin (26/1). Warga sempat bergotong-royong mendorong paus tersebut ke tengah laut.
Keesokan paginya, paus tersebut ditemukan kembali terdampar di lokasi yang tidak jauh dari titik awal. Ketika itu, kondisi paus tersebut semakin lemas dan penuh luka memar hingga akhirnya dievakuasi ke fasilitas rehabilitasi JSI di Buleleng.
“Kondisinya lemas dan ditemukan ada warna merah pada tubuhnya yang diduga luka memar,” ungkap Kapolsek Mendoyo, Kompol I Wayan Sartika, Selasa.





