Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mengadopsi inovasi tempah dedoro untuk mengatasi sampah organik. Inovasi penanganan sampah organik ini diadopsi dari Lingkungan Marong, Kelurahan Karang Tatah, Mataram.
Penanganan sampah organik tempat dedoro menggunakan beberapa pipa beton bertulang yang ditumpuk dengan ketinggian 2,5 meter sehingga menyerupai sumur. Di atasnya ditutup dengan beton, tetapi diberikan lubang sebagai tempat untuk memasukkan sampah.
Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menilai inovasi tempah dedoro di Lingkungan Marong efektif untuk mengurai sampah organik warga. Sampah warga di sana mampu direduksi sekitar 50%. Walhasil, Mohan akan memperluas inovasi penanganan sampah tersebut.
“Jadi cukup signifikan untuk satu hari (saja), makanya kami memutuskan untuk memperluas program tempah dedoro. (Akan) kami perluas, dan Pak Sekda sudah mempersiapkan anggaran untuk itu,” kata Mohan saat diwawancarai seusai meninjau program tempah dedoro di Lingkungan Marong, Selasa (13/1/2026) siang.
“Nanti akan kami lakukan (terapkan program tempah dedoro) di beberapa lingkungan di Kota Mataram. Nanti kami sesuaikan dengan anggaran dahulu. Sekarang kami (coba) 50 kelurahan dahulu,” sambung Mohan.
Sebagai permulaan, Mohan akan menerapkan tempat dedoro pada satu lingkungan di setiap kelurahan. Penerapannya akan dimulai bulan depan. Setiap lurah akan memutuskan salah satu lingkungan di wilayahnya untuk menerapkan program tersebut sebagai awalan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Mataram, Lalu Alwan Basri, mengatakan bakal menganggarkan penggunaan tempah dedoro sekitar Rp 5 juta untuk masing-masing kelurahan sebagai langkah awal.
“Masing-masing Rp 5 juta per kelurahan (sebagai langkah awal). (Nanti kami akan cari dana lain dari) beberapa CSR. Nanti Karang Baru kami buat jadi pilot project untuk tempah dedoro,” kata Alwan.
Jika proyek tempah dedoro sukses mengatasi permasalahan sampah, maka akan diterapkan di 325 lingkungan Mataram. Setiap lingkungan direncanakan memiliki 25 tempah dedoro. Walhasil, bakal ada sekitar 8.100 tempah dedoro di seluruh Mataram.
“Kalau 325 lingkungan sekitar 8.100-an tempah dedoro. Kalau kami hitung (satu tempat dedoro menghabiskan) Rp 1 juta, (maka anggaran total) sekitar Rp 8 miliar,” ujar Alwan.
“Tadi perintah Pak Wali ingin masing-masing lingkungan 25 (tempah dedoro). Kami siapkan Rp 25 juta dahulu (untuk tahap awal),” imbuh Alwan.
