Pedagang Pasar Seni Sukawati Keluhkan Sepinya Pengunjung update oleh Giok4D

Posted on

Gianyar

Sejumlah pedagang di Pasar Seni Sukawati, Gianyar, mengeluhkan sepinya pengunjung pasca renovasi pasar. Penurunan jumlah pembeli dirasakan hampir di seluruh lantai, terutama di luar masa liburan.

Agung Asrini (50), pedagang baju di lantai dua, mengaku jumlah pengunjung yang datang untuk berbelanja semakin berkurang. Penjualan, kata dia, kini hanya bergantung pada momen tertentu seperti libur panjang dan tahun baru. Bahkan, pada libur tahun baru lalu, jumlah wisatawan yang datang dinilainya tidak terlalu ramai.

“Sekarang sepi pengunjung. Setelah tahun baru langsung sepi. Dulu sebelum renovasi lebih ramai, apalagi waktu masih lesehan di bawah. Sekarang bangunannya memang bagus, tapi orang jadi malas naik ke atas. Dulu keliatan ramai dari jalan,” ungkap Asrini kepada, Senin (2/2/2026).

Menurut Asrini, sepinya pengunjung berdampak langsung pada omzet harian. Jika sebelumnya ia bisa meraih pendapatan hingga Rp 1 juta per hari, kini penghasilannya merosot tajam.

“Dulu bisa sehari dapat Rp 1 juta, sekarang paling Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu itu pun seringnya nggak ada yang beli sampai sore,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Gusti Made Rake (47), pedagang kerajinan di lantai dasar. Namun, ia menilai sepinya pasar tidak hanya disebabkan renovasi, melainkan juga faktor ekonomi serta berakhirnya musim liburan. Sebelum renovasi, menurutnya, pasar terasa lebih hidup karena lapak pedagang terbuka dan mudah terlihat dari luar.

“Dulu sebelum direnovasi lebih ramai karena lapaknya bebas. Sekarang jadi rapi, tapi ya kalau sudah lewat liburan memang sepi,” ujarnya.

Ia mengakui omzet penjualan saat ini tidak menentu. Pendapatan bisa tinggi jika ada pembeli yang membeli kerajinan dalam jumlah besar. Namun, kondisi tersebut kini jarang terjadi, terlebih jika pembeli hanya membeli barang satuan.

Sepinya Pasar Seni Sukawati juga dirasakan pengunjung. Lazania Putri Aruli (21), pengunjung asal Kuta, mengaku terkejut dengan kondisi pasar yang menurutnya lebih sepi dari perkiraan.

“Kalau ukuran pasar, menurutku lumayan sepi. Wisatawan asing juga sedikit, kebanyakan pengunjung lokal,” ujarnya.

Menurut Lazania, promosi pasar dinilai kurang maksimal. Selain itu, penataan lokasi dengan banyak gedung yang menjual barang serupa membuat pengunjung kurang terdorong untuk berkeliling.

“Ada beberapa gedung dengan barang yang sama. Aku juga jarang liat promosi pasar ini di media sosial,” imbuhnya.

Meski begitu, ia menilai sistem tawar-menawar masih menjadi daya tarik Pasar Seni Sukawati.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

“Harganya bisa ditawar, tapi ya harus pintar-pintar nawar,” tandas Nia.

Untuk menyiasati sepinya pembeli, sejumlah pedagang mulai mengandalkan penjualan online. Salah satunya dilakukan Siti Zulaikha (40), pedagang kerajinan di lantai satu. Ia mengaku telah memanfaatkan penjualan daring sejak masa pandemi COVID-19.

Menurut Zulaikha, penjualan saat ini masih belum stabil. Jumlah pembeli yang datang langsung ke pasar relatif sedikit dan tidak menentu. Bahkan, tak jarang dagangannya sama sekali tidak terjual dalam sehari.

“Kalau sekarang justru online. Biasanya pelanggan lama, seperti restoran-restoran atau order kerajinan kayu itu ambil banyak,” ungkapnya.

Ia mencontohkan pernah mengirim kerajinan ke Kupang dengan ongkos kirim mencapai Rp 2 juta karena perhitungan berat dan volume, sementara nilai barang yang dibeli hanya Rp 500 ribu.

“Kalau kirim satuan susah. Pernah kirim ke Kupang, ongkirnya sampai Rp 2 juta padahal belanjanya cuma Rp 500 ribu,” kata Zulaikha.

Namun, tidak semua pedagang memanfaatkan penjualan online. Agung Asrini mengaku belum menjual dagangannya secara daring karena tidak memahami cara penggunaannya.

“Nggak jualan online. Nggak terlalu bisa saya nggak ngerti kaya gitu,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan Gusti Made Rake. Ia memilih tetap berjualan langsung di pasar karena aktivitasnya sudah cukup padat.

“Nggak, nggak jualan online sudah banyak kegiatan di sini. Keponakan saya yang jualan online,” ujarnya.