Kupang –
Pasola Lamboya akan digelar di Lapangan Hobakalla, Kecamatan Lamboya, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 10 Februari 2026. Tradisi lempar lembing dari atas kuda itu akan dihadiri sejumlah komunitas adat dan masyarakat setempat.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
“Pasola itu dilakukan oleh komunitas adat sehingga kami hanya mendukung saja karena masyarakat yang menentukan jadwalnya pada 10 Februari 2026,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumba Barat Semuel Dato Mesa kepada, Rabu (4/2/2026).
Semuel menjelaskan terdapat tiga pasola di Sumba Barat, yakni Pasola Wonakaka, Lamboya, dan Lamboya Barat. Adapun, kelompok yang menyelenggarakan lebih dahulu adalah Pasola Lamboya. Sedangkan, Pasola Wonakaka digelar delapan hari setelah bulan purnama kedua dan Pasola Lamboya Barat digelar tiga hari setelah Pasola Wonakaka.
“Waktunya memang masing-masing, tapi yang terlibat saya rasa mereka semua,” kata Semuel.
Semuel menerangkan atraksi pasola melibatkan dua kelompok saling berhadap-hadapan dengan menunggangi kuda dan memegang kayu lembing. Secara filosofis, dia berujar, tradisi ini lebih menekankan ketangkasan peserta dan bukan permusuhan maupun balas dendam.
Terdapat tiga nilai dalam pasola, yakni nilai historis, magis religius, dan simbol. Menurut Semuel, nilai historis yaitu menceritakan kejadian masa lampau.
Kemudian, nilai magis religius ditandai dengan upacara dan ritual adat. Secara simbol, lembing yang dilempar mengenai lawan hingga berdarah diyakini sebagai pertanda bahwa alam dan tanah akan menghasilkan tanaman yang subur.
“Tidak ada permusuhan dalam atraksi pasola. Yang ada itu bagaimana keahlian menunggangi kuda dan melempar lembing,” tutur Semuel.
Pemerintah Sumba Barat, dia melanjutkan, mendukung kegiatan tersebut untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Terlebih, pendapatan asli daerah (PAD) Sumba Barat pada 2025 paling tinggi dari sektor pariwisata.
“Otomatis pemerintah mendukung sepanjang pasola itu fair play, tidak ada unsur balas dendam, dan tidak ada kekerasan. Kemudian yang laksanakan pasola itu agama lokal di Sumba Barat sehingga kami maksimalkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” terang Semuel.
Semuel mengingatkan warga untuk menghindari minuman keras (miras), kekerasan, dan tidak saling dendam saat atraksi pasola berlangsung. Ia juga mengimbau warga agar saling menjaga dan tidak menggunakan senjata tajam.
“Kalau mau menghormati budaya ya harus menghindari kekerasan, miras dan sebagainya karena pasola itu adu ketangkasan bukan saling baku bunuh,” pungkas Semuel.






