Buleleng –
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng kembali menghadirkan Parade Budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-422 Kota Singaraja. Kegiatan ini kembali digelar setelah sempat vakum hampir tujuh tahun.
Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan parade tahun ini akan mengangkat kisah perjalanan tokoh pendiri Buleleng, Ki Barak Panji Sakti, yang divisualisasikan dalam bentuk fragmentari budaya.
“Parade ini akan menampilkan fragmentari mulai dari kelahiran Ki Barak Panji Sakti, masa kecil beliau, perjalanan ke Den Bukit, mendirikan Kerajaan Buleleng hingga mencapai masa kejayaan kerajaan,” kata Sutjidra.
Menurutnya, kisah perjalanan tersebut dibagi menjadi sembilan episode yang akan dibawakan oleh masing-masing kecamatan di Kabupaten Buleleng.
Sembilan kecamatan yang terlibat yakni Gerokgak, Seririt, Busungbiu, Banjar, Sukasada, Buleleng, Sawan, Kubutambahan, dan Tejakula. Setiap kecamatan akan menjadi penanggung jawab satu episode perjalanan sejarah tersebut.
Selain menampilkan fragmentari perjalanan Ki Barak Panji Sakti, parade budaya juga akan menampilkan berbagai potensi lokal dari tiap kecamatan. Salah satunya berupa gebogan berisi hasil pertanian dan perkebunan khas daerah masing-masing. Masyarakat juga akan mengenakan pakaian adat khas dari desa-desa tertentu.
Sutjidra menjelaskan, pemilihan kisah sejarah Ki Barak Panji Sakti sebagai tema utama parade bukan tanpa alasan. Hal tersebut dimaksudkan agar masyarakat tidak melupakan sejarah lahirnya Kota Singaraja.
“Kami sudah diskusi panjang dengan tim. Kami ingin seperti pesan ‘jas merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Apalagi kami juga sedang menata kawasan heritage di Kota Singaraja,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa gagasan tersebut telah dikomunikasikan dengan keluarga besar puri yang merupakan keturunan Ki Barak Panji Sakti yang tergabung dalam Paiketan Puri Trah Tunggal Panji Sakti.
Menurutnya, keluarga besar puri memberikan apresiasi terhadap rencana parade budaya tersebut.
“Setelah kami berdiskusi dengan keluarga besar puri, mereka sangat mengapresiasi kalau parade ini dilakukan,” katanya.
Sementara itu, persiapan parade disebut telah dimatangkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng. Para camat menjadi penanggung jawab pelaksanaan di tingkat kecamatan, sementara koordinasi keseluruhan berada di bawah dinas terkait.
“Tiap kecamatan sudah siap dengan episodenya masing-masing. Jadi tinggal pelaksanaan saja,” imbuh Sutjidra.
Pada peringatan HUT ke-422 Kota Singaraja tahun 2026 ini, Pemkab Buleleng mengusung tema “Bhinneka Shanti Jagadhita.”
Tema tersebut memiliki makna bahwa Singaraja merupakan kota yang menjunjung tinggi keberagaman budaya, agama, dan etnis (Bhinneka), menjaga kedamaian dan keharmonisan (Shanti), serta mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bersama (Jagadhita).
“Harapannya, Singaraja tetap menjadi kota yang menjaga keberagaman, kedamaian, dan keharmonisan demi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Selain parade budaya, sejumlah kegiatan lain juga digelar untuk memeriahkan HUT ke-422 Kota Singaraja.
Kegiatan diawali dengan jalan sehat yang telah dilaksanakan pada Jumat (6/3/2026). Kegiatan ini melibatkan ASN Pemkab Buleleng, personel TNI-Polri, pelajar, mahasiswa, ASN instansi vertikal, serta masyarakat umum.
Pemkab Buleleng juga menggelar Lomba Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber yang menyasar rumah tangga di tingkat desa. Lomba ini bertujuan mengoptimalkan gerakan pengelolaan sampah dari sumbernya sesuai instruksi Gubernur Bali.
Selain itu, akan digelar Singaraja Run 2026 yang mengambil titik start di Pelabuhan Tua Buleleng. Lomba lari sejauh 7 kilometer (km) ini akan melintasi sejumlah ruas jalan di kawasan Kota Singaraja dan terbuka bagi masyarakat umum maupun ASN.
Ada pula Lomba Ngelawar yang diikuti perwakilan masyarakat dari masing-masing kecamatan. Kegiatan ini digelar untuk melestarikan tradisi kuliner khas Bali di tengah masyarakat.
Sementara itu, Malam Peringatan HUT Kota Singaraja akan berlangsung selama tiga malam pada 28-30 Maret 2026 di Taman Bung Karno. Dalam rangkaian acara tersebut akan ditampilkan berbagai kesenian tradisional dan modern yang melibatkan seniman lokal Buleleng.
Salah satu penampilan utama yakni Gong Legendaris mebarung. Selain itu, Sanggar Seni Dwi Mekar juga akan menampilkan oratorium tarian kolosal yang melibatkan sekitar 150 penari dengan fragmen perjalanan Ki Barak Panji Sakti saat menyerang Kerajaan Blambangan.
Pada malam pertama akan ditampilkan Joged mebarung, sementara Smarandana dan Bondres kolaborasi akan tampil pada malam terakhir. Penyanyi Bali Bagus Wirata dijadwalkan hadir sebagai bintang tamu dalam rangkaian acara tersebut.






